Telepati

Oleh: Tussie Ayu

Suatu malam, saya bermimpi berenang di Laut Baltic. Laut Baltic yang ada dalam mimpi saya adalah laut yang tenang dan luar biasa dingin. Bongkahan es berserakan, tapi saya harus berenang menyusurinya. Ketika terbangun, saya langsung menelepon RJ.

“Yang, tadi malem aku mimpi berenang di Laut Baltic. Tapi aku ngga tau, Laut Balitic itu ada di mana siy?”

Dia tertawa karena saya tidak tahu di mana letak Laut Baltic. “Laut Baltic itu ada di Utara, sekitar Norwegia,” katanya.

Malam lainnya, saya bermimpi berjalan-jalan ke Serbia, lalu melintasi perbatasan dengan jalur darat menuju Islandia. Lalu saya menceritakan mimpi saya pada RJ. RJ lalu tertawa lagi. “Serbia dan Islandia itu ngga berbatasan,” katanya.

Saya memang banyak melewatkan pelajaran geografi. Itu adalah salah satu pelajaran yang saya benci ketika SMA. Bahkan di dalam mimpi, pengetahuan saya tentang peta dunia benar-benar payah. Sedangkan RJ, dia selalu tahu di mana letak setiap jengkal pulau yang ada di seluruh dunia. Barangkali waktu SD dia pernah menelan bola dunia bulat-bulat.

Lain hari, kami berjalan-jalan ke toko buku. Saya lalu menghapiri buku History of Java, dan membaca sekilas isinya. Lalu RJ menghampiri saya, dia mengatakan,

“Oh, Raffles itu nulis buku juga ya?”
“Ha?” kata saya sedikit bengong. “Emangnya kamu ngga tau? Ini kan buku Raffles yang terkenal banget. History of Java. Emang waktu SD kamu ngga diajarin sama gurunya kalo Raffles juga nulis buku?”

Saya begitu heran, mengapa RJ tidak tahu kalau Sir Thomas Stanford Raffles pernah menulis buku yang begitu penting buat bangsa ini.

“Aku udah lupa,” katanya.
“Ow…tapi at least, kamu tau kan Raffles itu siapa?”

Lain waktu, RJ pernah mengucapkan kalimat, “Maju ke depan”. Saya bilang, dia menggunakan majas pleonasme.

“Apa itu majas pleonasme?” katanya.

Saya tertawa mendengarnya, “Ayang, itu kan pelajaran kelas 1 SMP. Majas pleonasme itu menggunakan kata-kata yang ngga perlu. Misalkan maju ke depan, mundur ke belakang. Kan kalo maju udah pasti ke depan, mundur pasti ke belakang,”

“Aku ngga suka pelajaran Bahasa Indonesia,” kata dia singkat.

Uhmmm…dalam beberapa hal kami memang memiliki perbedaan. Kami berminat pada bidang yang berbeda. RJ sangat pintar di Geografi, sedangkan saya selalu suka sastra dan sejarah.

Tapi sebenarnya persamaan kami lebih banyak daripada perbedaannya. Kalau soal selera makan, kami berdua pasti cocok. Cuma beberapa jenis makanan yang kami tidak sepakat. RJ sangat anti dengan segala makanan yang mengandung petis. Padahal ibu saya asli Jawa Timur. Saya dan ibu saya adalah pecinta sejati makanan Jawa Timuran, tentunya termasuk makanan apapun yang dicampur petis.

Selain itu, RJ benci segala jenis bawang. Sementara saya suka dengan semua jenis bawang. Setelah memakan acar bawang merah, saya suka menghembuskan aroma mulut saya ke hidung RJ. Itu akan membuat dia marah besar, dan saya akan tertawa lebar.

Lain waktu, RJ membawakan sotong pangkung dari kampung halamannya, Pontianak. Sotong pangkung adalah makanan yang terbuat dari cumi-cumi yang ditumbuk hingga tipis. Kemudian cumi-cumi itu diberi bumbu dan diasapi. Sebelumnya RJ sudah sering mempromosikan kelezatan sotong pangkung itu. Saya pun sangat antusias untuk mencoba makanan yang dipromosikan RJ itu.

Suatu hari, RJ pulang dari Pontianak dan membawakan saya dan keluarga sekantong sotong pangkung. Tapi ketika saya mencobanya, ugh. Saya menjaga mimik muka saya agar tetap normal. Itu karena saya menghargai warisan kuliner dari kampung halaman RJ. Padahal sesungguhnya saya ingin sekali menyemburkan makanan itu dari mulut saya.

Sotong pangkung itu lebar dan tipis seperti jaring. Warnanya merah kejingga-jinggaan. Ketika masuk ke mulut, rasanya lembek, manis, asam, pedas dan yang membuat saya tidak tahan adalah bau amisnya sangat tajam. Entah rempah apa yang merasuk di dalamnya, yang pasti Papa saya taubat makan sotong pangkung itu. Mama saya terpaksa harus menjemur dan menggorengnya agar tidak berbau terlalu amis. Akhirnya, di rumah saya tidak ada yang sanggup menghabiskannya.

Itu makanan yang tidak kami sukai. Tapi di luar petis, bawang dan sotong pangkung, selera makan kami sama persis. Misalkan kami sama-sama suka kwetiaw goreng. Sudah banyak kwetiaw goreng yang masuk ke perut kami. Tapi dari semua itu, kami sepakat kwetiaw goreng di restoran Canton Bay yang ada di Plaza Senayan adalah yang paling maknyusss. Tapi kwetiaw PSP Kelapa Gading juga tidak boleh diremehkan. Itu salah satu kwetiaw yang paling enak di Jakarta.

***

Di balik persamaan dan perbedaan itu, saya selalu percaya kalau saya dan RJ punya telepati. Sudah tidak terhitung berapa kali kami saling ber-sms pada saat yang bersamaan. Saya kadang terkaget-kaget, karena sms yang baru saya kirimkan ke RJ sepersekian detik yang lalu, tiba-tiba sudah ada jawabannya. Ternyata pada saat yang bersamaan, RJ mengirimkan sms pada saya dengan topik atau pertanyaan yang persis sama.

Bahkan pernah juga beberapa kali, saya menelepon RJ tanpa nada sambung sama sekali. Karena sebelum nada sambung itu berbunyi, RJ sudah memegang HPnya untuk menelepon saya.

Selain itu, biasanya kami tidak bisa pisah berlama-lama. Sewaktu saya harus meliput United Nation Frameworks Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali selama 2 minggu, RJ sakit selama beberapa hari. Anehnya ketika saya pulang, dia langsung sembuh seketika. Pernah juga kami sakit di saat yang bersamaan.

Saya juga pernah liputan ke Bandung hanya untuk dua hari. Beberapa jam setelah saya pergi, RJ tiba-tiba mengeluh sakit radang tenggorokan dan panas dalam. Saya berkali-kali menelepon dan meng-sms dia untuk memastikan kalau sakitnya tidak bertambah parah.

Rieka Rahadiana, teman saya dan RJ dari Koran Tempo, akhirnya gatal juga untuk bertanya.
“Kenapa sih dari tadi telpon-telpon RJ terus? Kenapa si RJ?”
“Iya niy, dia lagi sakit. Radang tenggorokan sama panas dalem” kata saya.
“Ah, paling cuma manja aja tuh,” kata Rieka sambil cengengesan.

***

Cerita terkait:

Tagged as:

Leave a Response

Current ye@r *