Show Fantastis di Friedrichstadtpalast Berlin

Oleh: Tussie Ayu

Pertama kali dalam hidup, saya menonton kabaret sesungguhnya. Tarian modern memikat, skating yang dinamis, trapeze yang mendebarkan, nyanyian memesona, orkestra memukau, hingga komedi yang mengocok perut, semua ada dalam pertunjukan bertajuk “Qi” di Friedrichstadtpalast, Berlin, Jerman.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Berlin bulan Juni lalu, saya sudah berniat untuk menyaksikan langsung petunjukan kabaret. Pasalnya, Berlin adalah kiblat dunia untuk pertunjukan ini. Berlin memiliki segalanya: seniman-seniman berbakat, gedung kelas dunia, dan tentunya dana untuk pertunjukan.

Namun demikian, banyak orang yang ragu untuk menyaksikan pertunjukan ini di Berlin. Mereka takut tidak akan mengerti lakon yang akan dipertontonkan. Karena Jerman adalah negara yang terkenal dengan keengganannya untuk menggunakan bahasa Inggis. Tapi kabaret di Berlin adalah soal lain. Ternyata ini adalah pertunjukan minim bahasa. Tarian, nyanyian dan hiburan mendominasi show yang berdurasi tiga jam ini. Jadi, jangan takut dengan kendala bahasa, manusia berbahasa apapun dijamin akan mengerti pertunjukan ini.

Tiket untuk menonton “Qi” di gedung pertunjukan Friedrichstadtpalast tergolong mahal untuk kantong orang Indonesia. Di hari kerja, harga dibanderol mulai dari 18 Euro (Rp 261.000) hingga 98 Euro (Rp 1.372.000). Sedangkan di akhir pekan, harga dibanderol 20 Euro (Rp 290.000) hingga 101 Euro (Rp 1.464.500).

Pukul 19.30 waktu setempat, kami memasuki gedung pertunjukan Friedrichstadtpalast. Friedrichstadtpalast adalah panggung teater terbesar di dunia dengan ruang pertunjukan seluas 2,800 meter persegi dan mampu menampung 1,895 orang dalam setiap pertunjukannya. Lebih dari 600,000 orang mengunjungi gedung ini tiap tahunnya.

Friedrichstadtpalast (Friedrichstadtpalast.de/Nina Mallman).

Friedrichstadtpalast (Friedrichstadtpalast.de/Nina Mallman).

Pertunjukan diawali dengan sepasang kekasih yang tidak bosan-bosan mengocok perut penonton dengan tingkah polahnya. Kemudian setting panggung segera berubah. Ada lingkaran besar di tengah panggung. Lingkaran ini kemudian perlahan-lahan merosot semakin dalam dan membentuk lubang besar di tengah panggung. Kemudian dari sisi lubang itu mengalir air dan dalam sekejap lubang itu berubah menjadi kolam.

Kemudian teratai buatan muncul di tengah kolam. Dan penari-penari wanita gemulai bermunculan dari belakang panggung. Pakaiannya berwarna hijau, punggung mereka dihiasi bulu-bulu panjang hijau yang membuat semakin semarak. Mereka menari di bibir kolam. Musik menghentak-hentak, dan penonton terkesima melihatnya.

Lalu penari-penari menawan itu kembali ke dalam panggung, dan air yang berada di kolam menyusut. Sebuah lapisan panggung menutupi lapisan sebelumnya, dan kini lantai kembali kering layaknya panggung pertunjukan biasa.

Seorang pria keluar dari belakang panggung. Pria ini adalah pesulap yang mempertontonkan kebolehannya. Pesulap ini menghilangkan seorang gadis yang berada di dalam bongkahan es besar. Kemudian gadis ini tiba-tiba muncul di sisi lain panggung dengan baju yang sudah berubah. Berbagai atraksi sulap lain juga dia tampilkan, seperti membuat seorang gadis melayang dan bermain-main dengan api.

Usai si pesulap beraksi, setting panggung berubah lagi. Lapisan panggung bergerak ke belakang panggung, dan berganti dengan lapisan baru. Lapisan baru ini ternyata adalah es! Kemudian pemain skating satu per satu merubungi panggung, menari dan meluncur di atas es.

Kemudian pemain skating kembali masuk ke belakang panggung. Lapisan es lalu beringsut mundur, digantikan dengan lapisan lantai panggung biasa. Lagu “Swan Lake” karya Tchaikovsky mengalun lembut. Penonton terkecoh. Ketika mendengar lagu ini, saya membayangkan penari balet dengan lakon “Swan Lake” akan muncul. Ternyata beberapa gadis muncul di atas panggung dengan kostum balet “Swan Lake” putih dan rok mengembang. Alih-alih menari balet, mereka mengendarai sepeda dengan kostum balet “Swan Lake”! Dengan sepeda, mereka menari dan membentuk formasi yang indah.

Penari "Swan Lake" (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus).

Penari "Swan Lake" (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus).

Yang juga menarik dari pertunjukan ini adalah ketika dua orang gadis menari duet. Mereka menari di bawah hujan di atas panggung. Tentu saja ini bukan hujan sungguhan. Panggung ini juga dilengkapi dengan “shower” raksasa yang menciptakan hujan. Hujan ini bukan hujan biasa, karena air yang mengalir ikut menari bersama hentakan musik dan dua gadis itu. Sesekali air hujan membentuk tulisan “Qi”.

Duet penari di tengah hujan buatan (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus).

Duet penari di tengah hujan buatan (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus).

Menjelang akhir pertunjukan, setting panggung kembali diubah. Beberapa pria secepat kilat membentangkan jaring dan tali, juga menegakkan tiang-tiang. Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, arena trapeze telah tercipta di atas panggung. Bebeapa pria dan wanita kemudian asyik menggelantung di trapeze, melompat dari satu tali ke tali yang lain.

Pertunjukan lalu ditutup dengan nyanyian dan tarian yang ditampilkan bersama. Penyanyi solo wanita bernyanyi dengan dikelilingi puluhan penari lelaki dan perempuan. Hingga keluar dari gedung pertunjukan, alunan musik itu masih terngiang di telinga saya. Selama tiga jam pertunjukan, tidak sedetik pun saya merasa bosan. Mata saya tidak rela berpaling dari pertunjukan ini meski untuk satu detik. Hanya ada satu kata untuk pertunjukan ini: “Fantastis”!

Link Terkait:

Tagged as:

Leave a Response

Current ye@r *