Praha, Lebih Indah dari Impian

Oleh: Tussie Ayu

(Bagian I dari IV Tulisan)

Akhirnya hari itu datang juga. Saya dan lima orang teman saya yang berasal dari negara-negara berbeda pergi ke Praha. Praha adalah ibukota dari negara yang namanya paling membingungkan menurut saya, apakah namanya Cheszk, Cek Republik, Ceko, atau Ceska. Para ahli bahasa, tolong beri saya informasi nama baku negara ini dalam Bahasa Indonesia.

Untuk sementara, saya akan menggunakan sebutan Republik Cek atau dalam bahasa Inggris Czech Republic. Saya tidak setuju dengan penggunaan sebutan “Ceko”, karena kata “Ceko” berasal dari “Ceko Slovakia”. “Cek-o Slovakia” berarti “Cek dan Slovakia”, jadi huruf “o” itu berarti “dan”. Kini Ceko Slovakia telah memisahkan diri, jadi sedikit aneh jika kita menyebutnya dengan sebutan “Ceko”, karena itu berarti “Cek dan”. Sebutan Ceska juga saya pikir tidak tepat, karena dalam suatu artikel yang pernah saya baca di Kompas, Ceska itu berarti “perempuan Cek”. Tidak adil jika kita mengeneralisasi negara ini menjadi sebuah negara perempuan. Jadi itulah alasan mengapa saya lebih senang menyebut negara ini sebagai Republik Cek.

Sebenarnya Praha tidak masuk dalam daftar kota yang ingin saya datangi selama dua bulan di Berlin. Sebelumnya, saya merencanakan akan berkunjung ke Amsterdam, Venice atau Roma dan Paris. Setidaknya saya ingin mengunjungi tiga negara lain selain Jerman, yaitu Belanda, Italia dan Perancis.

Tapi ternyata tiket pesawat dari Berlin-Amsterdam dan Berlin-Paris cukup mahal. Saya pikir, saya tidak punya cukup uang untuk ke Paris dan Amsterdam sekaligus. Saya harus memilih salah satu saja di antara kota-kota mahal itu. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke Paris. Karena sejak lama saya ingin sekali ke Museum Louvre, museum terbesar di dunia. Sebagai pengganti Amsterdam, saya memutuskan untuk pergi ke Praha. Karena Republik Cek adalah negara yang paling dekat dengan Berlin, berbatasan langsung dengan Jerman di sebelah timur.

Pada hari Sabtu, 4 Juli 2009, kami berangkat ke Praha. Perjalanan dimulai pukul 08.30 pagi waktu Berlin. Kami memutuskan untuk naik bus EuroLines dari terminal bus internasional di Kaisserdamm. Kami memutuskan naik bis karena harganya jauh lebih murah daripada naik pesawat. Selain itu, saya bisa menikmati keindahan pedesaan Eropa dengan bus.

Kami nyaris saja terlambat tiba di terminal. Maklumlah, kami semua berasal dari bangsa pendatang yang bepergian di Berlin hanya bermodalkan peta. Kami tiba di terminal bis internasional di Kaisserdam pukul 08.20, hanya menyisakan waktu sepuluh menit sebelum bis berangkat. Tidak ada istilah ngaret dalam sistem transportasi di Jerman, siapapun yang terlambat datang, akan ditinggal tanpa ampun!

Jadi ketika kami memasuki bis, hampir semua kursi telah diduduki. Kami ber-6 terpaksa duduk terpisah. Saya sendiri kebagian duduk di kursi yang bersebelahan dengan toilet. Untuk pertama kalinya selama di Jerman, saya mencium bau busuk dari dalam toilet. Persis sama seperti bau busuk toilet di bis antar kota Indonesia. Saya berdoa semoga aroma itu tidak mengocok isi perut saya dan memaksanya untuk keluar. Kemudian saya memejamkan mata dan tidur. Lebih baik tidur sebelum aroma ini meluluhlantakkan isi perut saya.

Tiga jam pertama perjalanan, saya lebih banyak tidur. Tidak banyak pemandangan yang bisa dinikmati dari jalan tol Autobahn. Saya baru bangun ketika bis memasuki kota Dresden.

Dresden adalah kota yang senyap. Dari kejauhan, saya bisa melihat jembatan dan bangunan-bangunan tua yang indah. Bis kami berhenti selama 15 menit untuk istirahat makan siang. Saya pikir Dresden adalah kota yang indah, tapi itu sebelum saya tiba tiba di Praha. Kelak, definisi tentang keindahan kota tua dalam benak saya akan meningkat beberapa derajat setelah mengunjungi Praha.

Mendekati perbatasan dengan Republik Cek, saya melihat barisan rumah pedesaan yang berbaris di lembah perbukitan. Ingatan saya melayang pada masa kecil, dimana saya dengan rakus melahap buku-buku Enid Blyton dan Astrid Lindgren. Kiranya Blyton dan Lindgren tidak berbohong dengan apa yang mereka gambarkan dalam buku cerita anak-anak itu.

Rumah-rumah pedesaan di Eropa memiliki setidaknya satu cerobong asap. Atapnya berwarna warni ceria. Ada beberapa jendela yang menyembul di loteng berbentuk segitiga lancip. Tidak ada pagar dan pembatas dengan para tetangga. Padang rumput dan pebukitan menjadi bagian dari halaman rumah. Benar-benar seperti tempat tinggal kurcaci di dongeng Nyonya Blyton.

Ketika memasuki perbatasan Republik Cek, mata saya semakin terbelalak. Rumah-rumah pedesaan di Dresden belum seberapa indahnya dibandingan dengan rumah di pinggiran Republik Cek. Saya tidak terlalu memahami, sedang berada di mana saat itu? Tapi saya perkirakan, saya sedang berada di daerah Aussig.

Rumah-rumahnya mirip dengan yang ada di Dresden. Namun rumah-rumah ini memiliki sungai di halaman depannya, dan ada pebukitan di halaman belakangnya. Di sela pepohonan di atas bukit, berbaris rapi rumah-rumah mungil. Apa yang terjadi jika saya mengetuk pintunya? Mungkinkah yang membukakan pintu adalah seorang peri, kurcaci, atau jembalang?

Setelah lima jam perjalanan dengan bis, akhirnya saya tiba di stasiun Florenc (baca: Florens) Praha. Saya dan teman-teman senang sekali! Kami ada di Praha!!! Saya dan teman-teman lalu melompat-lompat kegirangan dan berfoto ria.

Terminal bis Florenc, Praha

Terminal bis Florenc, Praha

Dari stasiun, saya naik kereta bawah tanah Metro A, hanya satu pemberhentian ke stasiun Muzeum. Kemudian kami keluar dari stasiun bawah tanah dan menuju halte tram terdekat. Hanya satu pemberhentian, tibalah kami di halte Husinecka. Kami berjalan sekitar 300 meter dari Halte Husinecka.

Struktur tanah di Praha didominasi pebukitan. Kami pun berjalan menyusuri jalan bebatuan yang naik dan turun. Lalu sampailah di Hostel Prague One, tempat kami menginap. Hanya sekedar meletakkan barang-barang, kami lalu memulai perjalanan. Siap untuk bertualang lagi!

***

Cerita terkait:

Tagged as:

4 Comments

  1. Tus, enak bgt sih bo….gwe jg lagi bikin blog jalan2 tp kacrut cuma dalam negeri n merambah ke negara tetangga aja, hahaha…btw..pipis org Eropa bau juga? kirain wangi,,,,hahaha lebayyy…

  2. eh, blog lo apaan? mau donk liat..ayo kita bikin web jalan2!!! gw siy blm pernah nyium pipis orang eropa, tapi toiletnya siy biasanya wangi..toilet yg di bis itu doang yg bau hihihi..

  3. Cong..

    Enak banget lo jalan melulu ye pas disana…

    Irinyaa..

  4. ya iyalah hehehe

Leave a Response