Nyaris Tidak ke Paris

(Bagian I dari IV Tulisan)

Mungkin sebagian besar orang bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Paris, kota yang konon katanya paling indah dan romantis. Kota yang menjadi simbol keanggunan dan kemewahan. Kota dimana Marie Antoinnete pernah hidup dengan keglamourannya. Pusat mode dan seni di dunia.

Saya adalah salah satu orang yang terpedaya dengan cerita-cerita tentang Paris. Saya bermimpi tentang Paris, tentang Louvre, tentang Versailles, tentang liukan Sungai Seine yang telah saya baca sejak kanak-kanak.

Ketika saya tiba di Eropa, saya bertekad dengan sepenuh hati untuk bisa ke Paris. Dan ini cerita ketika pertama kali saya melawat ke Paris. Perjuangan melelahkan yang merogoh kocek cukup dalam. Dan ah…saya bisa katakan pada kalian. Ternyata Paris tidak seindah bayangan saya, setidaknya..itulah menurut saya.

***

Minggu kelima saya di Jerman adalah minggu yang sangat berat. Pekan ini pelajaran di kelas menuntut perhatian penuh. Dalam satu minggu, kami membuat audio slideshow, membuat liputan video dan belajar mengedit video.

Selain itu pada minggu ini juga, tepatnya tanggal 8 Juli 2009, bangsa Indonesia merayakan hajatan demokrasi terbesar, yaitu pemilihan Presiden. tvOne, media tempat saya bekerja, telah berbaik hati mengizinkan saya untuk meninggalkan pekerjaan di Jakarta selama dua bulan. Tapi mereka hanya meminta satu hal: saya harus meliput pemilihan umum di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin.

Saya sudah mempersiapkan dengan matang peliputan pemilu ini, bahkan sejak di Jakarta. Namun sayangnya, pada hari H pemilu, IIJ tidak mengizinkan saya untuk meninggalkan kelas. Tapi untunglah staf KBRI Berlin sangat kooperatif dan membantu. Singkat cerita, dengan berpontang panting dan dukungan penuh para staf di KBRI Berlin, saya berhasil melakukan peliputan pemilu tanpa meninggalkan kelas. Tugas-tugas saya di kelas dan dalam peliputan pun terselesaikan dengan baik.

Namun tetap ada konsekuensi dari minggu yang berat ini. Saya merasa sangat lelah dan hampir saja jatuh sakit. Padahal akhir minggu ini saya sudah membeli tiket liburan ke Paris. Paris menjadi semangat saya. Saya harus ke Paris, karena itu saya tidak boleh sakit!

Hari Sabtu, 11 Juli 2009, saya dijadwalkan akan berangkat ke Paris. Meskipun sehari sebelumnya saya tiba di apartemen sudah malam dan dengan badan lelah, saya tetap menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Paris dengan semangat. Saya, Maricel dan Van akan berangkat ke bandara pukul 05.00 pagi. Saya harus bangun sekitar pukul 04.00. Saya mengatur alarm di handphone dan tertidur dengan pulas.

***
Kring…kring..kring…

Apakah itu bunyi alarm? Ya, mungkin itu bunyi alarm, pikir saya sambil membuka mata sedikit. Tapi sepertinya bunyi alarm handphone saya bukan seperti itu.

Kring..kring..kring…

Saya menggeliat sedikit. Dimana saya berada? Sepertinya saya berada di kamar saya yang nyaman di Jakarta.

Kring..kring..kring…

Saya melompat bangun.
Ini bukan kamar saya di Jakarta.
Oh ya! Saya baru ingat!
Saya kan sekarang sedang berada di Berlin.
Dan…hari ini…saya harus ke Paris!!!

Kring..kring..kring…

Ternyata itu bukan bunyi alarm, tapi bunyi bell apartemen saya. Seseorang membunyikan bell apartemen saya! Itu pasti Maricel! DAN SAYA PASTI TERLAMBAT BANGUN!

“Wait a minute Maricel, WAIT!!!, teriak saya sambil berlari menuju pintu dan membuka pintu untuk Maricel.

“OH MY GOD, MARICEL. WHAT TIME IS IT??!! Tanya saya pada Maricel.
“Tussie, are you just wake up? It’s 5.00 o’clock. We have to go now! Kata Maricel.
“OH MY GOD! Ok Maricel wait for me..just five minutes, ok. I just change my clothes.” Kata saya sangat panik.
“Ok, I will go downstairs. I’ll check if Van already wake up or not,” kata sahabat saya yang berasal dari Filipina itu.

Saya seperti gila! Saya hanya mencuci muka dan menyikat gigi sekenanya. Mengganti baju dan celana, membawa tas ransel yang sudah dipersiapkan, memakai sweater tipis, mantel, syal, dan siap berangkat!

Hanya dalam waktu lima menit, saya sudah siap dan berlari ke lantai satu. Di lantai satu, Maricel dan Van sudah menunggu saya.

“Come on Tussie, we have to run. It takes about 15 minutes to Osloer Strasse, and we have to take the U-Bahn at 05.20.” kata Maricel.
Oh ya, Osloer Strasse adalah stasiun kereta bawah tanah terdekat dari apartemen kami. Dan U-Bahn adalah sistem kereta api bawah tanah di Jerman.

Di tengah udara dingin, kami berlari-lari mengejar U-Bahn. Ini memang musim panas di Jerman. Tapi angin utara selalu saja menghembuskan udara dingin yang membuat menggigil, terutama pagi hari seperti ini.

Matahari merajai negara-negara khatulistiwa seperti Indonesia. Saat ini saya merindukan kehangatan Indonesia yang selalu ada sepanjang tahun. Dimana saya bisa berjalan-jalan dengan kaus oblong satu lapis, memakai celana pendek dan sendal jepit. Tapi kini, saya harus berlari-lari mengejar U-Bahn dengan kaus, sweater, mantel dan syal. Sungguh tidak praktis.

Kami tiba di Osloer Strasse pukul 05.17. Petunjuk waktu di stasiun menuliskan kereta bernomor U9 yang menuju Rathaus Steglitz akan datang 3 menit lagi. Ah..tepat pada waktunya!

***

Cerita Terkait:

Tagged as:

Leave a Response

Current ye@r *