Pertemuan Kedua Dengan Harry Poeze

Hari ini, saya kembali bertemu dengan Harry Poeze. Poeze adalah peneliti kebangsaan Belanda yang sudah 30 tahun meneliti tentang Tan Malaka. Pertemuan dengannya kali ini adalah yang kedua. Saya cukup beruntung, karena bekerja di tempat-tempat yang peduli untuk “memperkaya” isi kepala para pekerjanya. Pertemuan pertama saya dengan Poeze adalah tahun 2007 di Jurnal Nasional. Saat itu, saya memang bekerja di Jurnal Nasional dan Poeze dibawa ke kantor oleh Bonnie Triyana.

Hampir tujuh tahun kemudian, saya bertemu lagi dengannya…di kantor yang berbeda, kali ini di Kompas TV  Tapi cerita yang dibawanya tetap sama: Tan Malaka.

Berikut adalah tulisan saya di Jurnal Nasional tanggal 25 Juli 2007:

MENGUAK MISTERI PEMBUNUHAN TAN MALAKA

tan malaka

Awal tahun 1949, markas Tan Malaka di Pace, Jawa Timur disergap oleh tentara. Namun karena ada serangan Belanda dari utara, pasukan TNI ditarik untuk menghalau Belanda. Maka dibebaskanlah Tan Malaka dan 60 orang pengikutnya.

Tokoh kontroversial ini bersama pengikutnya melarikan diri ke selatan Jawa Timur. Dalam perjalanan, mereka ditembaki. Kemudian mereka membagi rombongan menjadi empat bagian. Tan Malaka dan empat orang pengikutnya pergi ke Tulung Agung, mengharapkan masih ada batalyon tentara di sana yang masih bersimpati pada mereka.

Untuk menuju Tulung Agung, bukanlah rute yang mudah. Mereka harus melewati lereng Gunung Wilis yang masih berupa hutan rimba. Setelah dua hari berjalan, mereka disergap di suatu desa kecil bernama Selo Panggung. Penyergapnya adalah sebuah satuan kecil yang terdiri dari lima orang. Pemimpinnya hanya seorang berpangkat letnan dua.

Si letnan dua kemudian memerintahkan bawahannya untuk menembak mati Tan Malaka. Pada hari itu, 21 Februari 1949, Tan Malaka gugur. Jasadnya dibenamkan di hutan dalam sebuah desa bernama Selo Panggung. Kini, daerah ini telah menjadi area persawahan. Bahkan ada perumahan juga dekat peristirahatan terakhirnya yang hilang.

Teori kematian Tan Malaka ini diungkapkan oleh Harry A. Poeze. Dalam kunjungannya ke Jurnal Nasional, Selasa (24/7) lalu, ia menguak dengan gamblang peristiwa pembunuhan yang hingga kini masih samar.

Poeze menulis buku berjudul “Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesiche Revolutie, 1945 – 1949” setebal 2200 halaman, dalam tiga jilid. Dalam bahasa Indonesia, ini berarti Dihujat dan Dilupakan, Tan Malaka Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945 – 1949.

“Saya yakin 99 persen bahwa versi ini adalah benar,” katanya dalam bahasa Indonesia. Menurutnya, ia telah berkeliling ke empat benua untuk mengumpulkan data dalam buku ini. Sejumlah tokoh partai Murba seperti Bambang Singgih telah diwawancarainya. Ia juga mewawancarai dua orang pengikut Tan Malaka yang mengantarnya hingga menjemput ajal.

Lalu siapakah Letnan Dua yang memerintahkan penembakan itu? Menurut Poeze, ia adalah Letnan Dua Soekotjo. Pangkat terakhirnya sebelum pensiun dari keanggotaan TNI adalah Brigadir Jenderal. Soekotjo pernah menjabat sebagai Walikota Surabaya. Ia meninggal dunia pada tahun 1980-an.

Namun sayang, buku yang akan diluncurkan pada 30 Juli mendatang ini masih ditulis dalam bahasa Belanda. Bagi yang tidak bisa berbahasa Belanda, harus menunggu hingga dua tahun lagi untuk membacanya dalam bahasa Indonesia.

====================================================

Harry Poeze di Kompas TV, 2014

Harry Poeze di Kompas TV, 2014

Tujuh tahun berlalu, ia mengawali ceritanya dengan narasi yang sama persis. Tapi yang membuat saya berjengkit, adalah ketika ia menceritakan penggalian makam (yang diduga makam Tan Malaka) di desa Selo Panggung. Peristiwa ini terjadi pada September 2009. Sebagai informasi tambahan, proses penggalian makam ini tidak mudah, karena harus mendapatkan izin dari pemerintah dan Departemen Sosial. Setelah meminta izin selama 1 tahun dan dengan pembiayaan dari Taufik Kiemas, akhirnya terlaksana penggalian makam ini.

Kemudian, Poeze mengajak kami untuk menonton film dokumenter singkat tentang proses penggalian makam . Dalam film, terekam bagaimana tim mengawali penggalian makam dengan berdoa bersama. Di sebuah makam kampung, yang di atasnya bertahtakan batu tanpa nama, dimulailah penggalian ini.

Kisah Poeze tentang hasil penggalian membuat kami terhenyak. Tidak banyak yang tersisa dari liang itu. Sebagian besar pakaian dan tulang belulang telah lebur dengan tanah. Yang dapat diambil sebagai bahan untuk tes DNA hanya serpihan gigi dan tulang yang sangat sedikit.

“Begitu sedikitnya, hingga bila kita letakkan di telapak tangan dan kita hembuskan, maka serpihan itu akan hilang tak bersisa.” Begitu cara Poeze menggambarkan jazad yang tersisa di bawah makam itu.

Namun demikian, penggalian tidak berakhir dengan nol besar. Tanah di dalam liang, masih membentuk jazad dan tengkorak jenazah yang pernah menghuninya. Menurut Poeze, jasad itu masih bisa diukur melalui tanah yang mendekapnya. Setelah diukur, dapat diketahui jasad yang tertanam adalah seorang laki-laki, tinggi badan 163 cm dan berusia sekitar 40-60 tahun. “Semua data ini cocok dengan Tan Malaka,” kata Poeze.

Terlebih lagi dari struktur tanah juga terlihat, jenazah dalam liang terkubur dengan posisi tangan terikat di belakang. Hal ini semakin memperkuat dugaan Poeze. “Saya yakin 90% kalau itu adalah makam Tan Malaka,” ujarnya.

Tapi tes DNA tetap harus dilakukan untuk memperkuat dugaan ini. Serpihan sisa tubuh Tan Malaka pun dibawa dr Jaya Surya Admaja untuk dilakukan tes DNS. Sample DNA keluarga Tan Malaka pun telah diterima dr Jaya.

Namun bulan demi bulan berlalu…bahkan tahun demi tahun terlewati. Hasil tes DNA itu tak juga diketahui. Menurut dr Jaya, ia telah membawa serpihan tulang yang digali dari desa Selo Panggung ke beberapa negara, namun tak ada satupun yang bisa melakukan tes DNA dari sample demikian. Setelah dilakukan pertemuan dengan keluarga Tan Malaka, akhirnya diputuskan antara dr Jaya dan keluarga Tan Malaka akan menempuh jalan berbeda demi membuka misteri ini. Penelitian DNA Tan Malaka tetap dilakukan dr Jaya, tapi keluarga akan menempuh jalan lain.

Kematian Tan Malaka masih menjadi misteri, seperti juga hidupnya yang misterius. Tapi segala sesuatu yang masih tertutup tabir, selalu menarik untuk disingkap. Nama Tan Malaka dihapus dari buku sejarah, tapi karena itulah dia menjadi terlalu menggoda untuk dipelajari.

Berapa banyak pemuda Indonesia yang mengetahui Tan Malaka? Saya pernah menonton suatu program berita di salah satu televisi swasta. Televisi ini membuat sebuah berita vox pop. Vox pop adalah nama salah satu jenis berita yang berasal dari istilah vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Dalam berita vox pop, reporter akan bertanya secara acak kepada masyarakat tentang pendapat mereka mengenai isu tertentu. Nah, si reporter kali itu bertanya tentang “Apa kamu tau siapa Tan Malaka?”. Salah satu jawaban yang membuat saya tertawa terbahak-bahak adalah jawaban yang seperti ini:
“Hmmm..ngga tau. Tan Malaka itu raja dari kerajaan Malaka ya?”.

Pesan dari cerita ini adalah: Ayolah..orang Belanda aja bela-belain meneliti Tan Malaka selama 30 tahun, bersusah payah mencari tau kematian dan makam Tan Malaka.

Tapi masa sih orang Indonesia ngga tau siapa Tan Malaka?

Tagged as: ,

Leave a Response

Current ye@r *