Pagi Tak Lagi Sama di Pakistan

Catatan peristiwa berdarah di Peshawar

 

Pagi itu, Selasa 16 Desember 2014, saya mengantarkan anak saya Shirin ke sekolah, melihatnya berlalu dan menghilang di balik gerbang. Setelah memastikan dia berada di dalam sekolah, saya kembali mengemudikan mobil dan pulang ke rumah.

Siang harinya, sekira pukul 13.00 waktu Karachi, saya menjemputnya. Pada hari itu Shirin mengikuti extra kurikuler tae kwon do. Dengan seragam tae kwon do mungilnya, dia berceloteh riang, bahwa dia sudah bosan dengan extra kurikuler ini. Dia lebih suka mengikuti kegiatan hip hop dance daripada beladiri. Saya mendengar cerita Shirin dan berjanji tidak akan menyuruhnya untuk ikut tae kwon do lagi.

Kami baru tinggal di Pakistan selama 6 bulan terakhir. Anak saya bersekolah di salah satu sekolah swasta di Karachi. Sebagian besar murid di sekolahnya adalah warga negara Pakistan, dan ada juga beberapa anak yang merupakan warga negara asing. Anak saya mulai menikmati sekolah di Karachi. Dia mempunyai banyak teman, dia belajar bahasa Inggris sekaligus bahasa Urdu. Dia bisa menghitung dalam bahasa Inggris dan bahasa Urdu, “One, two, three, four, five…ekk, doh, teen, char, panch,” kata Shirin ketika belajar berhitung.

Awalnya saya pikir, hari itu adalah hari yang biasa dan diisi dengan berbagai kegiatan rutin. Namun saya belum tahu, betapa beruntungnya saya dapat menjemput Shirin dalam keadaan ceria siang itu. Karena di ujung utara Pakistan, di tanah yang sedang sama-sama kami pijak, ratusan orang tua murid lain sedang menangisi kepergian anak-anak mereka.

Sesampainya di rumah, saya mendengar berita mengerikan itu. Army Public School di Peshawar diserang Taliban, saat itu jumlah korban tewas masih sekitar 40 jiwa, namun terus bertambah hingga akhirnya 142 orang tewas dalam peristiwa ini. Sekonyong-konyong, saya merasa lemas. Tak terbayangkan jika peristiwa serupa terjadi di sekolah Shirin. Tentu orang tua korban tewas melakukan hal yang sama seperti saya pagi tadi: mengantarkan anaknya ke sekolah. Namun siapa sangka ketika siang harinya, anak-anak mereka telah tewas bersimbah darah.

Karachi, kota tempat saya tinggal saat ini, sejatinya berada ratusan kilometer dari Peshawar. Karachi berada di wilayah selatan, paling ujung Pakistan yang berbatasan langsung dengan Laut Arab. Sedangkan Peshawar berada di bagian utara yang berbatasan langsung dengan Afganistan. Namun demikian, peristiwa ini mengguncangkan seluruh Pakistan.

Keesokan harinya, saya tidak berani mengantarkan anak saya ke sekolah. Bayangan tentang orang-orang bersenjata yang menghabisi nyawa anak tak berdosa masih terngiang dalam benak saya. Namun ada pula orangtua murid yang berpikir sebaliknya. Salah seorang teman saya bernama Sara Naqvi mengatakan, “Saya akan tetap mengantarkan anak saya ke sekolah. Hati saya hancur mendengar berita dari Peshawar. Tapi negara ini hanya bisa berubah melalui pendidikan. Apapun yang terjadi, saya akan tetap mengantarkan anak saya ke sekolah.”

Ada juga orang tua murid lain yang tidak setegar Sara. Kuba Hasnain mengaku merasa trauma dengan peristiwa di Peshawar. “Kita harus meminta pihak sekolah menambah personil keamanan. Saya tidak bisa melupakan peristiwa itu. Saya tidak mau mengantarkan anak saya ke sekolah lagi, itu sangat menakutkan,” ujarnya.

Sebagai informasi, sebelum peristiwa penyerangan sekolah di Peshawar, sebenarnya semua sekolah di Pakistan telah dijaga oleh petugas keamanan yang dilengkapi dengan senjata laras panjang. Sekolah anak saya pun dijaga dengan penjaga bersenjata laras panjang. Selain itu, anak yang berasal dari keluarga berada bahkan memiliki pengawal pribadi yang siap melindungi mereka kapan saja dengan senjata laras panjang. Namun peristiwa ini membuat kami berpikir untuk meminta pada pihak sekolah untuk meningkatkan lagi keamanan di sekolah.

Peristiwa ini juga menyulut kemarahan warga Pakistan. Melalui berbagai media, saya menerima pesan berantai, yang berisi pesan bahwa rakyat Pakistan tidak membutuhkan ungkapan penyesalan atau pernyataan politik dari Perdana Menteri Nawaz Sharif. Yang mereka butuhkan saat ini adalah kepastian hukum. Mereka ingin para pelaku teror mendapat hukuman yang setimpal, agar peristiwa yang sama tidak terulang kembali. Betapa banyak aksi teror yang terjadi di Pakistan, namun tidak diselesaikan secara tuntas.

Pembantaian ratusan anak tak berdosa di Peshawar adalah pelajaran yang terlalu mahal bagi kita semua. Bagi orang-orang lain, mungkin hanya sedih mendengar berita ini, dan kemudian melupakannya. Namun bagi kami yang berada di Pakistan, peristiwa ini akan kami ingat selamanya. Bagaimana mengantarkan anak ke sekolah menjadi ritual penuh doa. Kami tidak hanya membekali anak dengan buku dan makanan, namun juga dengan untaian doa panjang yang kami percaya akan melindunginya dari berbagai kejadian buruk. Bagaimana menjemput anak dari sekolah merupakan peristiwa bahagia, yang tidak akan dialami lagi oleh para orang tua di Army Public School di Peshawar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged as: ,

Leave a Response

Current ye@r *