Ibu Era Kekinian Ngga Boleh Gaptek

Keluarga adalah tempat pendidikan pertama anak. Sejak zaman dahulu hingga detik ini, norma tersebut tidak berubah. Melalui keluargalah, nilai-nilai kebaikan ditanamkan sejak dini. Karena itu, sebagai orang tua wajib bagi kita untuk menjadi pintar dan selalu mengikuti perkembangan zaman.

Apalagi di era kekinian, menjadi orang tua semakin dihadapkan pada masalah-masalah yang menantang. Menjadi ayah atau ibu tidak boleh ‘gaptek’ alias gagap teknologi. Kita harus ikut bergaul di lingkungan yang menjadi pergaulan anak-anak, termasuk ikut bergaul di media sosial. Dengan ikut bergaul di lingkungan anak, ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan. Pertama, kita mengetahui dengan siapa saja anak kita berteman, kedua menjadi salah satu cara untuk mengawasi anak dan ketiga, kita jadi mengetahui trend apa yang sedang digandrungi anak kita.

Selain itu sebagai seorang ibu masa kini, mau tidak mau kita harus terus meningkatkan ilmu. Bukankah Ibu adalah sekolah dan guru pertama bagi anak? Kalau ibunya tidak pintar, bagaimana mungkin anaknya akan menjadi pintar? Jika ingin anak kita pintar, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah terus belajar, setelah itu baru kita bisa mendidik anak-anak dengan baik.

Ilmu dan teknologi saat ini sudah berkembang sedemikian pesat. Seiring dengan teknologi yang semakin berkembang, muncullah berbagai profesi baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Sekitar 20 tahun lalu, mungkin cita-cita anak hanya sebatas menjadi dokter, pilot, insinyur, atau yang paling spektakuler adalah menjadi astronot. Tapi tidak demikian dengan anak era kekinian.

Anak sulung saya bernama Shirin, saat ini usianya 7 tahun. Sejak beberapa tahun terakhir ini, dia ingin menjadi: youtuber! Ya, sebuah profesi kekinian yang sebenarnya cukup menjanjikan. Sudah lama dia ingin membuat video dan mengunggahnya di youtube, tapi saya selalu beralasan “Bunda ngga bisa ngedit video, Nak.”

Shirin selalu kecewa karena saya tidak pernah mau membuatkan video untuknya. Tapi sebenarnya yang tidak pernah Shirin tahu adalah, saya sesungguhnya bisa sedikit-sedikit mengedit video. Sekitar 10 tahun lalu, saya pernah belajar dasar-dasar video editing dengan menggunakan software Windows Movie Maker. Tapi setumpukan pekerjaan dan kewajiban yang harus saya jalani setiap hari, rasanya kok malas sekali kalau masih harus menyisihkan waktu untuk mengedit video. Ditambah lagi, saya terlalu malas mengambil gambar melalu hand phone, kemudian memindahkannya ke lap top, mengeditnya, kemudian mengunggahnya ke youtube. Ah lebih baik saya menyelesaikan setrikaan yang menumpuk saja! Hahaha…

Namun baru-baru ini, saya tidak punya alasan lagi untuk menghindar. Sekolah Shirin menugaskan pada murid-mudirnya untuk membuat video “how to make something”. Ya, tugasnya adalah membuat video ala youtube seperti yang selama ini Shirin cita-citakan. Shirin sangat bersemangat mengerjakan tugasnya. Sepertinya ini adalah saat yang tepat bagi saya untuk menyingkirkan rasa malas dan belajar lagi untuk mengedit video.

Kebetulan saya punya seorang teman yang aktif mengunggah video tutorial memasak ke youtube. Lalu saya tanyakan padanya, software apa yang biasa dia gunakan untuk mengedit video di youtube. Ternyata ia mengunakan aplikasi yang bernama iMovie. Kata teman saya, aplikasi ini bisa digunakan melalui smart phone dan cukup mudah bagi pemula seperti saya.

Lalu saya dan Shirin berdiskusi mengenai video apa yang akan kita buat untuk tugas sekolahnya kali ini? Kemudian kami sepakat akan membuat tutorial untuk membuat bingkai foto sederhana dari kertas. Saya pun berbelanja berbagai bahan untuk membuat bingkai, kemudian membuat setting yang akan kami gunakan untuk mengambil gambar. Kebetulan saya pernah bekerja di industri televisi selama sekitar empat tahun. Saya pun mencoba mangingat-ingat kembali mengenai teori-teori pengambilan gambar untuk televisi dan komposisi.

Setelah itu saya mengarahkan Shirin tentang langkah-langkah yang akan kami lakukan untuk pengambilan gambar. Untungnya Shirin tidak sulit diarahkan. Hanya sekitar 45 menit, pengambilan gambar pun selesai dilakukan.

Kemudian sampailah saya pada saat-saat yang paling menantang, yaitu mengedit video. Saya mengunduh aplikasi iMovie di telepon genggam saya, kemudian langsung asyik mengulik software ini. Ternyata aplikasi ini memang cocok untuk pemula seperti saya. Dengan mencoba mengingat-ingat cara mengedit gambar dengan menggunakan Windows Movie Maker yang pernah saya pelajari 10 tahun lalu, ternyata iMovie ini memang lebih sederhana dan mudah. Di luar dugaan, saya sudah mengerti cara kerja aplikasi ini hanya dalam waktu 10 menit.

Sekitar satu jam saya mengedit gambar mentah yang ada, dan jadilah video hasil editan pertama saya melalui smart phone. Meskipun hasilnya masih jauh dari sempurna dan sangat-sangat terlihat masih amatir, tapi saya cukup bangga dengan hasil kerja pertama ini. Shirin pun cukup puas melihat hasil editan saya, hingga dia langsung meminta saya membuat lagi video yang lain. Tapi di atas semuanya, yang paling membuat saya bahagia adalah karena saya bisa belajar suatu hal baru dan mewujudkan cita-cita Shirin untuk membuat video di youtube.

Sebagai orang tua, kita seringkali merasa bahwa kita adalah role model dan pendidik utama bagi anak-anak. Namun terkadang yang saya rasakan malahan sebaliknya. Seringkali saya justru terpecut untuk belajar karena anak saya. Hubungan orang tua dan anak sejatinya tidaklah selalu satu arah. Tidak selalu orang tua yang mendidik anaknya, namun proses ini selalu terjadi timbal balik. Anak belajar pada orang tua, dan orang tua pun belajar dari anak. Karena itu di era kekinian seperti sekarang ini, sudah tidak zamannya orang tua merasa menjadi superior. Toh pada kenyataannya, baik orang tua maupun anak sama-sama masih harus belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Sudah siapkah kita menjadi orang tua di era kekinian yang harus terus belajar untuk mendidik anak-anak kita?

Leave a Response

Current ye@r *