<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tussie&#38;Reza&#039;s Weblog &#187; our journeys</title>
	<atom:link href="http://www.tussie-reza.com/category/our-journeys/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tussie-reza.com</link>
	<description>Let&#039;s make heaven on earth</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 04:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menuju Louvre, Seperti Robert Langdon dan Sophie Neveu</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 08:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan ke Bandara Tegel di Berlin tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Hanya dalam waktu sekitar 45 menit, kami sudah tiba di bandara. Masih ada waktu untuk mengisi perut dan menenangkan jantung. Ah, hampir saja terlambat. Jika saja saya terlambat, saya akan menggaruk-garuk tanah, memukul-mukul tembok dan menangis meraung-raung. Saya bersyukur, saya tidak terlalu bodoh untuk ketinggalan penerbangan ke Paris.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Bagian II dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Perjalanan ke Bandara Tegel di Berlin tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Hanya dalam waktu sekitar 45 menit, kami sudah tiba di bandara. Masih ada waktu untuk mengisi perut dan menenangkan jantung. Ah, hampir saja terlambat. Jika saja saya terlambat, saya akan menggaruk-garuk tanah, memukul-mukul tembok dan menangis meraung-raung. Saya bersyukur, saya tidak terlalu bodoh untuk ketinggalan penerbangan ke Paris.<br />
</strong><br />
Saya, Maricel dan Van lalu menuju ke sebuah cafetaria. Saya membeli sebuah croissant dan segelas juice segar. Nikmat sekali. Kelembutan dan kegurihan croissant menyatu dengan juice yang manis. Bahkan saya sudah menghirup aroma Paris sejak di Bandara Tegel, Berlin. Meskipun untuk kenikmatan sesaat itu, saya harus membayar sebanyak € 7 atau sekitar Rp 101.500. Ah, semuanya memang mahal di bandara, apalagi di bandara Eropa.</p>
<p>Kami lalu memasuki kabin pesawat Air France yang kesohor. Baru-baru ini Air France lebih kesohor lagi karena berhasil terjun bebas dan berenang di Samudra Atlantik. Menewaskan ratusan orang yang menumpang di kabinnya. Manusia-manusia malang yang terbang dari Rio de Janeiro menuju Paris. Mungkin mereka juga berencana akan berlibur ke Paris, seperti saya saat ini. Maka saya memejamkan mata dan berdoa panjang sekali, agar nasib saya tidak seperti mereka. Berakhir mengenaskan di lambung Air France!</p>
<p>Kami memilih untuk terbang dengan Air France karena pesawat ini akan mendarat di Bandara Charles de Gaulle. Kami berpikir, bandara Charles de Gaulle adalah bandara terbesar di Paris. Pastilah bandara ini terletak di tengah kota, karena itu kami rela merogoh kocek dalam dengan harapan bisa menghemat waktu. Sungguh pemikiran yang bodoh.</p>
<p>Ternyata sesungguhnya Charles de Gaulle berada di pinggiran Paris. Sangat jauh dari pusat kota Paris. Bandara Paris yang berada lebih di tengah kota adalah bandara kecil bernama Orly.</p>
<p>Biasanya Orly melayani penerbangan yang tidak terlalu mahal. Saya menyarankan bagi kalian yang akan pergi ke Paris, sebaiknya memilih bandara Orly saja. Jangan mengulangi kesalahan kami yang memilih Charles de Gaulle. Kecuali jika kalian ingin melihat Bandara Charles de Gaulle yang hebat dan canggih.</p>
<p>Saya sangat lelah dan tertidur hampir selama 1,5 jam perjalanan itu. Tapi tentu saja saya tidak melewatkan sarapan pagi di udara bersama Air France. Pagi itu, saya kembali menyantap croissant hangat dan mengepul. Sungguh, aroma Paris sudah tercium sejak mula.</p>
<p>Dalam beberapa saat lagi saya akan tiba di Paris. Saya merasakan letupan-letupan hangat di dada saya, sensasi yang selalu saya rasakan ketika bersemangat. Euforia yang nikmatnya tiada tara.</p>
<p>Sekitar pukul 08.30 pagi, kami tiba di Bandara Charles de Gaulle. Saya dan Van memekik tertahan, “Van, we’re in Paris!” kata saya kegirangan. Kami pun tidak bisa berhenti tersenyum lebar, menyadari kami telah ada di Paris. Hanya Maricel yang terlihat tenang dalam perjalanan ini.</p>
<p>Maricel selalu bertindak sebagai penunjuk jalan. Dengan cepat, Maricel telah mendapatkan peta Paris di pusat informasi. Tujuan utama kami adalah: Museum Louvre! Saya sudah sejak lama merindukan Monalisa. Lalu kami membeli tiket segala transportasi yang bisa dipakai selama dua hari.</p>
<p>Pusat kota Paris terbagi menjadi tiga zona wilayah. Sedangkan Bandara Charles de Gaulle termasuk dalam zona enam! Itu artinya, bandara ini benar-benar di luar Paris. Kami harus membayar lebih untuk transportasi dari Charles de Gaulle ke pusat kota. Total biaya transportasi yang harus dibayar adalah € 29 selama dua hari, atau sekitar Rp 420.500. Sungguh terlalu!</p>
<p>Sudahlah, kami sedang liburan. Dan saya tidak mau terlalu memusingkan soal uang. Setelah satu minggu yang berat, akhir pekan ini saya harus bersenang-senang! Kami naik kereta dari Charles de Gaulle ke stasiun Chatelet Les Halles. Dari stasiun Chatelet Les Halles, kami berganti kereta yang berhenti di Louvre.</p>
<p>Perjalanan dari Charles de Gaulle ke stasiun Chatelet Les Halles memakan waktu cukup lama, sekitar 45 menit. Kami mengamati setiap stasiun pemberhentian, menghitungnya agar tidak terlewati. Namun kami sedikit bingung, karena kami memiliki dua versi peta perjalanan yang berbeda. Hal ini tidak pernah terjadi di Jerman. Sistem transportasi di Jerman paling nyaman dan efektif di dunia. Kereta di Paris juga tidak senyaman  kereta yang biasa kami tumpangi di Berlin.</p>
<p>Kemudian sampailah kami pada stasiun Chatelet Les Halles. Ternyata Chatelet Les Halles adalah stasiun besar yang membingungkan. Saya tidak tahu, apakah karena kebodohan kami, atau karena petunjuk yang membingungkan, tapi kami membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan kereta yang menuju ke Louvre.</p>
<p>Sistem perkeretaapian di Paris tidak sepraktis Jerman. Di Paris, tiket kereta harus selalu dimasukkan dalam mesin otomatis ketika kita akan naik kereta. Setelah memindai tiket kita, pintu akan terbuka selama beberapa detik, kemudian tertutup kembali.</p>
<p>Tidak demikian dengan di Jerman. Di Jerman, kita hanya perlu membeli tiket, memverifikasi tiket, dan selalu membawanya dalam perjalanan. Tidak ada mesin otomatis yang memeriksa tiket. Pemeriksaan tiket dilakukan secara acak oleh petugas Deutche Bahn (Perusahaan kereta api Jerman). Kelihatannya sederhana sekali. Tapi jangan coba-coba meninggalkan tiket kereta. Jika kedapatan ada penumpang yang tidak memiliki tiket, petugas Deutsche<em><span id="main" style="visibility: visible;"><span id="search" style="visibility: visible;"><em></em></span></span></em> Bahn akan mendenda kita sebesar € 40 atau sekitar Rp 580.000 tanpa ampun!</p>
<p>Kembali ke Paris, sudah tidak terhitung berapa kali kami memasukkan tiket kereta ke mesin pemeriksa. Karena kami sudah keluar masuk pintu pemeriksaan satu ke pemeriksaan lain untuk mencari kereta ke arah Louvre. Akhirnya, kami menemukan kereta yang tepat. Hanya dua stasiun pemberhentian, dan sampailah kami ke Louvre! Dan saya sudah sah menjadi Sophie Neveu di buku da Vinci Code, karena saya sudah ada di Louvre!</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-295" title="louvre" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/louvre-300x225.jpg" alt="louvre" width="300" height="225" /><br />
***</p>
<p><strong>Cerita Terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/" target="_blank">Nyaris Tidak ke Paris</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyaris Tidak ke Paris</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 08:10:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin sebagian besar orang bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Paris, kota yang konon katanya paling indah dan romantis. Kota yang menjadi simbol keanggunan dan kemewahan. Kota dimana Marie Antoinnete pernah hidup dengan keglamourannya. Pusat mode dan seni di dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Bagian I dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Mungkin sebagian besar orang bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Paris, kota yang konon katanya paling indah dan romantis. Kota yang menjadi simbol keanggunan dan kemewahan. Kota dimana Marie Antoinnete pernah hidup dengan keglamourannya. Pusat mode dan seni di dunia.</strong></p>
<p>Saya adalah salah satu orang yang terpedaya dengan cerita-cerita tentang Paris. Saya bermimpi tentang Paris, tentang Louvre, tentang Versailles, tentang liukan Sungai Seine yang telah saya baca sejak kanak-kanak.</p>
<p>Ketika saya tiba di Eropa, saya bertekad dengan sepenuh hati untuk bisa ke Paris. Dan ini cerita ketika pertama kali saya melawat ke Paris. Perjuangan melelahkan yang merogoh kocek cukup dalam. Dan ah…saya bisa katakan pada kalian. Ternyata Paris tidak seindah bayangan saya, setidaknya..itulah menurut saya.</p>
<p>***</p>
<p>Minggu kelima saya di Jerman adalah minggu yang sangat berat. Pekan ini pelajaran di kelas menuntut perhatian penuh. Dalam satu minggu, kami membuat audio slideshow, membuat liputan video dan belajar mengedit video.</p>
<p>Selain itu pada minggu ini juga, tepatnya tanggal 8 Juli 2009, bangsa Indonesia merayakan hajatan demokrasi terbesar, yaitu pemilihan Presiden. tvOne, media tempat saya bekerja, telah berbaik hati mengizinkan saya untuk meninggalkan pekerjaan di Jakarta selama dua bulan. Tapi mereka hanya meminta satu hal: saya harus meliput pemilihan umum di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin.</p>
<p>Saya sudah mempersiapkan dengan matang peliputan pemilu ini, bahkan sejak di Jakarta. Namun sayangnya, pada hari H pemilu, IIJ tidak mengizinkan saya untuk meninggalkan kelas. Tapi untunglah staf KBRI Berlin sangat kooperatif dan membantu. Singkat cerita, dengan berpontang panting dan dukungan penuh para staf di KBRI Berlin, saya berhasil melakukan peliputan pemilu tanpa meninggalkan kelas. Tugas-tugas saya di kelas dan dalam peliputan pun terselesaikan dengan baik.</p>
<p>Namun tetap ada konsekuensi dari minggu yang berat ini. Saya merasa sangat lelah dan hampir saja jatuh sakit. Padahal akhir minggu ini saya sudah membeli tiket liburan ke Paris. Paris menjadi semangat saya. Saya harus ke Paris, karena itu saya tidak boleh sakit!</p>
<p>Hari Sabtu, 11 Juli 2009, saya dijadwalkan akan berangkat ke Paris. Meskipun sehari sebelumnya saya tiba di apartemen sudah malam dan dengan badan lelah, saya tetap menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Paris dengan semangat. Saya, Maricel dan Van akan berangkat ke bandara pukul 05.00 pagi. Saya harus bangun sekitar pukul 04.00. Saya mengatur alarm di handphone dan tertidur dengan pulas.</p>
<p>***<br />
Kring…kring..kring…</p>
<p>Apakah itu bunyi alarm? Ya, mungkin itu bunyi alarm, pikir saya sambil membuka mata sedikit. Tapi sepertinya bunyi alarm handphone saya bukan seperti itu.</p>
<p>Kring..kring..kring…</p>
<p>Saya menggeliat sedikit. Dimana saya berada? Sepertinya saya berada di kamar saya yang nyaman di Jakarta.</p>
<p>Kring..kring..kring…</p>
<p>Saya melompat bangun.<br />
Ini bukan kamar saya di Jakarta.<br />
Oh ya! Saya baru ingat!<br />
Saya kan sekarang sedang berada di Berlin.<br />
Dan…hari ini…saya harus ke Paris!!!</p>
<p>Kring..kring..kring…</p>
<p>Ternyata itu bukan bunyi alarm, tapi bunyi bell apartemen saya. Seseorang membunyikan bell apartemen saya! Itu pasti Maricel! DAN SAYA PASTI TERLAMBAT BANGUN!</p>
<p>“Wait a minute Maricel, WAIT!!!, teriak saya sambil berlari menuju pintu dan membuka pintu untuk Maricel.</p>
<p>“OH MY GOD, MARICEL. WHAT TIME IS IT??!! Tanya saya pada Maricel.<br />
“Tussie, are you just wake up? It’s 5.00 o’clock. We have to go now! Kata Maricel.<br />
“OH MY GOD! Ok Maricel wait for me..just five minutes, ok. I just change my clothes.” Kata saya sangat panik.<br />
“Ok, I will go downstairs. I’ll check if Van already wake up or not,” kata sahabat saya yang berasal dari Filipina itu.</p>
<p>Saya seperti gila! Saya hanya mencuci muka dan menyikat gigi sekenanya. Mengganti baju dan celana, membawa tas ransel yang sudah dipersiapkan, memakai sweater tipis, mantel, syal, dan siap berangkat!</p>
<p>Hanya dalam waktu lima menit, saya sudah siap dan berlari ke lantai satu. Di lantai satu, Maricel dan Van sudah menunggu saya.</p>
<p>“Come on Tussie, we have to run. It takes about 15 minutes to Osloer Strasse, and we have to take the U-Bahn at 05.20.” kata Maricel.<br />
Oh ya, Osloer Strasse adalah stasiun kereta bawah tanah terdekat dari apartemen kami. Dan U-Bahn adalah sistem kereta api bawah tanah di Jerman.</p>
<p>Di tengah udara dingin, kami berlari-lari mengejar U-Bahn. Ini memang musim panas di Jerman. Tapi angin utara selalu saja menghembuskan udara dingin yang membuat menggigil, terutama pagi hari seperti ini.</p>
<p>Matahari merajai negara-negara khatulistiwa seperti Indonesia. Saat ini saya merindukan kehangatan Indonesia yang selalu ada sepanjang tahun. Dimana saya bisa berjalan-jalan dengan kaus oblong satu lapis, memakai celana pendek dan sendal jepit. Tapi kini, saya harus berlari-lari mengejar U-Bahn dengan kaus, sweater, mantel dan syal. Sungguh tidak praktis.</p>
<p>Kami tiba di Osloer Strasse pukul 05.17. Petunjuk waktu di stasiun menuliskan kereta bernomor U9 yang menuju Rathaus Steglitz akan datang 3 menit lagi. Ah..tepat pada waktunya!</p>
<p>***</p>
<p>Cerita Terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/" target="_blank">Menuju Louvre, Seperti Robert Langdon dan Sophie Neveu</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Tua Paling Indah di Dunia</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 08:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Kami sudah tiba di penghujung Charles Bridge yang terkenal. Lalu saya kembali membuka peta andalan. Sejak awal saya ditunjuk sebagai pembaca peta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian IV dari IV tulisan)</p>
<p><strong>Kami sudah tiba di penghujung Charles Bridge yang terkenal. Lalu saya kembali membuka peta andalan. Sejak awal saya ditunjuk sebagai pembaca peta. Di rombongan ini, memang saya yang paling bisa membaca peta. Padahal kemampuan saya membaca peta masih kalah jauh dibandingkan tunangan saya.</strong></p>
<p>Dari peta itu, terlihat bahwa kota tua tidak terlalu jauh dari Charles Bridge. Kami memutuskan untuk ke kawasan kota tua hanya dengan berjalan kaki, sambil menikmati keindahan arsitektur abad pertengahan.</p>
<p>Kawasan kota tua memang tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 30 menit berjalan kaki, kami sudah tiba di kawasan yang mencengangkan ini. Baru kali ini saya lihat dalam hidup, bangunan tua yang begitu banyak dan sungguh berkesan gothic. Ternyata yang saya lihat selama ini di sepanjang sudut Kota Praha belum seberapa tua dan indah dibandingkan bangunan-bangunan yang ada di Kawasan ini.</p>
<p>Saya ternganga memandang keindahannya. Seandainya rahang saya bisa jatuh, mungkin saat itu dia sudah terlepas dari engselnya. Bilal dan Van tak berhenti mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya seperti “ckckckckkck” atau “Wow” atau “Beautiful..amazing!”. Abhi mengatakan, “God, I love this city”. Sedangkan Rish dan Beatrice sudah sejak tadi tak henti-hentinya berfoto.</p>
<p>Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin mereka bisa membangun gedung dan menara-menara tinggi sejak abad ke-13. Tidak hanya megah, elemen-elemen detail di setiap bangunan dibuat sangat presisi. Ukiran-ukiran dan patung dibuat dengan sangat rinci.</p>
<p>Sela-sela bangunan itu menciptakan gang-gang sempit. Jika hari sudah malam, bisa dipastikan kawasan ini terlihat menyeramkan. Karena itulah selalu ada mitos dan cerita-cerita hantu di setiap kota tua.</p>
<p>Tapi untunglah saat ini musim panas. Musim panas di Eropa menyediakan sinar matahari yang panjang. Matahari mulai merekah sejak pukul 03.30 pagi dan terbenam pukul 21.30. Kami punya banyak cahaya matahari saat ini, kami punya waktu yang panjang untuk menjelajahi Praha.</p>
<p>Kemudian sampailah kami pada landmark kota tua di Praha, yaitu “astronomical clock”. Astronomical clock ini adalah jam atau penunjuk waktu pertama di dunia, diciptakan tahun 1490 dan masih berfungsi hingga saat ini.</p>
<div id="attachment_140" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-140" title="astronomical clock" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/astronomical-clock-225x300.jpg" alt="Astronomical clock" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Astronomical clock</p></div>
<p>Tidak seperti jam yang ada seperti saat ini, “astronomical clock” berukuran raksasa. Dia menempel pada sebuah menara tinggi, sehingga kita bisa melihatnya dari kejauhan. Angkanya ada 24, bukan 12 seperti jam pada saat ini. Selain itu, di jam ini ada jarum yang bergambar matahari dan bulan. Jarum yang bergambar matahari menunjuk pada arah matahari. Dan jarum berbentuk bulan menunjuk pada arah bulan.</p>
<p>Tak jauh dari astronomical clock, terdapat sebuah alun-alun. Kalian pernah melihat video clip lagu “Lucky” Jason Mraz dan Colbie Caillat? Ya! Video clip itu mengambil lokasi di alun-alun ini! I’m really lucky to be here! Saya dan teman-teman lalu melompat-lompat dan berteriak-teriak saking senangnya. Jangan pikir kami gila, karena kami tidak sendiri. Banyak bule backpacker yang juga melakukan hal seperti kami.</p>
<div id="attachment_141" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-141" title="alun2" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/alun2-300x225.jpg" alt="Horeee..patung yang ada di video clip &quot;Lucky&quot;" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Horeee..patung yang ada di video clip &quot;Lucky&quot;</p></div>
<p>Kami merasa telah melakukan suatu keberhasilan karena sudah menginjakkan kaki di salah satu kota tercantik di bumi. Praha memang kota yang lebih indah daripada impian. Mengunjunginya adalah pengalaman berharga yang tidak cukup hanya satu kali!</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_142" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-142" title="team" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/team-300x165.jpg" alt="The Team (from left to right: Sehrish Wasif, Muhammad Bilal, Cao Do Van, Me, Abhinay Dey, Beatrice Obwocha)." width="300" height="165" /><p class="wp-caption-text">The Team (from left to right: Sehrish Wasif, Muhammad Bilal, Cao Do Van, Me, Abhinay Dey, Beatrice Obwocha).</p></div>

<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/" target="_blank">Praha, Lebih Indah dari Impian</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/">Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/">Charles Bridge yang Kesohor</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Charles Bridge yang Kesohor</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Kami sedikit kehilangan arah ketika menuju Charles Bridge, tapi saya tidak pernah bosan mengagumi penglihatan saya. Betapa genius manusia-manusia Eropa menciptakan arsitektur.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian III dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Kami sedikit kehilangan arah ketika menuju Charles Bridge, tapi saya tidak pernah bosan mengagumi penglihatan saya. Betapa genius manusia-manusia Eropa menciptakan arsitektur. </strong></p>
<p>Kami berjalan kaki cukup jauh, hingga saya sedikit lelah. Lalu saya mampir di sebuah toko pizza dan membeli vegetarian pizza. Uhm..ukuran pizza Eropa memang jumbo. Hanya membeli sepotong saja sudah cukup mengenyangkan perut Asia saya. Saya lalu sibuk menggigiti pizza itu sambil berjalan keluar dari toko.</p>
<p>Abhi, teman saya yang berasal dari India kemudia memanggil saya,<br />
“Tussie, let’s go! We are very near to Charles Bridge,” katanya.</p>
<p>Saya lalu melangkahkan kaki keluar dari toko. Dan betapa terperanjatnya saya melihat pemandangan yang hanya beberapa meter dari tempat saya berdiri. Sebuah jembatan tua berwarna kelabu membelah sungai yang dalam dan lebar. Jembatan itu menancapkan dengan kokoh kaki-kakinya dalam sungai yang mengalir deras. Di sisi kiri dan kanannya berbaris patung-patung raksasa. Patung-patung itu berwajah sendu, meratapi perjalanan Isa yang hendak disalib.</p>
<p>Saya tercengang, lalu berkata pada Abhi,<br />
“Abhi, is this the real Charles bridge?”<br />
Abhi tersenyum, lalu berkata,<br />
“Yes, Tussie..This is the real Charles Bridge.”</p>
<p>Belum habis saya terpukau, sayup sayup terdengar alunan musik dari terompet, mengalunkan lagu indah yang tidak saya mengerti. Lalu saya berjalan mengikuti arah suara itu. Suara itu berasal dari jembatan yang menghubungkan dua buah kastil, tepat di depan Charles Bridge. Saya lalu menengadahkan kepala ke atas. Di jembatan itu terlihat tiga orang punggawa kerajaan, lengkap dengan baju, topi dan sepatu khas abad pertengahan. Mereka meniupkan terompet, bagaikan menyambut raja dan ratu yang akan datang ke kastil mereka.</p>
<p>Sekejap saya merasa bagaikan puteri dari negeri yang jauh, dan datang mengunjungi kerajaan ini. Lalu pengawal-pengawal kerajaan ini datang menyambut saya. Tapi pakaian saya jauh dari kesan puteri-puteri di negeri dongeng, jadi saya sudah cukup puas mendengarkan mereka bermain terompet saja.</p>
<p>Lalu dimulailah perjalanan menyusuri Charles Bridge. Charles Bridge (dalam bahasa Cek disebut Karlův most) mulai dibangun pada 1357, saat kepemimpinan Raja Charles IV. Jembatan ini selesai dibangun pada abad ke-15. Panjangnya 516 meter dan lebarnya hampir 10 meter. Terdapat 30 patung besar di sepanjang Charles Bridge.</p>
<div id="attachment_134" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-134" title="entering charles bridge" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/entering-charles-bridge-300x225.jpg" alt="Entering Charles Bridge" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Entering Charles Bridge</p></div>
<p>Seperti kebanyakan bangunan abad pertengahan, arsitekturnya bergaya baroque. Pada abad ke-15, Charles Bridge adalah penghubung utama antara Kastil Praha dan Kawasan kota tua.</p>
<p>Ketika memulai perjalanan menapaki Charles Bridge, saya melihat Museum Frans Kafka di bawah jembatan. Abhi lalu memekik,</p>
<p>“That’s Frans Kafka’s Museum!!! We have to go there!!!”</p>
<p>Tapi saat ini hari sudah sore. Saya memperkirakan, Museum itu sudah tutup. Kami lalu memutuskan untuk menyusuri Charles Bridge dan kawasan kota tua saja.</p>
<p>Sepanjang Charles Bridge, banyak sekali penjual-penjual kaki lima. Kebanyakan dari mereka menjual anting-anting, kalung dan gelang yang terbuat dari kaca berwarna warni. Lalu ada juga seniman jalanan yang melukis langsung wajah-wajah siapapun yang mau membayarnya.</p>
<p>Tapi yang paling menarik adalah atraksi tuan Alex Omb Karena baru kali ini saya melihat langsung atraksi musisi gelas-gelas kaca. Tuan Alex Omb memainkan musik dari barisan gelas-gelas kaca. Gelas itu berisikan air, isi airnya berbeda-beda. Ada yang hanya berisi sedikit saja air, ada juga yang diisi hampir penuh. Melalui gelas-gelas itu, Tuan Alex Omb memainkan berbagai musik klasik macam Pour Elise, Symphony Number 9, Eine Kleine Nacht Music, dan banyak lagi. Suara musik itu begitu syahdu, seperti cuaca hari ini yang sedikit mendung. Ah, seandainya tunangan saya berada di sini saat ini…sempurnalah semuanya!</p>
<div id="attachment_135" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-135" title="charles bridge" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/charles-bridge-300x300.jpg" alt="Charles Bridge (Image by: Laura Padgett on Flickr)" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Charles Bridge (Image by: Laura Padgett on Flickr)</p></div>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/" target="_blank">Praha, Lebih Indah dari Impian</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/" target="_blank">Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">Kota Tua Paling Indah di Dunia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 05:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu hujan rintik-rintik. Tapi sama sekali tidak menyurutkan hasrat untuk berpetualang. Saya hampir saja bersedih, karena hujan menyambut kami di Praha. Saya memandang pada butir-butir hujan yang jatuh di jendela Hostel Prague One, berdoa pada Tuhan agar hujan segera berlalu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian II dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Sore itu hujan rintik-rintik. Tapi sama sekali tidak menyurutkan hasrat untuk berpetualang. Saya hampir saja bersedih, karena hujan menyambut kami di Praha. Saya memandang pada butir-butir hujan yang jatuh di jendela Hostel Prague One, berdoa pada Tuhan agar hujan segera berlalu.</strong></p>
<p>Sambil menunggu hujan berhenti, saya mengelilingi hostel yang menjadi persinggahan kami akhir pekan itu. Hostel Prague One adalah penginapan murah yang sangat nyaman dan bersih. Hostel tidak sama dengan Hotel. Hostel adalah tempat bermalamnya para backpacker. Di hostel, kita harus berbagi kamar dengan orang lain.</p>
<p>Hostel Prague One ini menyediakan satu buah kamar besar untuk delapan orang. Rombongan kami terdiri dari enam orang, masih ada sisa dua tempat tidur yang kosong. Kami harus rela berbagi kamar dengan orang lain, jika ada yang mau menyewa dua tempat tidur kosong itu.</p>
<p>Meski harus berbagi kamar dengan banyak orang, namun Hostel ini sangat nyaman. Tempat tidur empuk, selimut bersih, kamar mandi bersih, dan tentunya dilengkapi dengan air hangat. Namun jangan harap ada berbagai fasilitas hotel seperti handuk, sabun dan shampoo. Kita harus membawa sendiri perlengkapan pribadi. Maklum, harga yang ditawarkan sangat murah untuk ukuran Eropa, hanya € 20 (Rp 290.000) per malam untuk satu orang.</p>
<p>Untunglah hujan sore itu tidak terlalu lama. Kami lalu berkemas, memakai mantel dan tidak lupa membawa payung. Dengan bersemangat, kami menyusuri jalanan di kota ini. Hampir seluruh jalan yang kami lewati adalah bebatuan. Khas sekali jalanan Eropa dari abad pertengahan. Jalan batu ini jarang saya temui di Berlin. Jadi saya sangat menikmati berjalan di atasnya sambil memperhatikan dengan seksama. Saya mereka-reka berapa usia jalan ini? Sudah berapa ribu kaki yang melewatinya?</p>
<p>Tujuan pertama adalah kastil Praha atau dalam bahasa setempat disebut Pražský hrad. Untuk masuk ke kastil ini, kita bisa memilih paket 2 jam dengan harga 250 koruna atau 6 jam dengan harga 350 koruna. Jika dibayar dengan Euro, harganya € 14 atau sekitar Rp 203.000! Sungguh mahal, kami hampir saja lemas. Tapi selalu ada harga khusus untuk pers. Dengan menunjukkan kartu pers, kami hanya perlu membanyar 10 koruna untuk 2 jam kunjungan, atau Rp 5.800 saja <img src='http://www.tussie-reza.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_127" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-127" title="prague castle" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/prague-castle1-300x198.jpg" alt="Kastil Praha (Image by: Jacob Johan on Flickr)" width="300" height="198" /><p class="wp-caption-text">Kastil Praha (Image by: Jacob Johan on Flickr)</p></div>
<p>Saya dan teman-teman lalu bergegas untuk menjelajahi kastil tua ini. Dari kejauhan, Pražský hrad bagaikan Hogwarts yang saya saksikan di film Harry Potter. Bangunan itu luar biasa besar, warnanya kelabu kehitaman karena dimakan usia.</p>
<p>Ketika memasuki halamannya yang luas, kami disambut oleh air mancur tua lengkap dengan patung-patung yang mengelilinginya. Sesi foto pun tiba, saya berfoto-foto di setiap sudut kastil ini.</p>
<p>Kastil Praha ini termasuk salah satu kastil terbesar dan tertua di dunia. Pertama kali dibangun pada abad ke-9, tepatnya tahun 870 Masehi! Terdapat empat gereja, empat istana, lima taman dan delapan bangunan lainnya dalam kompleks ini. Satu hari penuh dijamin tidak akan cukup untuk mengelilinginya. Raja-raja Eropa memang sangat dimanjakan oleh kemewahan. Kemewahan gila-gilaan ini juga saya saksikan di kompleks kastil di Potsdam, Jerman.</p>
<p>Mengapa saya menyebutnya kemewahan yang gila? Karena semua kemewahan ini dibayar mahal oleh rakyat. Raja menikmati kesenangan dunia, sementara rakyat membanting tulang untuk kesenangan Rajanya. Kalian pasti sudah pernah membaca bagaimana Istana Versailles di Perancis dibangun di atas kesengsaraan rakyatnya. Begitu pula yang terjadi pada Kastil Praha dan Kastil Potsdam di Jerman. Sungguh, saya lebih memilih kesederhanaan yang wajar daripada kemewahan berlebihan yang mengorbankan rakyat.</p>
<p>Usai berkeliling di sekitar Kastil Praha, saya dan Van memasuki Basilica of St. George yang berada dalam kompleks kastil ini. Gereja-gereja di Eropa selalu membuat saya bergidik. Bangunannya selalu gelap, gothic, dan selalu ada peti jenazah para pendeta yang pernah mengabdi di dalamnya. Lukisan-lukisan di dalamnya indah dan berkesan mistis, seolah-olah mereka hidup dan menatap saya.</p>
<p>Selain kemewahan kastil dan gereja, ada hal lain yang menarik disini, yaitu pertokoan souvenir di kompleks Kastil Praha. Toko-toko penjual souvenir adalah bangunan kecil yang menyerupai gubuk. Pintunya sungguh pendek, mirip rumah para kurcaci. Bagi orang-orang yang berbadan tinggi, harus menunduk agar tak terbentur pintu bagian atas.</p>
<p>Souvenir yang dijual juga pastinya menggugah hasrat para penggila belanja. Ada satu set sendok dan cangkir yang terbuat dari perak, seperti yang saya lihat pada film-film bersetting abad pertengahan. Ada toko barang antik yang menjual alat musik kusam dan berdebu. Barang-barang antik itu sepertinya berasal dari waktu yang bahkan nenek kita belum diciptakan. Ada juga toko yang menjual sulaman-sulaman halus dan berwarna warni.</p>
<p>Tapi saya dan Van, teman saya yang berasal dari Vietnam, tentu saja tidak membeli apapun dari toko-toko ini. Kantong kami tidak cukup tebal untuk membelinya. Tapi ada satu toko yang akhirnya membuat kami belanja bagai orang kelaparan. Nama toko itu adalah “Manufaktura”. “Manufaktura” adalah toko yang menjual kosmetika “handmade” alami. Ada satu rak yang khusus menjual kosmetika berbahan dasar bir seperti sabun, shampoo, lotion dan beraneka macam perawatan tubuh lainnya. Menurut penjualnya, bir sangat baik bagi kulit. Tapi atas dasar keagamaan, saya tidak berani membelinya. Saya akan menunggu fatwa MUI dulu mengenai kehalalan kometika dengan bahan bir ini.</p>
<p>Lalu kami menghampiri rak lain yang menjual sabun beraneka warna. Sabun ini berbentuk seperti potongan puding berwarna warni. Saya dan Van penasaran dan mencium baunya. Kami langsung membelalak, baunya sungguh segar dan wangi. Dengan kalap, Van lalu memenuhi kedua tangannya dengan sabun-sabun itu. Saya terkesima, Van adalah lelaki tulen..apa perlunya dia membeli sabun imut dan wangi itu? “This is for my friends,” katanya.</p>
<p>Uhmmm…Van yang laki-laki saja tidak bisa menahan diri kala melihat sabun-sabun menggemaskan itu. Lalu tanpa menunggu waktu lagi, saya pun mengikuti jejak Van untuk memenuhi tangan saya dengan sabun-sabun itu.</p>
<p>Saya dan Van memang cocok sekali, kami sama-sama senang belanja. Tapi Van lebih gila daripada saya. Dia membeli tanpa memikirkan harga. Meskipun suka belanja, tapi saya hanya membeli barang-barang yang saya perlukan dengan harga yang masuk akal. Kami pun keluar dari toko “Manufaktura” dengan berseri-seri dan menenteng tiga kantong belanjaan. Van menenteng dua kantong, dan saya satu kantong. Kami senang sekali, meskipun saya tidak yakin apakah bagasi saya tidak akan kelebihan beban saat kembali ke Jakarta.</p>
<p>Kami lalu berjalan kembali mengitari taman-taman di kastil. Ternyata kastil ini berada di atas bukit. Halaman belakangnya adalah lembah. Dari halaman belakangnya, kami bisa melihat pemandangan kota Praha yang romantis. Charles bridge yang terkenal itu terlihat dari kejauhan. Manusia-manusia terlihat menyemut di sekitar jembatan tua itu. Saya tidak bisa mempercayai penglihatan saya, saya sedang ada di Praha! Benar-benar ada di Praha, benar-benar seindah impian.</p>
<p>Puas mengelilingi kastil, saya dan Van lalu menemui teman-teman yang lain di gerbang depan. Tujuan kami selanjutnya adalah…CHARLES BRIDGE!!!</p>
<p>Kami lalu menaiki tram. Dengan berbekal peta, kami turun di salah satu sudut kota yang saya sudah lupa namanya. Praha benar-benar kota yang antik, sejauh mata memandang adalah bangunan-bangunan tua. Saat ini kami bahkan belum tiba pada kawasan kota tua, tapi semua sudut kota ini sudah cukup tua menurut saya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/" target="_blank">Praha, Lebih Indah dari Impian</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/" target="_blank">Charles Bridge yang Kesohor</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">Kota Tua Paling Indah di Dunia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Praha, Lebih Indah dari Impian</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 07:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya hari itu datang juga. Saya dan lima orang teman saya yang berasal dari negara-negara berbeda pergi ke Praha. Praha adalah ibukota dari negara yang namanya paling membingungkan menurut saya, apakah namanya Cheszk, Cek Republik, Ceko, atau Ceska. Para ahli bahasa, tolong beri saya informasi nama baku negara ini dalam Bahasa Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian I dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Akhirnya hari itu datang juga. Saya dan lima orang teman saya yang berasal dari negara-negara berbeda pergi ke Praha. Praha adalah ibukota dari negara yang namanya paling membingungkan menurut saya, apakah namanya Cheszk, Cek Republik, Ceko, atau Ceska. Para ahli bahasa, tolong beri saya informasi nama baku negara ini dalam Bahasa Indonesia.</strong></p>
<p>Untuk sementara, saya akan menggunakan sebutan Republik Cek atau dalam bahasa Inggris Czech Republic. Saya tidak setuju dengan penggunaan sebutan “Ceko”, karena kata “Ceko” berasal dari “Ceko Slovakia”. “Cek-o Slovakia” berarti “Cek dan Slovakia”, jadi huruf “o” itu berarti “dan”. Kini Ceko Slovakia telah memisahkan diri, jadi sedikit aneh jika kita menyebutnya dengan sebutan “Ceko”, karena itu berarti “Cek dan”. Sebutan Ceska juga saya pikir tidak tepat, karena dalam suatu artikel yang pernah saya baca di Kompas, Ceska itu berarti “perempuan Cek”. Tidak adil jika kita mengeneralisasi negara ini menjadi sebuah negara perempuan. Jadi itulah alasan mengapa saya lebih senang menyebut negara ini sebagai Republik Cek.</p>
<p>Sebenarnya Praha tidak masuk dalam daftar kota yang ingin saya datangi selama dua bulan di Berlin. Sebelumnya, saya merencanakan akan berkunjung ke Amsterdam, Venice atau Roma dan Paris. Setidaknya saya ingin mengunjungi tiga negara lain selain Jerman, yaitu Belanda, Italia dan Perancis.</p>
<p>Tapi ternyata tiket pesawat dari Berlin-Amsterdam dan Berlin-Paris cukup mahal. Saya pikir, saya tidak punya cukup uang untuk ke Paris dan Amsterdam sekaligus. Saya harus memilih salah satu saja di antara kota-kota mahal itu. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke Paris. Karena sejak lama saya ingin sekali ke Museum Louvre, museum terbesar di dunia. Sebagai pengganti Amsterdam, saya memutuskan untuk pergi ke Praha. Karena Republik Cek adalah negara yang paling dekat dengan Berlin, berbatasan langsung dengan Jerman di sebelah timur.</p>
<p>Pada hari Sabtu, 4 Juli 2009, kami berangkat ke Praha. Perjalanan dimulai pukul 08.30 pagi waktu Berlin. Kami memutuskan untuk naik bus EuroLines dari terminal bus internasional di Kaisserdamm. Kami memutuskan naik bis karena harganya jauh lebih murah daripada naik pesawat. Selain itu, saya bisa menikmati keindahan pedesaan Eropa dengan bus.</p>
<p>Kami nyaris saja terlambat tiba di terminal. Maklumlah, kami semua berasal dari bangsa pendatang yang bepergian di Berlin hanya bermodalkan peta. Kami tiba di terminal bis internasional di Kaisserdam pukul 08.20, hanya menyisakan waktu sepuluh menit sebelum bis berangkat. Tidak ada istilah ngaret dalam sistem transportasi di Jerman, siapapun yang terlambat datang, akan ditinggal tanpa ampun!</p>
<p>Jadi ketika kami memasuki bis, hampir semua kursi telah diduduki. Kami ber-6 terpaksa duduk terpisah. Saya sendiri kebagian duduk di kursi yang bersebelahan dengan toilet. Untuk pertama kalinya selama di Jerman, saya mencium bau busuk dari dalam toilet. Persis sama seperti bau busuk toilet di bis antar kota Indonesia. Saya berdoa semoga aroma itu tidak mengocok isi perut saya dan memaksanya untuk keluar. Kemudian saya memejamkan mata dan tidur. Lebih baik tidur sebelum aroma ini meluluhlantakkan isi perut saya.</p>
<p>Tiga jam pertama perjalanan, saya lebih banyak tidur. Tidak banyak pemandangan yang bisa dinikmati dari jalan tol Autobahn. Saya baru bangun ketika bis memasuki kota Dresden.</p>
<p>Dresden adalah kota yang senyap. Dari kejauhan, saya bisa melihat jembatan dan bangunan-bangunan tua yang indah. Bis kami berhenti selama 15 menit untuk istirahat makan siang. Saya pikir Dresden adalah kota yang indah, tapi itu sebelum saya tiba tiba di Praha. Kelak, definisi tentang keindahan kota tua dalam benak saya akan meningkat beberapa derajat setelah mengunjungi Praha.</p>
<p>Mendekati perbatasan dengan Republik Cek, saya melihat barisan rumah pedesaan yang berbaris di lembah perbukitan. Ingatan saya melayang pada masa kecil, dimana saya dengan rakus melahap buku-buku Enid Blyton dan Astrid Lindgren. Kiranya Blyton dan Lindgren tidak berbohong dengan apa yang mereka gambarkan dalam buku cerita anak-anak itu.</p>
<p>Rumah-rumah pedesaan di Eropa memiliki setidaknya satu cerobong asap. Atapnya berwarna warni ceria. Ada beberapa jendela yang menyembul di loteng berbentuk segitiga lancip. Tidak ada pagar dan pembatas dengan para tetangga. Padang rumput dan pebukitan menjadi bagian dari halaman rumah. Benar-benar seperti tempat tinggal kurcaci di dongeng Nyonya Blyton.</p>
<p>Ketika memasuki perbatasan Republik Cek, mata saya semakin terbelalak. Rumah-rumah pedesaan di Dresden belum seberapa indahnya dibandingan dengan rumah di pinggiran Republik Cek. Saya tidak terlalu memahami, sedang berada di mana saat itu? Tapi saya perkirakan, saya sedang berada di daerah Aussig.</p>
<p>Rumah-rumahnya mirip dengan yang ada di Dresden. Namun rumah-rumah ini memiliki sungai di halaman depannya, dan ada pebukitan di halaman belakangnya. Di sela pepohonan di atas bukit, berbaris rapi rumah-rumah mungil. Apa yang terjadi jika saya mengetuk pintunya? Mungkinkah yang membukakan pintu adalah seorang peri, kurcaci, atau jembalang?</p>
<p>Setelah lima jam perjalanan dengan bis, akhirnya saya tiba di stasiun Florenc (baca: Florens) Praha. Saya dan teman-teman senang sekali! Kami ada di Praha!!! Saya dan teman-teman lalu melompat-lompat kegirangan dan berfoto ria.</p>
<div id="attachment_112" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-112" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/praha-1-300x225.jpg" alt="Terminal bis Florenc, Praha" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Terminal bis Florenc, Praha</p></div>
<p>Dari stasiun, saya naik kereta bawah tanah Metro A, hanya satu pemberhentian ke stasiun Muzeum. Kemudian kami keluar dari stasiun bawah tanah dan menuju halte tram terdekat. Hanya satu pemberhentian, tibalah kami di halte Husinecka. Kami berjalan sekitar 300 meter dari Halte Husinecka.</p>
<p>Struktur tanah di Praha didominasi pebukitan. Kami pun berjalan menyusuri jalan bebatuan yang naik dan turun. Lalu sampailah di Hostel Prague One, tempat kami menginap. Hanya sekedar meletakkan barang-barang, kami lalu memulai perjalanan. Siap untuk bertualang lagi!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/">Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/" target="_blank">Charles Bridge yang Kesohor</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">Kota Tua Paling Indah di Dunia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oberbaumbrücke</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/06/oberbaumbrucke/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/06/oberbaumbrucke/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 08:15:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[berlin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Saya sungguh berharap musim panas sebenarnya segera hinggap di Berlin. Hari ini adalah Minggu, 14 Juni 2009. Saya mendapatkan harapan akan hari yang hangat. Saya ingin sinar matahari menggantikan angin utara yang tidak bersahabat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Saya sungguh berharap musim panas sebenarnya segera hinggap di Berlin. Hari ini adalah Minggu, 14 Juni 2009. Saya mendapatkan harapan akan hari yang hangat. Saya ingin sinar matahari menggantikan angin utara yang tidak bersahabat. </strong></p>
<p>Ketika meninggalkan apartemen, saya mendapatkan harapan itu. Cahaya matahari bersinar cerah. Tapi saya tidak mau terlalu berharap, karena hujan bisa datang dalam sekejap. Cuaca di kota ini sungguh tidak bisa diprediksi. Bulan Juni seharusnya menjadi milik musim panas. Tapi selama satu minggu saya di Berlin, matahari tak kunjung datang.</p>
<p>Saya dan teman-teman melenggang ke stasiun kereta bawah tanah U-Bahn terdekat, stasiun Osloer Strasse. Dari Osloer Strasse, kami berhenti di stasiun Herman Strasse. Perjalanan kembali dilanjutkan hingga tiba di Ostbahnhof Station, stasiun kereta terbesar kedua di Berlin.</p>
<p>Untunglah matari sangat bersahabat kali ini. Baru kali ini saya berhasil berjalan-jalan hanya dengan kaus oblong. Pemandu kami hari ini adalah Nisha Anders. Nisha membawa kami untuk melihat sisi lain tembok Berlin yang jauh berbeda dari yang ada di pusat kota Berlin.</p>
<p>Tembok Berlin yang sebelumnya saya lihat berada di dekat Checkpoint Charlie. Tembok itu berdiri angkuh, dingin, mencekam dan misterius. Tapi ternyata ada sisi lain dari wajah tembok Berlin. Tembok berlin yang berada di dekat Ostbahnhof ini sangat ceria dan penuh warna. Hampir seluruh permukaannya dipenuhi grafiti karya seniman dari seluruh dunia. Saya sibuk mengagumi gambar-gambar di tembok besar itu, hingga akhirnya saya menyadari, ada hal lain yang juga menarik.</p>
<p>Di balik tembok itu ternyata ada sebuah sungai! Sungai berair biru itu tidak terlalu besar, lebarnya hanya sekitar 20 meter. Namun saya tidak bisa memperkirakan panjangnya, karena sejauh mata memandang sungai itu terus mengalir. Nama sungai itu adalah Spree.</p>
<p>Di ujung sungai Spree, mata saya terhenti pada sebuah jembatan tua. Bangunan ini membelah sungai. Aliran Spree mengalir di sela-sela kakinya. Jembatan ini berwarna merah bata, dengan dua menara beratap lancip di ruas-ruasnya. Jambatan ini mengingatkan saya pada kastil pangeran di cerita Cinderella yang saya baca ketika bocah.</p>
<p>Saya bertanya pada Nisha, apa nama jembatan itu? Nisha menjawab, “We call it  Oberbaumbrücke. Brücke means a bridge, so Oberbaumbrücke is Oberbaum Bridge.”</p>
<p style="text-align: left;">
<div id="attachment_102" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-102" title="Oberbaumbrücke" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/Oberbaumbrücke1.jpg" alt="Oberbaumbrücke (Image by: M. Kuhn on Flickr)" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Oberbaumbrücke (Image by: M. Kuhn on Flickr)</p></div>
<p>Nisha lalu mulai bercerita. Seperti rakyat Jerman Timur, Oberbaumbrücke juga menyimpan kejayaan dan kepedihan masa lalu. Jembatan ini dibangun selama dua tahun. Kemudian pada tahun 1896, Oberbaumbrücke pertama kali dibuka untuk umum. Pada tahun 1902, segmen pertama sistem kereta api U-Bahn dibuka melintasi Oberbaumbrücke.</p>
<p>Namun kegagahan dan kejayaan tidak terlalu lama dirasakan Oberbaumbrücke. Ketika Jerman menjadi musuh dunia pada Perang Dunia II, Oberbaumbrücke turut merasakan kepedihan. Pada April 1945, Wehrmacht (angkatan bersenjata Nazi-Jerman) meledakkan Oberbaumbrücke di tengah-tengahnya. Hal ini dilakukan untuk menghentikan Red Army (tentara Uni Soviet) melintasinya.</p>
<p>Kemudian ketika perang berakhir, Berlin dibagi menjadi empat sektor: sektor Amerika, Uni Soviet, Inggris dan Perancis. Oberbaumbrücke ternyata melintasi sektor Amerika Serikat dan Uni Soviet. Hingga pertengahan tahun 1950, pejalan kaki, pengendara motor, dan tram masih diperbolehkan menyeberangi jembatan ini tanpa kesulitan.</p>
<p>Namun ketika Tembok Berlin dibangun pada 1961, kesulitan mulai menghadang. Pada awal tahun 1963, Oberbaumbrücke hanya boleh dilintasi oleh pejalan kaki yang berasal dari Jerman Barat.</p>
<p>Oberbaumbrücke pernah menjadi saksi perjuangan warga Jerman Timur yang ingin melarikan diri. Tak sedikit orang yang nekad berenang melintasi Sungai Spree untuk mendapatkan hidup yang lebih baik di Jerman Barat. Berhasil berenang sejauh 20 meter tidak menjamin akan selamat, karena tentara-tentara Uni Soviet siap menembak siapa saja yang kedapatan berusaha untuk lari dari Jerman Timur.</p>
<p>Ketika Tembok Berlin dihancurkan pada 1989, era reunifikasi Jerman dimulai. Oberbaumbrücke kembali didandani. Arsitek Spanyol Santiago Calatrava merancang tiang baja di tengah-tengahnya yang pernah dihancurkan ketika perang. Oberbaumbrücke akhirnya kembali dibuka untuk umum pada 9 November 1994. Jalur kereta api U-Bahn pun dibuka kembali satu tahun sesudahnya.</p>
<p>Dan kini, saya berdiri disini. Saya melintasi Oberbaumbrücke dengan bebas. Memandangi aliran sungai di kaki-kakinya. Menikmati sistem transportasi U-Bahn yang sungguh membuat saya jatuh cinta. Dinding-dindingnya masih kokoh, warna dan bentuknya masih sama seperti foto 100 tahun lalu yang saya lihat di internet. Syukurlah angin perubahan telah datang. Syukurlah selalu ada akhir dari segala pertikaian.</p>
<div id="attachment_105" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-105" title="100_0937" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/100_0937-300x225.jpg" alt="100_0937" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Entering Oberbaumbrücke</p></div>

<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Cerita Terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/03/suatu-sore-di-checkpoint-charlie/" target="_blank">Suatu Sore di Checkpoint Charlie </a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/06/oberbaumbrucke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Show Fantastis di Friedrichstadtpalast Berlin</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/03/show-fantastis-di-friedrichstadtpalast-berlin/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/03/show-fantastis-di-friedrichstadtpalast-berlin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 16:35:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[berlin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali dalam hidup, saya menonton kabaret sesungguhnya. Tarian modern memikat, skating yang dinamis, trapeze yang mendebarkan, nyanyian memesona, orkestra memukau, hingga komedi yang mengocok perut, semua ada dalam pertunjukan bertajuk “Qi” di Friedrichstadtpalast, Berlin, Jerman.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Pertama kali dalam hidup, saya menonton kabaret sesungguhnya. Tarian modern memikat, skating yang dinamis, trapeze yang mendebarkan, nyanyian memesona, orkestra memukau, hingga komedi yang mengocok perut, semua ada dalam pertunjukan bertajuk “Qi” di Friedrichstadtpalast, Berlin, Jerman.</strong></p>
<p>Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Berlin bulan Juni lalu, saya sudah berniat untuk menyaksikan langsung petunjukan kabaret. Pasalnya, Berlin adalah kiblat dunia untuk pertunjukan ini. Berlin memiliki segalanya: seniman-seniman berbakat, gedung kelas dunia, dan tentunya dana untuk pertunjukan.</p>
<p>Namun demikian, banyak orang yang ragu untuk menyaksikan pertunjukan ini di Berlin. Mereka takut tidak akan mengerti lakon yang akan dipertontonkan. Karena Jerman adalah negara yang terkenal dengan keengganannya untuk menggunakan bahasa Inggis. Tapi kabaret di Berlin adalah soal lain. Ternyata ini adalah pertunjukan minim bahasa. Tarian, nyanyian dan hiburan mendominasi show yang berdurasi tiga jam ini. Jadi, jangan takut dengan kendala bahasa, manusia berbahasa apapun dijamin akan mengerti pertunjukan ini.</p>
<p>Tiket untuk menonton “Qi” di gedung pertunjukan Friedrichstadtpalast tergolong mahal untuk kantong orang Indonesia. Di hari kerja, harga dibanderol mulai dari 18 Euro (Rp 261.000) hingga 98 Euro (Rp 1.372.000). Sedangkan di akhir pekan, harga dibanderol 20 Euro (Rp 290.000) hingga 101 Euro (Rp 1.464.500).</p>
<p>Pukul 19.30 waktu setempat, kami memasuki gedung pertunjukan Friedrichstadtpalast. Friedrichstadtpalast adalah panggung teater terbesar di dunia dengan ruang pertunjukan seluas 2,800 meter persegi dan mampu menampung 1,895 orang dalam setiap pertunjukannya. Lebih dari 600,000 orang mengunjungi gedung ini tiap tahunnya.</p>
<div id="attachment_343" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-343" title="1_friedrichstadtpalast_fot" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/1_friedrichstadtpalast_fot-300x183.jpg" alt="Friedrichstadtpalast (Friedrichstadtpalast.de/Nina Mallman)." width="300" height="183" /><p class="wp-caption-text">Friedrichstadtpalast (Friedrichstadtpalast.de/Nina Mallman).</p></div>
<p>Pertunjukan diawali dengan sepasang kekasih yang tidak bosan-bosan mengocok perut penonton dengan tingkah polahnya. Kemudian setting panggung segera berubah. Ada lingkaran besar di tengah panggung. Lingkaran ini kemudian perlahan-lahan merosot semakin dalam dan membentuk lubang besar di tengah panggung. Kemudian dari sisi lubang itu mengalir air dan dalam sekejap lubang itu berubah menjadi kolam.</p>
<p>Kemudian teratai buatan muncul di tengah kolam. Dan penari-penari wanita gemulai bermunculan dari belakang panggung. Pakaiannya berwarna hijau, punggung mereka dihiasi bulu-bulu panjang hijau yang membuat semakin semarak. Mereka menari di bibir kolam. Musik menghentak-hentak, dan penonton terkesima melihatnya.</p>
<p>Lalu penari-penari menawan itu kembali ke dalam panggung, dan air yang berada di kolam menyusut. Sebuah lapisan panggung menutupi lapisan sebelumnya, dan kini lantai kembali kering layaknya panggung pertunjukan biasa.</p>
<p>Seorang pria keluar dari belakang panggung. Pria ini adalah pesulap yang mempertontonkan kebolehannya. Pesulap ini menghilangkan seorang gadis yang berada di dalam bongkahan es besar. Kemudian gadis ini tiba-tiba muncul di sisi lain panggung dengan baju yang sudah berubah. Berbagai atraksi sulap lain juga dia tampilkan, seperti membuat seorang gadis melayang dan bermain-main dengan api.</p>
<p>Usai si pesulap beraksi, setting panggung berubah lagi. Lapisan panggung bergerak ke belakang panggung, dan berganti dengan lapisan baru. Lapisan baru ini ternyata adalah es! Kemudian pemain skating satu per satu merubungi panggung, menari dan meluncur di atas es.</p>
<p>Kemudian pemain skating kembali masuk ke belakang panggung. Lapisan es lalu beringsut mundur, digantikan dengan lapisan lantai panggung biasa. Lagu “Swan Lake” karya Tchaikovsky mengalun lembut. Penonton terkecoh. Ketika mendengar lagu ini, saya membayangkan penari balet dengan lakon “Swan Lake” akan muncul. Ternyata beberapa gadis muncul di atas panggung dengan kostum balet “Swan Lake” putih dan rok mengembang. Alih-alih menari balet, mereka mengendarai sepeda dengan kostum balet “Swan Lake”! Dengan sepeda, mereka menari dan membentuk formasi yang indah.</p>
<div id="attachment_344" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-344" title="3-schwanensee_reloaded_fot" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/3-schwanensee_reloaded_fot-300x199.jpg" alt="Penari &quot;Swan Lake&quot; (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus)." width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Penari &quot;Swan Lake&quot; (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus).</p></div>
<p>Yang juga menarik dari pertunjukan ini adalah ketika dua orang gadis menari duet. Mereka menari di bawah hujan di atas panggung. Tentu saja ini bukan hujan sungguhan. Panggung ini juga dilengkapi dengan “shower” raksasa yang menciptakan hujan. Hujan ini bukan hujan biasa, karena air yang mengalir ikut menari bersama hentakan musik dan dua gadis itu. Sesekali air hujan membentuk tulisan “Qi”.</p>
<div id="attachment_345" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-345" title="4its_a_sin_-_suite_der_suen" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/4its_a_sin_-_suite_der_suen-300x199.jpg" alt="Duet penari di tengah hujan buatan (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus)." width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Duet penari di tengah hujan buatan (Friedrichstadtpalast.de/Stephan Gustavus).</p></div>
<p>Menjelang akhir pertunjukan, setting panggung kembali diubah. Beberapa pria secepat kilat membentangkan jaring dan tali, juga menegakkan tiang-tiang. Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, arena trapeze telah tercipta di atas panggung. Bebeapa pria dan wanita kemudian asyik menggelantung di trapeze, melompat dari satu tali ke tali yang lain.</p>
<p>Pertunjukan lalu ditutup dengan nyanyian dan tarian yang ditampilkan bersama. Penyanyi solo wanita bernyanyi dengan dikelilingi puluhan penari lelaki dan perempuan. Hingga keluar dari gedung pertunjukan, alunan musik itu masih terngiang di telinga saya. Selama tiga jam pertunjukan, tidak sedetik pun saya merasa bosan. Mata saya tidak rela berpaling dari pertunjukan ini meski untuk satu detik. Hanya ada satu kata untuk pertunjukan ini: “Fantastis”!</p>
<p>Link Terkait:</p>
<ul>
<li>tvOne blog: <a href="http://www.tvone.co.id/blog/dibalikkabar/2009/09/01/show-fantastis-di-friedrichstadtpalast-berlin/" target="_blank">Show Fantastis di Friedrichstadtpalast Berlin</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/03/show-fantastis-di-friedrichstadtpalast-berlin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suatu Sore di Checkpoint Charlie</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/03/suatu-sore-di-checkpoint-charlie/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/03/suatu-sore-di-checkpoint-charlie/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 16:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[berlin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Berlin sedang tidak bersahabat. Bulan Juni yang seharusnya menjadi milik musim panas, kini masih dikuasai dingin yang menggigit. Kehangatan matahari terlambat datang tahun ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Berlin sedang tidak bersahabat. Bulan Juni yang seharusnya menjadi milik musim panas, kini masih dikuasai dingin yang menggigit. Kehangatan matahari terlambat datang tahun ini.</strong></p>
<p>Begitu pula sore itu. Ketika saya melintasi sisa-sisa tembok Berlin dan Checkpoint Charlie, hujan rintik membasahi jalanan. Angin kencang menyapu daun-daun, menabrak tubuh-tubuh yang berlalu lalang dan menerbangkan payung-payung. Tapi saya masih beruntung. Karena saya hanya merasakan dingin yang menggigit, bukan timah panas seperti yang dicicipi Peter Fechter 37 tahun lalu.</p>
<p>17 Agustus 1962, Peter Fechter dan Helmut Kulbeik bersembunyi di sebuah bengkel tukang kayu dekat Checkpoint Charlie. Ketika petugas lengah, mereka memanjat tembok Berlin setinggi dua meter yang bertahtakan kawat berduri. Kulbeik berhasil melompati tembok Berlin. Namun malang bagi Fechter, dia tertembak dan meregang nyawa selama hampir satu jam hingga akhirnya meninggal dunia. Fechter hanyalah seorang remaja berusia 18 tahun yang mencoba lari dari Jerman Timur ke Jerman Barat.</p>
<div id="attachment_338" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-338" title="cc 1" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/cc-12-300x225.jpg" alt="cc 1" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Checkpoint Charlie tahun 2009</p></div>
<p>Nazi Jerman yang memiliki dampak luar biasa di Eropa, memaksa Amerika Serikat dan Uni Soviet melupakan sejenak pertikaian. Bersama Perancis dan Inggris, mereka menjatuhkan kediktatoran Hitler dan Nazi. Setelah Jerman berhasil direbut, wilayah negara ini dibagi menjadi empat bagian oleh Uni Soviet, Inggris, Amerika Serikat dan Perancis.</p>
<p>Jerman Barat dikuasai oleh Inggris, Amerika Serikat dan Perancis. Sedangkan Jerman Timur oleh Uni Soviet. Antara tahun 1949 sampai tahun 1961 sudah lebih dari 2 juta penduduk Jerman Timur melarikan diri lewat Berlin. Hal ini membuat ekonomi Jerman Timur menjadi kedodoran karena orang-orang muda melarikan diri. Maka secara rahasia dan tiba-tiba, dibangunlah tembok Berlin.</p>
<p>Setelah tembok Berlin dibangun, ada tiga checkpoint untuk melintasi Jerman Barat dan Timur. Fungsi utama checkpoint adalah untuk mendaftarkan dan menginformasikan anggota militer Jerman Barat sebelum memasuki Jerman Timur. Pintu pertama adalah Checkpoint Alpha yang berada di Helmstedt, pintu kedua bernama Checkpoint Bravo berada di Dreilinden, dan pintu ketiga ada di Friedrichstrasse (Jalan Friedrich). Pintu ketiga ini bernama Checkpoint Charlie.</p>
<div id="attachment_339" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-339" title="friederich strasse" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/friederich-strasse-300x225.jpg" alt="friederich strasse" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Friederich strasse tahun 2009</p></div>
<p>Turis dan diplomat dari Jerman Barat diperkenankan memasuki Jerman Timur hanya melalui Checkpoint Charlie. Sedangkan orang Jerman Timur sama sekali tidak boleh melintasi perbatasan. Checkpoint Charlie menjadi lubang jarum yang harus dilewati warga Jerman Timur yang ingin penghidupan lebih baik di Barat. Di kemudian hari, tempat ini menjadi simbol perang dingin antara blok barat dan blok timur.</p>
<p>Dalam himpitan perang dingin, tentu saja rakyat yang paling merasa sengsara. Berbagai drama pelarian diri terjadi di sekitar tembok Berlin sekitar Checkpoint Charlie. Keluarga Wetzels dan Strlzycks sedikit demi sedikit mengumpulkan kain nylon. Kain itu kemudian dijahit untuk membuat balon udara. Setelah persiapan selesai, mereka terbang dengan balon udara untuk melewati perbatasan. Delapan orang anggota keluarga ini berhasil melintasi perbatasan dengan selamat.</p>
<p>Terowongan bawah tanah dibangun di atas pemakaman. Orang-orang berpura-pura berziarah dengan membawa karangan bunga. Mereka kemudian tiba-tiba menghilang dan tidak pernah terlihat lagi. Terowongan ini menghubungkan Jerman Barat dan Jerman Timur.</p>
<p>Sebanyak 29 orang berhasil mencapai Jerman Barat dengan selamat melalui terowongan ini. Namun akhirnya keberadaan terowongan terbongkar karena seorang wanita terjatuh ke dalam terowongan dan meninggalkan bayinya di atasnya. Terowongan ini kemudian ditutup.</p>
<p>Berbagai aksi melintasi perbatasan itu kini dapat dikenang di Mauermuseum Haus Am Checkpoint Charlie atau Museum Tembok Berlin di Checkpoint Charlie.</p>
<div id="attachment_340" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-340" title="museum cc2" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/museum-cc2-300x225.jpg" alt="museum cc2" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Museum Checkpoint Charlie</p></div>
<p>Tahun ini rakyat Jerman merayakan 20 tahun runtuhnya tembok Berlin. Di Friedrichstrasse atau Jalan Friedrich, Checkpoint Charlie masih berdiri hingga saat ini. Namun kini tempat itu sudah berubah rupa demikian jauh. Tidak ada lagi kesuraman di Checkpoint Charlie. Kini, Friedrichstrasse menjadi bagian dari pusat kota Berlin dan tujuan utama wisata.</p>
<p>Hanya sekitar 200 meter dari Friedrichstrasse, kita bisa menemukan gedung Bundestag (parlemen Jerman) kala pemerintahan Prusia, yang sungguh menggambarkan kejayaan Eropa sejak lampau. Gedung ini kaya akan pahatan tangan seniman Eropa masa lalu. Saya pikir, ciri khas ini hanya dapat ditemui di Eropa.</p>
<p>Ok, kita kembali menyusuri tembok Berlin dan Checkpoint Charlie. Hari ini memang bukan saat yang tepat untuk berjalan-jalan. Angin makin tidak bersahabat ketika saya meninggalkan Mauermuseum Haus Am Checkpoint Charlie. Dingin semakin menusuk tulang. Saya kemudian bergegas ke stasiun kereta bawah tanah untuk pulang dan mencari kehangatan. Auf Wiedersehen Checkpoint Charlie!</p>
<p>Link Terkait:</p>
<ul>
<li>tvOne blog: <a href="http://www.tvone.co.id/blog/dibalikkabar/2009/09/01/suatu-sore-di-checkpoint-charlie/" target="_blank">Suatu Sore di Checkpoint Charlie</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/03/suatu-sore-di-checkpoint-charlie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salju Pertama</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/salju-pertama/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/salju-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 08:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[pertama]]></category>
		<category><![CDATA[salju]]></category>
		<category><![CDATA[Vancouver]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Aku buka pintu geser di teras lantai dua. Aku tahu apa yang ada di luar, karena teras itu tertutup kaca tembus pandang. Aku buka pintu itu untuk merasakan udaranya. "Srekkk…", pintu itu aku geser sampai habis. Langsung saja aku merasakan dingin. Tak hanya di wajah, dingin itu seperti masuk ke tulang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Reza Reflusmen</p>
<p>Vancouver, 14 Desember 2008</p>
<p><strong>Aku buka pintu geser di teras lantai dua. Aku tahu apa yang ada di luar, karena teras itu tertutup kaca tembus pandang. Aku buka pintu itu untuk merasakan udaranya. &#8220;Srekkk…&#8221;, pintu itu aku geser sampai habis. Langsung saja aku merasakan dingin. Tak hanya di wajah, dingin itu seperti masuk ke tulang.</strong></p>
<p>Dingin yang seperti ini baru pertama kali aku rasakan. Definisi dingin ini jauh berbeda dengan yang biasa kita kenal di Jakarta. Inilah musim dingin yang sebenarnya, musim dingin dengan salju.</p>
<p>Salju pertama yang aku sentuh, salju pertama di Vancouver tahun ini. Di luar pintu itu, semua terlihat putih. Atap-atap rumah di sekitar wisma ini juga jadi putih tertutup salju. Puncak-puncak pohon berhias bunga es. Pohon-pohon berdaun putih. Putih, juga karena salju.</p>
<p>Aku pegang salju itu dengan tangan terbuka. Awalnya, aku pikir salju akan terasa seperti bunga es di kulkas rumah opa. Opa punya satu kulkas uzur yang menghasilkan bunga es. Tapi ternyata salju lebih dingin daripada bunga es di kulkas rumah opa.</p>
<p>Aku lemparkan sedikit es yang kugumpalkan di tanganku. Kurang dari satu menit, tanganku terasa beku. Jari-jari mengeras. Tubuh tropis ini belum tahan dengan dinginnya es. Aku langsung masuk ke wisma dan menyiramkan air hangat ke tangan beku ini.</p>
<p>&#8220;Apa rasanya ya orang yang hipotermia? Apa rasanya frostbite? Apa rasanya terperangkap salju di kutub sana?&#8221;</p>
<p>Hari ini, 14 Desember 2008, aku menyentuh salju untuk pertama kali. Kalau tulisan ini dibaca lagi di masa nanti, pasti akan konyol sekali. Inilah kisah norak manusia tropis melihat dan merasakan salju pertama.</p>
<p>Malam tadi, salju turun cukup lebat. Aku mengintip dari jendela, angin meniupkan salju ke ranting-ranting pohon, atap-atap rumah, hingga seluruh kota berselimutkan jubah putih. Sesekali salju berputar dan menari di udara. Malam tadi, salju membuat Vancouver lebih terang dari biasanya. Malam ini malam yang putih.</p>
<p>Aku nyalakan komputer untuk memeriksa suhu tadi malam. Suhu udara malam itu minus dua. Besok bisa jadi suhu akan menjadi minus lima atau minus delapan.</p>
<p>Pagi ini aku berencana untuk pergi keluar. Mudah-mudahan salju pertama ini tidak bikin aku terpeleset di jalan. Jalanan akan licin karena salju yang mencair meninggalkan es membeku. Itu yang berbahaya dan bisa membuat orang terjatuh.</p>
<p>Sesuai peraturan di sini, pemilik properti bertanggung jawab atas trotoar atau lahan publik yang ada di depan atau sekelilingnya. Trotoar memang merupakan milik pemerintah kota. Namun tanggung jawab untuk membersihkan salju adalah tanggung jawab si pemilik properti. Bila salju di trotoar tak dibersihkan dan ada kecelakaan, maka orang yang celaka berhak menuntut pemilik properti tempat terjadinya kecelakaan.</p>
<p>Meski halaman wisma tak ada trotoar, tapi aku tetap keluar untuk mencari garam karena jalan keluar di wisma tertutup salju. Garam? Ya, cara agar jalanan tidak licin ketika bersalju adalah dengan menaburkan garam di atasnya.</p>
<p>Tadi aku sudah keluar membeli sekotak besar garam. Bus yang tadi kutumpangi berjalan lebih perlahan daripada biasanya. Supir harus siaga penuh. Jalan lebih licin daripada saat hujan. Ceroboh sedikit saja dalam memutar kemudi atau pijakan gas yang tak cermat, alamat celaka bisa datang.</p>
<p>Tadi aku menapak trotoar lebih perlahan daripada biasanya. Sesekali aku rasakan es yang membeku di jalan. Licin. Mudah-mudahan sepatu yang aku beli bisa menjalankan kegunaan terbaiknya, menjaga aku dari licinnya jalan dengan karet-karet tebal di solnya.</p>
<p>Syukurlah tadi aku sampai di wisma dengan baik. Hanya sempat terpeleset kecil di trotoar, tapi tak sampai jatuh. Es-es di wisma sudah aku bersihkan dengan sekop yang ada di garasi. Garam sudah kutabur. Jalan masuk wisma sudah tak lagi licin.</p>
<p>Uhmmm…kapan-kapan kita nikmati salju ini bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/salju-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

