<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tussie&#38;Reza&#039;s Weblog &#187; our stories</title>
	<atom:link href="http://www.tussie-reza.com/category/our-stories/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tussie-reza.com</link>
	<description>Let&#039;s make heaven on earth</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 04:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mitos Jawa</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/mitos-jawa/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/mitos-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 06:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Saya senang sekali melihat foto-foto saya, terutama yang berpakaian adat Jawa Solo. Kata mama saya, saya terlihat benar-benar berbeda, “Kayak bukan Tussie,” kata mama . Tapi siapa yang menyangka, kalau dibalik semua itu, ada sesuatu yang pasti tidak kalian sadari.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika melihat foto-foto pernikahan saya dan Reza, saya sering berpikir, “Wow, I’m married now. It feels so unreal!” Bayangan tentang pernikahan itu rasanya seperti kilatan sekejap yang pernah singgah, dan kemudian berlalu begitu saja. Padahal proses persiapannya memakan waktu cukup lama</strong>.</p>
<p>Saya senang sekali melihat foto-foto saya, terutama yang berpakaian adat Jawa Solo. Kata mama saya, saya terlihat benar-benar berbeda, “Kayak bukan Tussie,” kata mama . Tapi siapa yang menyangka, kalau dibalik semua itu, ada sesuatu yang pasti tidak kalian sadari.</p>
<p>Ini semua berawal dari mitos Jawa. Satu hari sebelum pernikahan, di rumah saya diadakan prosesi pengajian dan siraman. Mama saya memaksa ada upacara adat Jawa. Saya siy menganggapnya sebagai lucu-lucuan saja. Maka seharian itu saya didoakan dan disirami dengan air kembang dari tujuh sumber.</p>
<p>Setelah semua prosesi itu selesai, saya dan keluarga duduk-duduk di dalam rumah. Papi alias Pak De saya meminta saya untuk terus berpakaian kebaya lengkap. Walaupun saya sebenarnya sudah ingin buru-buru melepaskan kebaya yang membuat sesak itu.</p>
<p>Kemudian tiba-tiba hujan turun. Semakin lama semakin deras. Petir sambar menyambar, angin menggulung-gulung. Anak-anak menutup telinganya karena guruh yang memekakkan. Karangan bunga yang sudah datang rusak tergerus air. Tenda yang sudah dibangun doyong karena terlalu banyak menampung air hujan. Peralatan makan basah terkena tampias. Seluruh keluarga berbondong-bondong membereskan sound system agar tidak terkena air. Saya mulai khawatir. Dan seluruh keluarga juga khawatir.</p>
<p>Serta merta, tante-tante saya bertanya pada saya.<br />
“Tussie, tadi pagi kamu mandi ya?”<br />
“Iya, mandi donk!” jawab saya.</p>
<p>Lalu mata tante saya mendelik,<br />
“Lho, kenapa mandi? Kan sudah dibilangin. Penganten itu ngga boleh mandi! Tuh liat kan, jadi hujan sekarang!”</p>
<p>Dhuerrr!!! Satu lagi petir sambar menyambar.</p>
<p>Memang sebelumnya tante saya sudah mengingatkan agar saya tidak mandi agar hujan tidak turun. Tapi itu saya anggap sebagai lelucon dan angin lalu saja. Mana mungkin saya mempercayai semua mitos Jawa yang banyak dan tidak masuk akal itu. Apa hubungannya mandi dengan hujan? Lagipula, saya juga tidak ingin terjadi hujan hari ini. Ini kan bukan salah saya, memangnya saya bisa mengatur cuaca seperti pawang hujan?</p>
<p>Meski demikian, malam itu saya khawatir sekali. Saya takut besok, di hari pernikahan saya, hujan akan turun.<br />
Keesokan paginya, pukul 05.00, ponsel saya bordering. Saya bahkan masih bergelung dengan malas di dalam selimut. Tapi saya angkat juga telepon itu. Ternyata dari perias saya. Dia mengabarkan kalau dia sebentar lagi akan tiba di rumah saya.<br />
Saya lalu buru-buru mengambil air wudhu dan sholat subuh. Saya membaca Al Fatihah dan Al Ikhlas sebanyak 40 kali. Berdoa agar hari ini cuaca cerah dan tidak hujan, juga agar pernikahan saya lancar.</p>
<p>Setelah sholat subuh, ternyata perias saya sudah datang. Mama memanggil-manggil saya untuk segera dirias. Saya berpikir sejenak. Saya kan belum mandi, jadi sebaiknya saya mandi dulu atau tidak? Perkataan tante-tante saya terus terngiang-ngiang di kepala saya.</p>
<p><em>Penganten tidak boleh mandi. Kalau mandi, nanti akan turun hujan.</em></p>
<p>Hujan deras kemarin pun kembali terbayang-bayang. Sungguh mengerikan jika itu terjadi pada hari ini, mengingat akad nikah akan dilaksanakan di bawah tenda di depan rumah saya. Bagaimana kalau hujannya seperti kemarin? Bagaimana kalau petir menyambar ketika akad nikah sedang berlangsung? Hiii..saya ngeri membayangkan itu semua. Akhirnya, demi efisiensi waktu dan mitos Jawa yang terus membayangi, SAYA MEMUTUSKAN UNTUK TIDAK MANDI.</p>
<p>Saya kemudian dirias. Alhamdulillah, akad nikah berjalan lancar. Reza bisa mengucapkan ijab Kabul dengan sempurna. Cuaca cerah, awan gemawan berarak, matahari bersinar hangat hingga acara akad nikah selesai.</p>
<p>Kemudian kami berangkat ke gedung untuk resepsi pada malam harinya. Dalam perjalanan, sempat terjadi gerimis kecil. Kemudian awan gelap segera berlalu, berganti dengan matahari sore yang menyenangkan. Saya selalu suka dengan hangat matahari.</p>
<p>Hari berganti malam. Cuaca masih tetap bersahabat. Saya dirias dengan adat Jawa Solo untuk acara resepsi. Saya senang sekali, tidak ada hujan di hari pernikahan saya. Semua teman dan keluarga bilang, saya cantik sekali malam itu.</p>
<p>Tapi mereka semua tidak tahu kan, kalau mempelai wanitanya belum mandi sejak pagi?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_323" class="wp-caption aligncenter" style="width: 466px"><img class="size-full wp-image-323" title="IMG_0434" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/IMG_0434.JPG" alt="Ini lho penganten yang belom mandi itu :-D" width="456" height="685" /><p class="wp-caption-text">Ini lho penganten yang belom mandi itu</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/mitos-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat di Pernikahan Tussie dan Reza</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/04/nasihat-di-pernikahan-tussie-dan-reza/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/04/nasihat-di-pernikahan-tussie-dan-reza/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 07:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya dan Reza sudah menikah selama 20 hari. Hari ini juga, saya tiba-tiba ingin menuliskan nasihat-nasihat pernikahan yang kami terima ketika proses penikahan. Saya ingin membaginya pada siapa saja yang ingin membaca. Saya ingin menulisnya agar saya selalu ingat. Mudah-mudahan ketika nanti rumah tangga kami mengalami masalah, kami bisa terus mengingat nasihat-nasihat ini dan Insya Allah pernikahan kami tetap kuat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-288" title="akad kecil" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/akad-kecil-300x224.jpg" alt="akad kecil" width="300" height="224" /><strong>Hari ini saya dan Reza sudah menikah selama 20 hari. Hari ini juga, saya tiba-tiba ingin menuliskan nasihat-nasihat pernikahan yang kami terima ketika proses penikahan. Saya ingin membaginya pada siapa saja yang ingin membaca. Saya ingin menulisnya agar saya selalu ingat. Mudah-mudahan ketika nanti rumah tangga kami mengalami masalah, kami bisa terus mengingat nasihat-nasihat ini dan Insya Allah pernikahan kami tetap kuat.</strong></p>
<p>Setidaknya, ada dua ustadz yang memberikan nasihat pernikahan pada saya. Ustadz pertama adalah Ustadz Anwar Sanusi. Ustadz Anwar memberi nasihat dalam acara pengajian di rumah saya. Dia meminta saya untuk selalu berkata manis pada suami, kelak nanti ketika kami sudah menikah.</p>
<p>“Jangan memanggil suami kamu dengan namanya. Panggillah dia dengan panggilan sayang. Seperti Nabi Muhammad memberi julukan yang indah pada Siti Aisyah, yaitu Humaira. Humaira berarti wanita yang pipinya kemerah-merahan. Sekecil apapun, jangan berkata kasar pada suami, berlemah lembutlah kepadanya,” katanya ketika itu.</p>
<p>Meskipun ini nasihat kecil, tapi saya tahu penerapannya tidaklah semudah yang dibayangkan.</p>
<p>Nasihat lain yang masih membekas hingga saat ini adalah nasihat dari Ustadz Syaiful Naumin. Ustadz Syaiful Naumin memberi nasihat kepada saya dan Reza, hanya beberapa menit setelah kami dinyatakan sah sebagai suami dan istri.</p>
<p>Dia berkhutbah cukup panjang, tapi ada satu cerita yang membuat saya hampir saja menitikkan air mata. Ketika dia berkisah tentang pernikahan-pernikahan Nabi Muhammad, setelah malaikat Izrail menjemput salah satu dari mereka lebih dulu. Saya dan Reza tidak bisa mengingat persis kata per kata dari khutbah itu. Tapi, kira-kira seperti ini intinya.</p>
<p>Setelah kematian Nabi Muhammad, konon salah seorang sahabat Nabi bertanya pada Aisyah,</p>
<p>“Apa yang bisa kamu kenang dari Rasulullah?”</p>
<p>Aisyah terdiam sesaat, kemudian dia menjawab,<br />
“Rasulullah tidak pernah memanggil saya dengan nama saya. Rasulullah selalu memanggil saya dengan sebutan sayang. Selama menikah, Rasulullah tidak pernah berkata dan berperilaku kasar pada saya,”</p>
<p>Kemudian Ustadz Syaiful Naumin berkata pada Reza,<br />
“Ananda Reza, jika suatu saat nanti Allah berkehendak engkau dipanggil lebih dulu daripada ananda Tussie, saya ingin agar nanti Tussie bisa berkata tentang dirimu, seperti yang Aisyah katakan tentang Rasulullah.”</p>
<p>Kemudian Ustadz Syaiful Naumin melanjutkan cerita tentang Nabi Muhammad setelah Khadijah meninggal dunia. Konon hingga beberapa tahun setelah kematian Khadijah, Nabi Muhammad masih sering terkenang akan istri pertamanya itu. Nabi seringkali menyebut nama Khadijah.</p>
<p>Siti Aisyah yang saat itu sudah menikah dengan Rasulullah pun terbit rasa cemburunya. Dia berkata pada Nabi,</p>
<p>“Ya Rasulullah, bukankah Khadijah hanya seorang wanita tua? Mengapa engkau selalu mengingatnya?”</p>
<p>Mendengar ucapan Aisyah, wajah Nabi Muhammad merah padam. Dengan menahan amarah, dia berkata pada Aisyah.</p>
<p>“Tidak. Dia bukan sekedar wanita tua. Khadijah selalu ada di samping saya. Ketika orang lain tidak percaya pada apa yang saya katakan, hanya Khadijah yang mempercayai saya. Ketika semua orang mencemooh saya, hanya Khadijah yang mendukung saya dengan seluruh harta, jiwa dan raganya.”</p>
<p>Lalu Ustadz Syaiful Naumin berkata pada saya,</p>
<p>“Ananda Tussie, jika suatu saat nanti Allah berkehendak engkau dipanggil lebih dulu daripada Ananda Reza, saya ingin ananda Reza mengatakan hal yang sama tentang dirimu, seperti yang dikatakan Rasulullah tentang Khadijah.”</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/04/nasihat-di-pernikahan-tussie-dan-reza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masakan Kamu Enak Kok</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/masakan-kamu-enak-kok/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/masakan-kamu-enak-kok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 00:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[masak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Saya dan Tussie adalah penikmat makanan. Sudah berbagai macam restoran atau warung kami jelajahi bersama. Kalau ada informasi tentang tempat makan yang enak, pasti kami akan sambangi. Saya tahu beberapa tempat makan enak. Dia juga tahu lokasi-lokasi dengan makanan yang mengundang selera.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Reza Reflusmen</p>
<p>Saya dan Tussie adalah penikmat makanan. Sudah berbagai macam restoran atau warung kami jelajahi bersama. Kalau ada informasi tentang tempat makan yang enak, pasti kami akan sambangi. Saya tahu beberapa tempat makan enak. Dia juga tahu lokasi-lokasi dengan makanan yang mengundang selera.</p>
<p>Waktu pacaran sering kami habiskan sambil menyantap bumbu-bumbu lezat, mencium aroma makanan yang yummy…., dan juga melihat mulut satu sama lain yang kadang berantakan dengan makanan. “Anak ayamnya ketinggalan tuh”, ujarku bila melihat ada satu butir nasi menempel di ujung bibir Tussie tanpa ia sadari. Kadang-kadang dia juga ketawa kalau saya makan dengan berantakan.</p>
<p>Itu kalau makan. Bagaimana kalau masak??</p>
<p>Saya suka masak. Seperti mama saya di rumah yang suka masak tanpa resep namun hanya sekedar mencampur bahan-bahan yang ada di kulkas menjadi santapan lezat, saya juga suka mencoba hal yang sama. Bagi saya, resep makanan adalah apa yang terbayang di dalam kepala. Apa bahan yang tersedia, itu yang masuk wajan. Tinggal bermain dengan bumbu bawang putih, garam dan gula, maka makanan siap tersaji (Tapi kalau saya masak jangan tanya rasa. Kadang enak, kadang juga hambar).</p>
<p>Tapi kalau tentang Tussie memasak, awalnya saya pikir pasti dia ngga bisa masak. Saya perhatikan, anak cewek zaman sekarang tidak secakap ibunya dalam urusan dapur. (Tapi ini tidak mengeneralisasi bahwa semua anak cewek begitu). Tussie kalau disuruh masak ngga pede. Dia bilang masakannya pasti ngga enak, padahal dia belum mencoba.</p>
<p>Tapi sebenarnya masakan Tussie enak juga. Asal mau mencoba, pasti bisa. Buatku rasa nomor dua, yang penting kalau mau masak ya coba dulu. Buktinya Tussie pernah membawakan saya mashed potato yang menurutku rasanya beda banget dengan makanan serupa yang pernah saya makan. Mashed potato a la Tussie punya rasa yang manis, sedikit asin. Aromanya cukup  nyaman. Buat seorang yang jarang masak, masakannya saat itu cukup enak.</p>
<p>Nah, setelah itu sepertinya Tussie makin pede buat memasak. Masakannya enak lho. Pernah beberapa kali dia memberikan hidangan special buat saya. Dan jujur saja masakannya enak. Ini penilaian obyektif. Saya memuji bukan karena dia pacar saya.</p>
<p>Memang masakannya bukan kualitas chef-chef di hotel berbintang, tapi buatku, rasa masakannya cukup enak dan saya menikmatinya. Hmmm….sllrruuupppp</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/masakan-kamu-enak-kok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakatnya Menulis</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/bakatnya-menulis/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/bakatnya-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 00:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari berikutnya di Jurnal Nasional berlalu dengan duduk di depan Tussie yang serius, dan seringkali terlihat jutek. Dia kerap datang sore-sore dari liputan TNI. Wajahnya tampak berminyak. Saya sering melihat dia merogoh kapas dan face oil cleanser dari laci mejanya. Meski wajahnya selalu tampak serius, tapi saya merasakan bahwa ia juga bisa asyik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Reza Reflusmen</p>
<p><strong>Hari-hari berikutnya di Jurnal Nasional berlalu dengan duduk di depan Tussie yang serius, dan seringkali terlihat jutek. Dia kerap datang sore-sore dari liputan TNI. Wajahnya tampak berminyak. Saya sering melihat dia merogoh kapas dan face oil cleanser dari laci mejanya. Meski wajahnya selalu tampak serius, tapi saya merasakan bahwa ia juga bisa asyik.</strong></p>
<p>Saya ingat pertama kali chatting dengan Tussie, padahal kami duduk saling berhadapan, ya..dengan dibatasi dua monitor flat screen. Saya pikir dia hanya bisa diajak bicara serius. Tapi ternyata kata-kata yang sering muncul di jendela Yahoo Messenger itu adalah hihhii…, hehehehehe…., he3x…, <img src='http://www.tussie-reza.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ), hahahha…, dan semacamnya. “Wah, ini anak kok becanda melulu siy?”.</p>
<p>(Selanjutnya setelah pacaran kadang saya suka kesal karena saat ingin bicara serius, dia hanya cengengesan, senyum-senyum. Katanya biar ngga stress. Itulah sifatnya Tussie).</p>
<p>Tapi saat udah pacaran kalau saya becanda disaat dia serius, dia bisa marah. Sebel. Karena merasa ngga ditanggapi. Padahal saya begitu biar ngga stress. Hehehehe….</p>
<p>Kalau Tussie udah marah, nah itu kabar buruk. Bisa-bisa sehari ngga bisa ditegur. Tapi hari berikutnya, ajak bicara lagi, dan kami mulai me-review apa yang salah, apa yang ngga disuka, dan setelah itu “cinta bersemi kembali”.</p>
<p>Setelah beberapa saat mengenal Tussie, ia tidaklah selalu jutek itu. Dia punya senyum yang manis. Selain itu, dia ternyata pemakan segala. Omnivora. Tak boleh lengah dengan makananmu, pasti tanpa tedeng aling dia akan makan. Tussie ngga jaim dengan makanan. Beberapa kali dia dengan senang hati memakan nasi goreng yang kutawarkan, meskipun sebenarnya penawaran itu hanya sekedar basa-basi khas Indonesia.</p>
<p>Lalu, kalo udah urusan ngatain orang, Tussie juga punya bakat. Dia pintar sekali cari kata-kata buat ngatain. Saya cuma berpikir dia harus hati-hati. Jangan sampai ngatain dengan niat becanda, malah jadi bikin orang salah menerima.</p>
<p>Sisi lain yang saya perhatikan adalah Tussie kukuh dalam mempertahankan pendapatnya. Selama itu benar menurutnya, logis, maka itu adalah yang benar. Dia kulihat cukup keras dalam mempertahankan apa yang ia yakini. Jangan lawan Tussie dengan cara yang sama dengannya, keras. Itu kesimpulan yang saya ambil dari pengamatan saya.</p>
<p>Di luar gayanya yang bisa serius dan tidak, bakat terbesarnya, sampai saat ini yang saya rasakan, adalah menulis. Kecerdasannya terlihat dari gaya tulisannya. Caranya menulis berbeda dengan gaya menulis di koran-koran lain. Saya tak mau membandingkan kemampuan saya menulis dengannya.  Saya pikir, mungkin dia memang terlatih di kampus. Beda denganku yang boleh dibilang “kecemplung” di dunia jurnalistik.</p>
<p>Saya sering mengamati tulisan-tulisannya di koran. Meskipun tak setiap hari saya baca beritanya, tapi setiap saya membaca berita yang dia tulis saya merasakan bahwa gayanya menulis memang lain. Bahkan bila dibandingkan tulisan wartawan KOMPAS sekalipun, tulisannya tetap lain. Saya pernah menulis namanya di google. Ada beberapa link yang berkaitan. Tapi yang menarik adalah tulisannya di blog. Blog itu unik. Saya suka caranya bercerita. Ide-ide dalam kepalanya bisa mengalir dalam tulisan. Bukan salah kalau dia jadi wartawan karena memang ia pandai mengolah ide dalam tulisan.</p>
<p>Tulisan-tulisan Tussie terangkai dengan sangat baik. Dia bikin saya iri dengan kemampuan menulisnya. Beberapa tulisan tentang pendaki TNI bernama Asmujiono atau tentang Tan Malaka, hasil ngobrol-ngobrol dengan Harry Poeze, diceritakan dengan menarik. Saya bandingkan dengan tulisan yang sama di koran lain, tulisan Tussie di koran membawa pembaca seperti membaca cerpen.</p>
<p>Silahkan masuk ke blog Tussie di tussieayu.multiply.com atau www.tussieayu.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/bakatnya-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awal Bertemu</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/awal-bertemu/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/awal-bertemu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 00:27:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[pertemuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saya tak salah, saat itu hari Kamis. Saya memilih rute jalan yang berbeda dari biasanya. Seperti biasa, karena saya tak mengenal daerah Rawamangun dengan baik, saya berangkat lebih pagi. Tahu saja, lalu lintas Jakarta tak pernah bersahabat bagi penduduknya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Reza Reflusmen</p>
<p><strong>Kalau saya tak salah, saat itu hari Kamis. Saya memilih rute jalan yang berbeda dari biasanya. Seperti biasa, karena saya tak mengenal daerah Rawamangun dengan baik, saya berangkat lebih pagi. Tahu saja, lalu lintas Jakarta tak pernah bersahabat bagi penduduknya. Jadi bila ingin sampai tujuan tepat waktu, berangkatlah jauh-jauh sebelum waktu yang direncanakan. Beruntung bila tetap bisa tiba tepat waktu di tengah lalu lintas kota yang bagai hutan rimba, tak ada aturan.</strong></p>
<p>Mulai hari Kamis ini, tempat kerja saya berbeda. Saya tak lagi menempuh perjalanan ke wilayah selatan kota Jakarta. Kini saya harus berjalan ke timur Jakarta. Jurnal Nasional di daerah Rawamangun adalah tujuan saya.</p>
<p>Setelah gonta-ganti angkot, dengan peluh yang seperti biasa mengucur dari badan, saya tiba di gedung empat lantai ini sebelum jam 9, sebelum waktu janji dengan Pak Agus –staf HRD- tiba. Setelah menunggu beberapa saat, saya dan lima orang reporter baru naik ke ruang redaksi. Kami berkenalan dengan beberapa reporter, dan beberapa orang lainnya.</p>
<p>Sebagian besar wajah-wajah baru yang kutemui sepertinya sebaya denganku. Hmmm…mungkin ini akan jadi pengalaman yang baru, mungkin menyenangkan, bekerja dengan kolega-kolega yang masih seumuran. Oh iya, di antara wajah-wajah baru yang kutemui, ada Tia, kenalan sejak di kampus dulu.</p>
<p>Kami para reporter baru berkumpul di ruang rapat (sepertinya itu ruang rapat). Kami duduk mengelilingi meja oval yang bila dilihat dari fisiknya, masih baru, gres. Beberapa kursi yang ada di sana pun masih terbungkus plastik. “Sampoerna boss,” setidaknya itu kata Mas Anton, sesama reporter baru yang duduk di sampingku. Pasti semua tahu Sampoerna, si penggede rokok. Mungkin uangnya tak ada seri, jadi mendanai perusahaan media cetak, pastilah bukan masalah, begitulah pikirku.</p>
<p>Beberapa saat menunggu, akhirnya kami “anak baru” ditunjukkan tempat duduk. Saya duduk di samping Tia, persis. Jadi karena Tia sudah kukenal, dia yang saya ajak bicara. Karena tadi banyak sekali yang kusalami, jadi saya tak hapal langsung nama-nama mereka. Jadi kugambar kotak-kotak menyerupai denah lantai itu. Saya tulis di kotak-kotak itu nama orang-orang yang kusalami. Sambil sesekali saya bertanya ke Tia, siapa yang duduk di situ, sini, sana, dll.</p>
<p>Mungkin saat itu sudah siang atau sore, saya lupa, datang seorang reporter. Saya belum mengenalnya. Rambutnya panjang. Kalau tak salah, dia memakai baju merah. Kami berkenalan. Namanya Tussie. Nama yang tak biasa. Lebih terdengar seperti Lusi atau Susi. Nama lengkapnya Tussie Ayu Riekasapti. Nama yang bagus walaupun saya hanya tahu arti nama tengahnya.</p>
<p>Tussie ternyata juga kuliah di Unpad. Dia teman baik Dita Astari, rekanku semasa SMA. Mereka juga kuliah di jurusan yang sama, Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM). Saya pernah beberapa kali bertemu Dita di kampus dan sepertinya saya pernah berkenalan dengan beberapa mahasiswa FIKOM. Tapi tak sekalipun saya mengenal Tussie saat kuliah.</p>
<p>Tussie..hmmm..dia manis. Rambutnya panjang. Posturnya semampai. Namun saat pertama bertemu dengannya, kesan pertama yang kutangkap adalah mukanya yang jutek. Judes. Sepertinya waktu itu bukan waktu yang tepat untuk mulai berteman dengannya. Saya menangkap bahwa saat itu dia sedang ngga mood. Hfff….kapan-kapan kali saya ngobrol dengannya, pun kotak-kotak denah ini belum selesai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/09/25/awal-bertemu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Datang dan Pergi, Tapi Dia Tidak Pernah Pergi</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/cinta-datang-dan-pergi-tapi-dia-tidak-pernah-pergi/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/cinta-datang-dan-pergi-tapi-dia-tidak-pernah-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 05:34:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[tidak pernah pergi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Cinta menguntit waktu yang terus berjalan. Suatu ketika kita jatuh cinta pada seseorang. Ada masanya kita meninggalkan seseorang. Tapi ada kalanya kita yang ditinggalkan seseorang.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Cinta menguntit waktu yang terus berjalan. Suatu ketika kita jatuh cinta pada seseorang. Ada masanya kita meninggalkan seseorang. Tapi ada kalanya kita yang ditinggalkan seseorang.<br />
</strong><br />
Teman saya Riki Dhanu pernah mengatakan,<br />
“Tenang aja Tuss, cinta datang dan pergi.” Itu kalimat yang dikatakannya sambil lalu. Mungkin Riki lupa pernah mengatakannya pada saya, tapi saya suka kalimat itu. Cinta memang seringkali datang dan pergi. Tapi waktu terus berjalan, dan kita tidak diberi banyak waktu untuk terus menagisinya. Kita akan meninggalkan cinta usang di belakang, dan kita akan menjemput cinta baru yang ada di depan.</p>
<p>Cinta memang perasaan yang aneh, juga membingungkan. Ketika kita mengatakan pada seseorang kita mencintainya, terkadang kita juga tidak tahu, apakah kita jujur ketika mengatakannya? Kita mengatakan cinta. Kata itu mungkin hanya didedikasikan untuk saat itu saja. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi kemudian.</p>
<p>Saya dan RJ pernah melewati masa-masa suram. Kami pernah berada di suatu masa, di mana saya sangat sulit dimengerti. Masa ketika saya hanya ingin sendiri, dan saya tidak menginginkan dia. Saya meminta dia untuk pergi, saya memohon dia untuk meninggalkan saya. Tapi dia tidak pernah pergi.</p>
<p>Itu bukan pertama kalinya terjadi. Saya memang selalu meminta lelaki-lelaki itu untuk pergi, walaupun terkadang saya sebenarnya masih cinta. Tapi saya tidak peduli, siapapun yang membuat saya kesal, siapapun yang tidak tahu bagaimana menghargai saya, akan saya minta untuk angkat kaki dari hati saya. Semua laki-laki itu selalu menuruti keinginan saya. Hanya satu orang yang begitu keras kepala dan tetap bergeming. Dia adalah RJ.</p>
<p>Hingga di kemudian hari, ketika saya sudah sembuh, saya merasa bahwa dia memang laki-laki yang selama ini saya cari. Kini saya selalu tidak habis pikir, bagaimana dia bisa melalui masa-masa itu? Masa-masa ditinggalkan, masa-masa tidak diinginkan, tapi dia selalu ada untuk saya.</p>
<p>Ketika kami bertengkar, dia seringkali mengirimkan sms pada saya. “Aku kangen kamu, bahkan di saat-saat seperti ini.” Well, laki-laki seperti ini tidak akan saya temui di pinggir jalan, tidak di biro jodoh, tidak juga pada situs pertemanan di internet. Ini mungkin laki-laki yang hanya saya temui sekali seumur hidup.</p>
<p>Galuh Pangestu Indraswari, seorang sahabat saya pernah mengatakan. “Tuss, RJ itu cowo paling baik yang pernah lo miliki. Jangan biarkan dia lewat begitu saja.”</p>
<p>Sahabat memang tahu segalanya.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/cinta-datang-dan-pergi-tapi-dia-tidak-pernah-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Hari yang Baik</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/mencari-hari-yang-baik/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/mencari-hari-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 05:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 28 Februari 2009. Sore yang redup. Awan kelabu bergumpal-gumpal di angkasa, menyembunyikan matari dari keganasannya. Namun, tak ada setitik pun hujan yang jatuh. Sore itu, Saya dan RJ berjalan-jalan mengisi perut di Senayan City. Saya memesan okonomiyaki tuna kesukaan saya.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Sabtu, 28 Februari 2009. Sore yang redup. Awan kelabu bergumpal-gumpal di angkasa, menyembunyikan matari dari keganasannya. Namun, tak ada setitik pun hujan yang jatuh. Sore itu, Saya dan RJ berjalan-jalan mengisi perut di Senayan City. Saya memesan okonomiyaki tuna kesukaan saya.<br />
</strong><br />
Ketika sedang menyumpit okonomiyaki dan menjejalkannya ke dalam mulut, RJ tiba-tiba mengatakan sesuatu yang hampir saja membuat saya tersedak.</p>
<p>“Yang, kamu mau kita nikah kapan?”</p>
<p>Meskipun saya tahu RJ akan menanyakan hal ini pada saya, tapi tetap saja saya terkejut ketika dia benar-benar menanyakannya. Tapi dengan berpura-pura tetap tenang dan tetap memakan okonomiyaki, saya menjawab,</p>
<p>“Emang kamu udah bilang sama orang tua kamu?”</p>
<p>RJ lalu menganguk pelan.<br />
Saya bertanya kembali.</p>
<p>“Mereka bilang apa?”<br />
“Mereka bilang terserah kita mau nikah kapan. Orang tua aku ngikutin kita aja. Katanya kita mulai aja nyicil-nyicil nyiapinnya.”</p>
<p>“Ooo..” kata saya. “Uhmmm… Aku mungkin ngga bisa jawab sekarang. Karena aku harus nanya dulu sama keluarga aku. Emang kamu maunya kita nikah kapan?” saya balik bertanya pada RJ sambil mengunyah okonomiyaki.</p>
<p>“Kayaknya abis lebaran aja. Kan ngga terlalu buru-buru tuh. Nanti kalo udah tau kira-kira mau kapan, aku dateng ngelamar kamu. Kita dari sekarang udah nyicil-nyicil aja, mulai nanya-nanya gedung, terus gimana adat melamar di keluarga kamu, terus tentuin tanggal, terus berapa yang mau diundang,”</p>
<p>“Tunggu yang…tunggu dulu,” kata saya dan berhenti memakan okonomiyaki.<br />
Tiba-tiba saya pusing memikirkan betapa banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah. “Kayaknya kita pikirin lamaran dulu deh. Soal yang lain ntar aja.”</p>
<p>Lalu saya kembali menyantap okonomiyaki sambil berpikir. “Hah? Apakah gue akan menikah tahun ini?” Sebenarnya saya memang ingin menikah, mengingat umur sudah semakin memanjat naik. Tapi ketika hal itu datang, rasanya seperti tidak nyata.</p>
<p>Saya lalu menyusun rencana di otak saya. Mungkin besok saya akan membicarakan hal ini pada mama. Lalu mama pasti akan mengembangkan senyum dengan lebar. Karena dia sesungguhnya sudah menyuruh saya menikah sejak lama, dan dia sudah merindukan cucu.</p>
<p>Dari Senayan City, RJ mengantarkan saya pulang. Di rumah ada papa dan mama sedang menonton tv. Saya dan RJ lalu bergabung menonton tv. Tiba-tiba, seperti sudah mendapatkan wangsit, mama bertanya pada RJ.</p>
<p>“Jadi kalian berdua rencananya gimana ke depan?”</p>
<p>RJ lalu melirik pada saya, dan mencolek-colek kaki saya. Saya pura-pura mati rasa dan seperti tidak tahu ada yang mencolek. Saya tetap menonton tv, dan membiarkan RJ kebingungan menjawab pertanyaan mama. Saya pura-pura tidak mendengar.</p>
<p>Rasanya seperti ada di ruang ujian, dan seorang teman meminta contekan. Saya tidak berusaha membantu RJ menjawab pertanyaan. Saya membiarkan dia menjawab sendiri soal-soal ujian itu.</p>
<p>RJ sepertinya menyadari kalau saya memang tidak berniat membantunya menjawab pertanyaan mama. Karena mulut saya tetap tertutup dan tidak ada tanda-tanda akan bersuara.</p>
<p>RJ terdiam sesaat. Lalu dia menjawab,</p>
<p>“Justru sebenarnya saya yang mau nanya sama Om dan Tante. Kalau di keluarga ini, gimana adat melamarnya? Saya sudah bilang sama keluarga saya. Keluarga saya bilang, terserah saya mau menikah kapan. Tapi saya juga mau tahu gimana adat melamar keluarga Om dan Tante.”</p>
<p>Senyum mama lalu benar-benar mengembang seperti di bayangan saya sebelumnya. Lalu pembicaraan-pembicaraan tentang pernikahan mengalir dengan deras. Mama kemudian mengambil buku catatan. Tebak apa yang mama lakukan? Mama bertanya tanggal lahir dan nama lengkap RJ. Mama akan melaporkan nama lengkap dan tanggal lahir kami berdua pada kakak mama yang tertua, yang tinggal di Kepanjen, pedalaman Malang sana. Saya memanggil kakak mama yang tertua itu dengan sebutan “Papi”. Papi sangat pintar menghitung hari baik menurut tanggalan Jawa.</p>
<p><em>Primbon rules begin!<br />
</em><br />
***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/mencari-hari-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimpi</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 10:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[berlin]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Vancouver]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hidup, saya punya beberapa kelompok bermain. Salah satu kelompok bermain saya yang asyik adalah geng Cisarua. Geng Cisarua adalah kumpulan wartawan amatir dan katro dari Jurnal Nasional.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Dalam hidup, saya punya beberapa kelompok bermain. Salah satu kelompok bermain saya yang asyik adalah geng Cisarua. Geng Cisarua adalah kumpulan wartawan amatir dan katro dari Jurnal Nasional. Kami kebetulan masuk di Jurnal Nasional sebagai angkatan pertama. Kami sempat bersama-sama mengikuti pelatihan jurnalistik di Cisarua, Puncak. Jadi kami sering menyebut diri sebagai Geng Cisarua, tapi nama lain kami adalah Geng (sok) Keren.</strong></p>
<p>Akhirnya, tidak semua angkatan pertama bisa tetap sering hang out hingga sekarang. Dari 21 orang angkatan pertama, hanya beberapa yang masih sering berkumpul. Selain saya, anggota geng gosip ini adalah Meita Annisa, Okky Puspa Madasari, Grathia Pitaloka, Cininta Analen, Suci Dian Hayati, Dwi Fitria, Ika Karlina Idris, Januarti Sinnara Tjajadi dan Nunik Triana.</p>
<p>Kami adalah kumpulan cewe-cewe cerewet bersuara besar. Kami juga terkadang sok intelek dan sok feminis. Kami adalah perempuan-perempuan pemimpi, yang punya banyak kemauan dan selalu memiliki energi yang berlebihan (kecuali Cininta). Kesamaan-kesamaan dan kekacauan-kekacauan itu yang membuat kami selalu kompak.</p>
<p>Dalam urusan memilih lelaki, kami juga sangat cerewet. Satu hal yang kami sepakati, kami harus memilih lelaki yang mempunyai mimpi besar dan mau berusaha untuk menggapai mimpinya.</p>
<p>Hal ini juga yang saya lihat ada pada RJ. Sejak SMA, RJ punya mimpi untuk menjadi diplomat. Dia sudah memetakan jalan hidupnya, bahkan sejak remaja lain belum tahu akan menjadi apa kelak. Dia memulai perjalanan mimpinya dengan kuliah di Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran.</p>
<p>Selama menjadi wartawan, saya pernah liputan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Australia dan Perwakilan Uni Eropa di Indonesia. Saya pernah beberapa kali mewawancarai atau sekedar ngobrol dengan para diplomat dari dalam dan luar negeri. Percaya atau tidak, saya melihat ada embrio seorang diplomat dari dalam diri RJ.</p>
<p>Secara umum, para diplomat itu selalu bersikap ramah, tenang dan sopan. Diplomat juga punya satu ciri umum yang khas, mereka pintar sekali ngeles dari pertanyaan-pertanyaan tajam wartawan. Seburuk apapun hubungan Indonesia dan negara mereka, mereka selalu membuat seolah-olah “Everything is alright. Indonesia and my country have a long and strong relationship”.</p>
<p>Nah, semua tanda-tanda umum para diplomat itu ada di dalam diri RJ. Saya berani bertaruh, tidak ada pekerjaan lain yang lebih cocok buat RJ, selain menjadi diplomat.</p>
<p>Sekitar dua tahun kedekatan kami, sudah banyak yang terjadi. Perubahan terbesar adalah kepindahan RJ dari Jurnal Nasional. Beberapa bulan kemudian, saya juga keluar dari Jurnal Nasional dan pindah ke tvOne.</p>
<p>Akhir 2007, RJ mengikuti serangkaian tes di Departemen Luar Negeri. Tes pertama, tes kedua, tes ketiga dan tes keempat bisa dilewati dengan lancar.</p>
<p>Tapi tes terakhir adalah wawancara. Saya tahu benar bagaimana kualitas RJ. Saya yakin, dia bisa melewati tes-tes ini. Tapi ada satu kekurangannya yang saya khawatirkan. RJ seringkali kesulitan untuk menyampaikan apa yang dia pikirkan. Dia acapkali kesulitan untuk merangkai kata, sekedar untuk menyampaikan isi kepalanya. Dia berbicara dengan tidak terstuktur. Padahal bagi diplomat, tentu saja dibutuhkan kemampuan komunikasi interpersonal yang baik.</p>
<p>Malam sebelum tes wawancara, saya berakting layaknya Duta Besar Indonesia untuk Finlandia (malam itu cuma Finlandia yang terlintas di benak saya). Saya menanyainya tentang isu-isu hubungan internasional yang saya baca di koran. Betapa terkejutnya saya, ternyata RJ gelagapan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.</p>
<p>“Kamu tuh besok mau tes, kok aku tanyain begitu aja ngga tau siy?”<br />
“Ganti aja pertanyaannya,”<br />
“Tapi itu kan isu-isu internasional yang udah ada di koran-koran. Emangnya kamu ngga baca koran?”<br />
“Baca, tapi aku ngga baca yang itu,”<br />
“Ya udah, aku ganti ya pertanyaannya. Oiya, kamu tuh kalo ngomong yang terstruktur donk. Kamu mulai dari pokok pikirannya, terus kamu jelasin, kenapa kamu berpendapat seperti itu. Harus urut ngomongnya, jangan lompat-lompat,”<br />
“Uhmmmmm….Yang…aku ngantuk. Aku mau tidur aja,”<br />
“Apaan? Boong banget kamu ngantuk! Bilang aja kamu males belajar,”</p>
<p>Saya memang duta besar gadungan yang sangat galak. Malam itu ditutup dengan pertengkaran yang tidak selesai. Tapi kekhawatiran saya terbukti esok harinya. RJ diwawancara oleh tiga orang Duta Besar. Dan ini menjadi tes paling berat baginya.</p>
<p>Usai wawancara, dia datang ke kosan saya. Langkahnya gontai, wajahnya berminyak, rambutnya awut-awutan, jasnya sudah kusut. “Total mess!” Itu kalimat pertama yang dia ucapkan pada saya.</p>
<p>Dia belum makan siang. Saya lalu menemaninya makan siang di restoran A&amp;W di Rawamangun. Beribu kata yang saya ucapkan tidak mampu mengobati kekecewaannya pada diri sendiri. Biasanya, RJ selalu bisa melahap dua porsi makanan. Tapi hari itu, tidak banyak makanan yang bisa melewati kerongkongannya. Mozza burger yang empuk, tebal, dengan daging asap crispy yang terselip di dalamnya terasa hambar. Langkah RJ sudah begitu lunglai. Dia menyangka impiannya menjadi diplomat semakin samar.</p>
<p>Tapi kegontaian itu segera terbayar tuntas pada 3 Desember 2007. Ketika itu, saya sedang berada di Bali untuk meliput United Nation Frameworks Convention on Climate Change (UNFCCC). Saya sedang mengetik berita di ruang pers. Lalu ada sebuah sms masuk ke HP saya. Isinya cuma satu kalimat.</p>
<p>“Ayang, aku lulus.”</p>
<p>***</p>
<p>Akhir Januari 2008, RJ menjejakkan kaki di Gedung Pancasila yang bersejarah di Jalan Pejambon. Lebih dari 6o tahun lalu, Radjiman Wedyodiningrat, R.P. Soeroso, Hibangase Yosio, Soekarno, Moh. Hatta, M. Yamin dan Wachid Hasyim pernah melangkah di gedung ini untuk meletakkan pondasi awal bangsa ini.</p>
<p>Mereka tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dan kemudian bermetamorfosis menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Mereka meninggalkan jejak bersejarah di gedung ini, yaitu Undang-undang Dasar 1945. Dan kini, RJ datang ke gedung yang sama sebagai calon diplomat.</p>
<p><em>One big step for his dream</em></p>
<p>Setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Pendidikan Deplu (Sekdilu) selama hampir satu tahun, <em>the new crème de la crème</em> harus siap untuk magang selama 3 bulan di perwakilan Republik Indonesia di seluruh dunia. RJ ditempatkan di Vancouver, Canada.</p>
<p>Pada 28 Oktober 2008, RJ bertolak ke Vancouver.</p>
<p>***</p>
<p>Saya punya banyak cita-cita, dan setiap hari cita-cita saya semakin beranak-pinak. Jika saya berhasil meraih satu cita-cita, keinginan lain akan muncul, dan saya akan selalu sibuk untuk mengejar mimpi-mimpi itu.</p>
<p>Ketika memasuki tahun 2008, saya punya resolusi “harus bisa mendapatkan beasiswa, atau minimal fellowship ke luar negeri”. Sepanjang tahun itu, saya mengajukan tiga fellowship ke Jerman, Amerika, dan Italia. Tapi tidak ada satupun yang berhasil. Ketika memasuki tahun 2009, saya hampir saja putus asa pada cita-cita itu. Resolusi saya ketika memasuki tahun 2009 adalah “menjadi anak yang baik”.</p>
<p>Tapi Tuhan memang suka menguji kesabaran. Awal 2009, saya merasa sangat kesepian karena RJ masih berada di Vancouver. Saya mulai berpikir untuk mengejar mimpi 2008 yang belum selesai. Saya kembali mencari fellowship yang akan membawa saya ke Eropa, tanah impian.</p>
<p>Saya menemukan satu fellowship yang sangat saya butuhkan untuk mendukung pekerjaan saya saat ini. Short course itu bernama &#8220;Multimedia and Online Journalism&#8221;, diadakan oleh <em>International Institute for Journalism of InWent</em> yang berpusat di Bonn, Jerman.  Tapi kursus singkat ini akan diadakan di Berlin.</p>
<p>Kali ini, saya tidak ingin mengulangi kesalahan. Saya mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan dengan super teliti. Persiapan untuk melengkapi berkas-berkas itu tidak kurang dari satu bulan. Sepulangnya RJ dari Vancouver, saya meminta RJ memeriksa application letter saya berulang-ulang, hingga saya pikir application letter itu sudah sempurna.</p>
<p>Setelah saya yakin semua sudah sempurna, saya lalu menyerahkan berkas-berkas itu ke Kedutaan Jerman di Jakarta, sekaligus tes wawancara. Saya berangkat dari kantor 1,5 jam sebelum waktu wawancara yang ditentukan. Saya pikir semua sudah sempurna dan berjalan sesuai rencana. Ternyata Tuhan masih mau bermain-main dengan saya. Tuhan tidak akan memberikan kenikmatan semudah itu, masih harus ada drama yang harus dilakoni.</p>
<p>Ketika sedang menyetir sendiri ke Kedutaan Jerman, tiba-tiba kaca pintu mobil saya lepas dari rel-nya. Saya tidak bisa memarkir mobil dengan kaca yang tidak bisa ditutup, saya juga sudah tidak bisa kembali ke kantor atau kosan untuk memarkir mobil. Saya hanya punya waktu sekitar 30 menit lagi sebelum waktu yang ditentukan untuk tes wawancara.</p>
<p>Yang terpikir saat itu adalah memanggil bantuan “911”, yaitu RJ. RJ saat itu sedang berada di kantornya di Pejambon. Saya meminta dia untuk datang dan mengambilalih mobil saya. Dia benar-benar menjadi dewa penyelamat saya. Entah bagaimana caranya, beberapa menit kemudian kami sudah bertemu di Bundaran HI. RJ langsung mengantarkan saya ke Kedutaan Jerman, dan membawa mobil saya.</p>
<p>Saya tiba di Kedutaan Jerman tepat waktu dan tes wawancara berjalan lancar. Sore harinya, RJ mengantarkan mobil saya ke kosan dengan kondisi sudah “sehat”.</p>
<p>Sekitar satu bulan kemudian, saya menerima surat di e-mail saya. Surat itu datang dari Berlin, yang menyatakan saya diterima sebagai satu-satunya peserta dari Indonesia dalam “Multimedia and Online Journalism Course”.</p>
<p><em>One big step for my dream<br />
</em><br />
Pada 5 Juni 2009, saya bertolak ke Berlin, Jerman.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/pertama-kali/" target="_blank">Pertama Kali</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/katakan-cinta/" target="_blank">Katakan Cinta</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/kencan/" target="_blank">Kencan</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/telepati/" target="_blank">Telepati</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/mencari-hari-yang-baik/" target="_blank">Mencari Hari yang Baik</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/cinta-datang-dan-pergi-tapi-dia-tidak-pernah-pergi/" target="_blank">Cinta Datang dan Pergi, Tapi Dia Tidak Pernah Pergi</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telepati</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/telepati/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/telepati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 09:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[telepati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam, saya bermimpi berenang di Laut Baltic. Laut Baltic yang ada dalam mimpi saya adalah laut yang tenang dan luar biasa dingin. Bongkahan es berserakan, tapi saya harus berenang menyusurinya. Ketika terbangun, saya langsung menelepon RJ.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Suatu malam, saya bermimpi berenang di Laut Baltic. Laut Baltic yang ada dalam mimpi saya adalah laut yang tenang dan luar biasa dingin. Bongkahan es berserakan, tapi saya harus berenang menyusurinya. Ketika terbangun, saya langsung menelepon RJ.<br />
</strong><br />
“Yang, tadi malem aku mimpi berenang di Laut Baltic. Tapi aku ngga tau, Laut Balitic itu ada di mana siy?”</p>
<p>Dia tertawa karena saya tidak tahu di mana letak Laut Baltic. “Laut Baltic itu ada di Utara, sekitar Norwegia,” katanya.</p>
<p>Malam lainnya, saya bermimpi berjalan-jalan ke Serbia, lalu melintasi perbatasan dengan jalur darat menuju Islandia. Lalu saya menceritakan mimpi saya pada RJ. RJ lalu tertawa lagi. “Serbia dan Islandia itu ngga berbatasan,” katanya.</p>
<p>Saya memang banyak melewatkan pelajaran geografi. Itu adalah salah satu pelajaran yang saya benci ketika SMA. Bahkan di dalam mimpi, pengetahuan saya tentang peta dunia benar-benar payah. Sedangkan RJ, dia selalu tahu di mana letak setiap jengkal pulau yang ada di seluruh dunia. Barangkali waktu SD dia pernah menelan bola dunia bulat-bulat.</p>
<p>Lain hari, kami berjalan-jalan ke toko buku. Saya lalu menghapiri buku History of Java, dan membaca sekilas isinya. Lalu RJ menghampiri saya, dia mengatakan,</p>
<p>“Oh, Raffles itu nulis buku juga ya?”<br />
“Ha?” kata saya sedikit bengong. “Emangnya kamu ngga tau? Ini kan buku Raffles yang terkenal banget. History of Java. Emang waktu SD kamu ngga diajarin sama gurunya kalo Raffles juga nulis buku?”</p>
<p>Saya begitu heran, mengapa RJ tidak tahu kalau Sir Thomas Stanford Raffles pernah menulis buku yang begitu penting buat bangsa ini.</p>
<p>“Aku udah lupa,” katanya.<br />
“Ow…tapi at least, kamu tau kan Raffles itu siapa?”</p>
<p>Lain waktu, RJ pernah mengucapkan kalimat, “Maju ke depan”. Saya bilang, dia menggunakan majas pleonasme.</p>
<p>“Apa itu majas pleonasme?” katanya.</p>
<p>Saya tertawa mendengarnya, “Ayang, itu kan pelajaran kelas 1 SMP. Majas pleonasme itu menggunakan kata-kata yang ngga perlu. Misalkan maju ke depan, mundur ke belakang. Kan kalo maju udah pasti ke depan, mundur pasti ke belakang,”</p>
<p>“Aku ngga suka pelajaran Bahasa Indonesia,” kata dia singkat.</p>
<p>Uhmmm…dalam beberapa hal kami memang memiliki perbedaan. Kami berminat pada bidang yang berbeda. RJ sangat pintar di Geografi, sedangkan saya selalu suka sastra dan sejarah.</p>
<p>Tapi sebenarnya persamaan kami lebih banyak daripada perbedaannya. Kalau soal selera makan, kami berdua pasti cocok. Cuma beberapa jenis makanan yang kami tidak sepakat. RJ sangat anti dengan segala makanan yang mengandung petis. Padahal ibu saya asli Jawa Timur. Saya dan ibu saya adalah pecinta sejati makanan Jawa Timuran, tentunya termasuk makanan apapun yang dicampur petis.</p>
<p>Selain itu, RJ benci segala jenis bawang. Sementara saya suka dengan semua jenis bawang. Setelah memakan acar bawang merah, saya suka menghembuskan aroma mulut saya ke hidung RJ. Itu akan membuat dia marah besar, dan saya akan tertawa lebar.</p>
<p>Lain waktu, RJ membawakan sotong pangkung dari kampung halamannya, Pontianak. Sotong pangkung adalah makanan yang terbuat dari cumi-cumi yang ditumbuk hingga tipis. Kemudian cumi-cumi itu diberi bumbu dan diasapi. Sebelumnya RJ sudah sering mempromosikan kelezatan sotong pangkung itu. Saya pun sangat antusias untuk mencoba makanan yang dipromosikan RJ itu.</p>
<p>Suatu hari, RJ pulang dari Pontianak dan membawakan saya dan keluarga sekantong sotong pangkung. Tapi ketika saya mencobanya, ugh. Saya menjaga mimik muka saya agar tetap normal. Itu karena saya menghargai warisan kuliner dari kampung halaman RJ. Padahal sesungguhnya saya ingin sekali menyemburkan makanan itu dari mulut saya.</p>
<p>Sotong pangkung itu lebar dan tipis seperti jaring. Warnanya merah kejingga-jinggaan. Ketika masuk ke mulut, rasanya lembek, manis, asam, pedas dan yang membuat saya tidak tahan adalah bau amisnya sangat tajam. Entah rempah apa yang merasuk di dalamnya, yang pasti Papa saya taubat makan sotong pangkung itu. Mama saya terpaksa harus menjemur dan menggorengnya agar tidak berbau terlalu amis. Akhirnya, di rumah saya tidak ada yang sanggup menghabiskannya.</p>
<p>Itu makanan yang tidak kami sukai. Tapi di luar petis, bawang dan sotong pangkung, selera makan kami sama persis. Misalkan kami sama-sama suka kwetiaw goreng. Sudah banyak kwetiaw goreng yang masuk ke perut kami. Tapi dari semua itu, kami sepakat kwetiaw goreng di restoran Canton Bay yang ada di Plaza Senayan adalah yang paling maknyusss. Tapi kwetiaw PSP Kelapa Gading juga tidak boleh diremehkan. Itu salah satu kwetiaw yang paling enak di Jakarta.</p>
<p>***</p>
<p>Di balik persamaan dan perbedaan itu, saya selalu percaya kalau saya dan RJ punya telepati. Sudah tidak terhitung berapa kali kami saling ber-sms pada saat yang bersamaan. Saya kadang terkaget-kaget, karena sms yang baru saya kirimkan ke RJ sepersekian detik yang lalu, tiba-tiba sudah ada jawabannya. Ternyata pada saat yang bersamaan, RJ mengirimkan sms pada saya dengan topik atau pertanyaan yang persis sama.</p>
<p>Bahkan pernah juga beberapa kali, saya menelepon RJ tanpa nada sambung sama sekali. Karena sebelum nada sambung itu berbunyi, RJ sudah memegang HPnya untuk menelepon saya.</p>
<p>Selain itu, biasanya kami tidak bisa pisah berlama-lama. Sewaktu saya harus meliput United Nation Frameworks Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali selama 2 minggu, RJ sakit selama beberapa hari. Anehnya ketika saya pulang, dia langsung sembuh seketika. Pernah juga kami sakit di saat yang bersamaan.</p>
<p>Saya juga pernah liputan ke Bandung hanya untuk dua hari. Beberapa jam setelah saya pergi, RJ tiba-tiba mengeluh sakit radang tenggorokan dan panas dalam. Saya berkali-kali menelepon dan meng-sms dia untuk memastikan kalau sakitnya tidak bertambah parah.</p>
<p>Rieka Rahadiana, teman saya dan RJ dari Koran Tempo, akhirnya gatal juga untuk bertanya.<br />
“Kenapa sih dari tadi telpon-telpon RJ terus? Kenapa si RJ?”<br />
“Iya niy, dia lagi sakit. Radang tenggorokan sama panas dalem” kata saya.<br />
“Ah, paling cuma manja aja tuh,” kata Rieka sambil cengengesan.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/pertama-kali/" target="_blank">Pertama Kali</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/katakan-cinta/" target="_blank">Katakan Cinta</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/kencan/" target="_blank">Kencan</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/" target="_blank">Mimpi</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/mencari-hari-yang-baik/" target="_blank">Mencari Hari yang Baik</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/cinta-datang-dan-pergi-tapi-dia-tidak-pernah-pergi/" target="_blank">Cinta Datang dan Pergi, Tapi Dia Tidak Pernah Pergi</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/telepati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kencan</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/kencan/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/kencan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 09:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[kencan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Kencan…merasa sudah lama tidak mendengar kata ini? Mungkin ini adalah kosakata yang lebih lazim digunakan pada zaman ayah dan ibu kita berpacaran. Saya dan RJ, juga pernah membahas tentang definisi kencan. Apakah setiap pergi berdua dengan lawan jenis selalu disebut kencan? Ataukah, kencan adalah hanya pergi dengan kekasih?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Kencan…merasa sudah lama tidak mendengar kata ini? Mungkin ini adalah kosakata yang lebih lazim digunakan pada zaman ayah dan ibu kita berpacaran. Saya dan RJ, juga pernah membahas tentang definisi kencan. Apakah setiap pergi berdua dengan lawan jenis selalu disebut kencan? Ataukah, kencan adalah hanya pergi dengan kekasih?<br />
</strong><br />
Pergi pertama kali dengan RJ, saya sesungguhnya sudah lupa. Karena kami mengawali hubungan ini sebagai teman. Sudah tak terhitung berapa kali kami pergi bersama. Tapi kencan yang saya maksud disini adalah, janjian pergi pertama kali, setelah kami memutuskan untuk menjadi kekasih.</p>
<p>Pagi itu, Rabu 11 Oktober 2006, hanya sekitar 12 jam setelah kami jadian. Saya masih menggeliat di tempat tidur dengan malas. Tiba-tiba HP saya berbunyi, satu SMS masuk. SMS itu dikirimkan oleh Mayjen (Purn) Setya Purwaka, saat itu dia menjabat sebagai salah satu Deputi di Kementerian Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan. Dia mengirimkan pesan kesediaannya untuk saya wawancarai hari itu juga, pukul 10.00 WIB.</p>
<p>Saya langsung melonjak bangun. Saya ditugaskan untuk me-review dua tahun hasil kerja kabinet Indonesia Bersatu di bidang pertahanan dan keamanan. Situasi keamanan di Papua adalah salah satu poin yang harus diulas. Dan sejak beberapa hari lalu, saya sudah mengejar narasumber ini untuk janji wawancara.</p>
<p>Saya melihat penunjuk waktu. What!!! Sekarang sudah jam 09.00 WIB. Selambat-lambatnya dalam tempo satu jam ke depan, saya sudah harus berada di Jl. Medan Merdeka Barat. Saya lalu memeras otak saya untuk berpikir, bagaimana agar saya bisa sampai ke sana dari Rawamangun dalam waktu 30 menit? Aha! Saya tahu! Saya lalu menekan tombol-tombol di HP saya.</p>
<p>“Halo, RJ&#8230;lagi ngpain?”<br />
“Halo…ugh…jam berapa niy?” kata RJ dengan suara sapinya.<br />
“Ini jam 9. Baru bangun ya?”<br />
“Iya, kenapa?”<br />
“Gw barusan di-sms Deputi Menkopolhukam, katanya dia mau diwawancara hari ini. Lo mau ngga nganterin gw kesana.”<br />
“Ok. Jam berapa?”<br />
“Jam 10.”<br />
“Haaa..jam 10? Ya udah, gw langsung berangkat. Ketemuan dimana?”<br />
“Ketemu di kantor aja ya, ntar naik motor aja.”<br />
“Ok.”</p>
<p>Secepat kilat, saya mandi dan ke kantor. Tak lama kemudian, RJ juga sampai. Lalu RJ membonceng saya naik motor, ngebut! Melewati mobil-mobil yang lambat bergerak, menikungi jalan, dan memacu kuda besi sekencang-kencangnya. Hasilnya? Kami sampai di kantor Menkopolkam pukul 09.45. Awesome!</p>
<p>Wawancara berjalan sekitar 45 menit. Sebelumnya, saya sudah mewawancarai Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono tentang embargo militer dari Amerika Serikat yang akhirnya berhasil dicabut. Dengan diwawancarainya Deputi Menkopolhukam ini, maka bereslah pekerjaan saya untuk edisi khusus itu. LEGA!</p>
<p>Usai wawancara, waktu masih menunjukkan pukul 11.00 WIB. Masih terlalu pagi untuk kembali ke kantor. Saya lalu menuju Ruang Pers Departemen Pertahanan, yang berada persis di sebelah kantor Menkopolhukam.</p>
<p>Di ruang pers, sudah ada Dimas Adityo, seorang reporter Tempo. Sebenarnya, saya masih malu untuk memperkenalkan pacar baru saya pada teman-teman. Tapi mau bagaimana lagi? Ini namanya situasi darurat, jadi mau tidak mau, RJ harus saya perkenalkan dengan Dimas.</p>
<p>Baru nongkrong-nongkrong sebentar di ruang pers, tiba-tiba kantor Menkopolhukam “diserbu” oleh mobil-mobil. Saya memanjat ke kursi di belakang ruang pers Dephan. Dari balik tembok, saya melihat mobil-mobil itu berpelat RI 16, RI 17, RI 18, satu buah mobil sedan hitam dengan logo empat bintang di pelatnya, dan satu buah mobil jeep dengan empat bintang di pelatnya.</p>
<p>Saya sudah hafal betul, itu adalah mobil Mendagri, Menlu, Menhan, Panglima TNI dan Kapolri. RAKOR MENDADAK DI KANTOR MENKOPOLHUKAM, SERBUUUU!!! Tanpa komando lagi, saya pun langsung merangsek ke halaman kantor Menkopolhukam. Tak lama kemudian, teman-teman dari berbagai media pun memenuhi halaman kantor Menkopolhukam.</p>
<p>Saya sudah lupa, waktu itu rakor membahas tentang apa. Tapi kedatangan Menlu Nur Hassan Wirajuda hari itu, cukup menyita perhatian wartawan. Pasalnya, Menlu yang paling ganteng nomer dua di kabinet Indonesia bersatu ini sudah lama ngumpet dari media. Padahal banyak sekali isu-isu terkait hubungan luar negeri yang terjadi selama dia sembunyi.</p>
<p>Setelah cukup lama menunggu, akhirnya rakor selesai. Seperti biasa, rakor adalah ajang panen bertabur bintang bagi wartawan. Tapi saking banyaknya berita yang harus dipanen, seringkali kami kelabakan. Bayangkan, hari ini bintang tamunya adalah Mendagri, Menlu, Menhan, Panglima TNI dan Kapolri. Tuan rumahnya adalah Menkopolhukam. Yang mana duluan yang harus diwawancarai? Terlambat sedikit saja, para bintang itu akan buru-buru masuk dalam sedan New Camry mereka dan ngacir meninggalkan wartawan yang gigit jari tanpa berita.</p>
<p>Hari itu, saya memilih untuk mengejar Menhan Juwono Sudarsono yang paling ganteng nomer satu di kabinet Indonesia Bersatu. Saya memilih untuk mengejar dia bukan karena dia ganteng. Saya memilih dia, karena saya lebih menguasai isu-isu pertahanan dibanding isu-isu lain. Saya sudah merelakan untuk melepas menteri-menteri lain. Kalau memang omongannya bagus, nanti kloning* saja sama wartawan lain. Ini kan kloning yang dihalalkan karena situasi darurat perang.</p>
<p>(*kloning = meminta salinan transkrip wawancara dari wartawan lain)</p>
<p>Usai wawancara sambil jalan (dorstop) dengan Pak Juwono, hampir semua menteri sudah kabur. Tapi saya masih melihat satu kerumunan besar. Ternyata Menlu Hassan Wirajuda masih berkenan untuk diwawancarai. Dan tepat di sebelah Menlu, saya melihat RJ sudah menyorongkan recordernya ke mulut Menlu Hassan. Ah, Thanx God. Pekerjaan saya hari ini terlihat begitu menyenangkan.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, selesailah wawancara dengan Menlu. RJ lalu memberikan rekaman wawancara itu, dan saya yang menuliskannya menjadi berita. RJ lalu pulang ke kantor duluan. Sedangkan saya, masih menikmati nongkrong-nongkrong di ruang pers Dephan bersama wartawan lain.</p>
<p>Sore hari, saya kembali ke kantor. Lalu saya menonton televisi, channel Metro tv. Ternyata hasil wawancara dengan para menteri di kantor Menkopolhukam siang tadi sedang ditayangkan. Sekonyong-konyong, muncullah gambar wawancara Menlu Hassan Wirajuda…dan tentunya…lengkap dengan wajah RJ yang terlihat jelas menempel di sebelah Menlu!</p>
<p>Sementara itu, RJ, Dwi Fitria (Devi), Iwan Himawan dan Pak Budi Setyanto sedang berada di lantai 3. Mereka menonton acara yang sama. Devi spontan berkata,</p>
<p>“RJ, itu kan elo yang lagi di tv! Lo ngepain di kantor Menkopolhukam? Bukannya biasanya Tussie yang ngepos disana?”</p>
<p>RJ dengan gaya aktingnya yang buruk, menjawab gelagapan.<br />
“Ah, ngga kok. Bukan gw, lo salah liat kali.”</p>
<p>Sampai sekarang, kami selalu tertawa kalau mengingat peristiwa ini. Sungguh kebohongan yang konyol.</p>
<p>***</p>
<p>Oke…cerita pertama tadi sebenarnya bukan kencan pertama. Itu cuma janjian pertama kali yang sebenarnya tidak diharapkan. Kencan yang sebenarnya adalah beberapa hari sesudah kejadian itu.</p>
<p>Waktu itu hari Sabtu, 14 Oktober 2006. Kami janjian untuk bertemu di Pondok Indah Mall, sore hari, sekalian buka puasa bareng. Seperti biasa, RJ selalu datang duluan. Saya sudah cukup lama mengidap penyakit ngaret akut. Jadi setiap kali bertemu, hampir selalu RJ yang menunggu. Menjelang buka puasa, hanya ada satu café yang masih menyisakan bangku kosong, yaitu Daily Bread.</p>
<p>Kami memesan dua mug teh hangat dan dua roti yang empuk. Hari itu biasa saja, hanya bertemu, makan dan ngobrol-ngobrol. Just like our ordinary culinary day. Hanya ada satu hal yang tidak biasa.</p>
<p>Sekira jam 9 malam, kami memutuskan untuk pulang. RJ memarkir motornya di PIM 2, sedangkan saya memarkir mobil di PIM 1. Lalu RJ menyetir mobil saya dan membawanya ke PIM 2 untuk mengambil motor. Sesaat sebelum dia turun dari mobil, dia membelai kepala saya seraya berkata, “Hati-hati ya…”</p>
<p>Lalu dia melihat pada mata saya dan mengecup lembut kening saya. Kemudian dia turun dari mobil.</p>
<p>Saya mematung selama beberapa detik. Darah saya rasanya terpacu dan berlomba untuk berlari ke kepala. Sel-sel darah merah itu berkumpul di sekitar pipi saya, dan membuatnya bersemu. Bulu-bulu halus di tengkuk saya bagaikan dikomando untuk berdiri serentak. Ratusan kupu-kupu seperti sedang beterbangan di dalam perut. Untunglah waktu itu sudah malam, jadi tidak ada seorang pun yang melihat keanehan tingkah itu.</p>
<p>Ada apa ini? Ini bukan ciuman pertama saya. Apalagi…kalau dipikir-pikir…ini cuma kecupan di kening. Seperti ciuman kakak pada adiknya. But…oh my Gosh, it felt like a first kiss. Sepanjang jalan dan nyetir mobil sendiri, saya masih merasakan reaksi-reaksi kimia itu. Apa yang terjadi pada saya? Masa siy seorang Tussie bisa begitu melayang hanya karena sebuah kecupan di kening? Ke mana perginya Tussie yang selalu cuek?</p>
<p>Setelah saya pikirkan, mungkin bukan hanya kecupan itu yang membuat saya begini. Penyebab utamanya adalah, saya sangat terkesan dengan cara dia mengecup saya. Itu membuat saya merasa dilindungi dan rasanya benar-benar nyaman.</p>
<p>Satu tips buat cowo-cowo, hal-hal kecil seringkali membuat perempuan senang, apalagi jika kalian tahu bagaimana cara melakukannya. Lakukanlah hal kecil dengan sempurna, dan tidak akan ada perempuan yang mau melepaskan kalian!</p>
<p>***</p>
<p><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/pertama-kali/" target="_blank">Pertama Kali</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/katakan-cinta/" target="_blank">Katakan Cinta</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/telepati/" target="_blank">Telepati</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/" target="_blank">Mimpi</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/mencari-hari-yang-baik/" target="_blank">Mencari Hari yang Baik</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/cinta-datang-dan-pergi-tapi-dia-tidak-pernah-pergi/" target="_blank">Cinta Datang dan Pergi, Tapi Dia Tidak Pernah Pergi</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/kencan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

