<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tussie&#38;Reza&#039;s Weblog</title>
	<atom:link href="http://www.tussie-reza.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tussie-reza.com</link>
	<description>Let&#039;s make heaven on earth</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 04:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bahasa Bayi</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2012/02/04/bahasa-bayi/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2012/02/04/bahasa-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 04:14:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our baby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan menciptakan bayi tidak bisa berbicara. Mungkin Tuhan tengah mengajari kita, untuk memahaminya tanpa bahasa. Kelak jika dia sudah dewasa, akan tercipta ikatan antara ibu dan anak. Kita tidak perlu berkata-kata, tapi dia memahami apa yang kita rasakan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayi adalah keajaiban sekaligus misteri yang Tuhan ciptakan. Ketika menyentuh tangannya, pipinya, kakinya..saya sering bertanya-tanya, apakah benar dia pernah hidup di rahim saya selama 9 bulan? Bagaimana bisa?</p>
<p>Saya sering berkomunikasi absurd dengan bayi saya. Menanyakan, bagaimana rasanya hidup di rahim saya selama 9 bulan. Tentu saja anak saya menjawabnya dengan bahasa bayi yang tidak kita mengerti.</p>
<p>Bahasa bayi. Adakah manusia dewasa yang benar-benar bisa berbicara bahasa bayi? Selama mengandung, saya mempelajari bahasa bayi melalui internet, yang disebut Dunstan Baby Language. Tapi ketika dia lahir ke dunia, tidak satu pun suara yang dihasilkannya menyerupai teori Dunstan.</p>
<p>Saya mulai frustasi ketika bayi saya menangis seakan tidak akan pernah berhenti. Saya tidak mengerti apa yang dia inginkan, dan saya begitu takut tidak bisa memenuhi keinginannya.</p>
<p>Tapi sekarang saya meyakinkan bayi saya. Saya adalah orang yang paling mengerti dia, karena saya adalah manusia pertama yang memberinya tempat perlindungan paling aman: rahim saya. Selama 9 bulan, detak jantung saya adalah nyanyian pengantar tidur baginya. Suara saya adalah penghibur baginya.</p>
<p>Ketika dia lahir ke dunia, dada saya adalah tempatnya bersandar. Payudara saya adalah sumber kehidupannya. Jadi, sayalah orang pertama yang harus bisa memahaminya.</p>
<p>Tetapi tentu Tuhan tidak akan menciptakan hubungan antara ibu dan bayi semudah itu. Nyonya Dunstan telah berhasil membaca dan memahami bayinya, kemudian menciptakan bahasa bayi versinya. Kita juga harus membaca dan memahami bahasa yang digunakan bayi kita masing-masing, bukan hanya mencontek nyonya Dunstan.</p>
<p>Butuh proses dan usaha keras agar kita bisa memahami bayi kita, tapi saya pikir, usaha ini sepadan. Tuhan menciptakan bayi tidak bisa berbicara. Mungkin Tuhan tengah mengajari kita, untuk memahaminya tanpa bahasa. Kelak jika dia sudah dewasa, akan tercipta ikatan antara ibu dan anak. Kita tidak perlu berkata-kata, tapi dia memahami apa yang kita rasakan.</p>
<p>Karena itu, campakkan semua teori. Raih anakmu..peluk dia, bermain dengannya..ajak dia berbicara. Suatu hari dia akan melupakan bahasa bayinya, dan berbicara dengan bahasa yang kita ajarkan padanya.</p>
<p>Ingatkah ketika pertama kali dia memanggil dengan sebutan &#8220;bunda&#8221;? Itu adalah suara paling indah yang pernah saya dengar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2012/02/04/bahasa-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui: Jihad Fisabilillah Para Perempuan</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2011/03/29/menyusui-jihad-fisabilillah-para-perempuan/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2011/03/29/menyusui-jihad-fisabilillah-para-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 14:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our baby]]></category>
		<category><![CDATA[menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak cerita sejak malaikat mungil itu keluar dari rahim saya. Sejak dia datang, hidup saya tidak pernah sama lagi. Ketika peristiwa demi peristiwa itu terjadi, saya ingin sekali merangkainya dalam untaian kata, sebagai kenangan kelak jika dia dewasa nanti. Namun ketika dihadapkan pada tuts-tuts komputer, saya kehilangan kata-kata untuk bercerita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ada banyak cerita sejak malaikat mungil itu keluar dari rahim saya. Sejak dia datang, hidup saya tidak pernah sama lagi. Ketika peristiwa demi peristiwa itu terjadi, saya ingin sekali merangkainya dalam untaian kata, sebagai kenangan kelak jika dia dewasa nanti. Namun ketika dihadapkan pada tuts-tuts komputer, saya kehilangan kata-kata untuk bercerita.</strong></p>
<p>Sungguh, saya sulit menggambarkan dengan kata, bagaimana indahnya ketika mata saya dan mata makhluk yang baru saja tiba dari surga itu saling bertatapan. Terutama ketika dia sedang menyusu dalam pelukan saya. Mata yang bulat, besar dan bening. Hanya perempuan yang diberikan mandat seindah ini oleh Tuhan, mandat untuk memberi kehidupan pada manusia lain.</p>
<p>Sulit dijelaskan dengan logika, bagaimana seorang bayi yang baru lahir bisa menemukan puting susu ibunya seketika setelah lahir. Kini, setelah pintar menyusu, dia seringkali melepaskan hisapannya, untuk melihat saya lebih lekat, seakan ingin memastikan bahwa saya benar-benar ibunya. Lalu dia tersenyum, dengan senyum terindah yang pernah saya lihat. Setelah itu dia kembali menyusu, hingga terlelap.</p>
<p>Banyak sekali orang yang bercerita tentang sakitnya melahirkan, bagaimana ibu bertaruh nyawa untuk kita. Tapi jarang sekali ada yang menceritakan tentang sulitnya menyusui. Apakah menyusui itu sulit??? Buat saya : YA.</p>
<p>Minggu awal setelah melahirkan adalah masa yang sangat berat. Air susu belum banyak keluar, bayi rewel, pelekatan belum sempurna, puting lecet, payudara bengkak. Saya tidak menyangka memiliki anak benar-benar dibutuhkan komitmen dan kesabaran tinggi.</p>
<p>Saya berusaha sekuat tenaga untuk memberikan nutrisi terbaik untuk anak saya: ASI. Tiga hari pertama air yang keluar dari payudara saya hanya kolostrum bening. Saya pergi menemui konselor laktasi, yang juga ketua Asosiasi Ibu menyusui Indonesia, Mbak Mia Sutanto yang baik hati. Mbak Mia membesarkan hati saya dan meyakinkan saya, pada hari ketiga asi saya akan berubah menjadi asi matang yang berwarna putih. Dan mbak Mia memang benar, tepat hari ketiga, asi saya berubah warna menjadi putih.</p>
<p>Namun siang dan malam, Shirin, anak saya selalu rewel. Ini benar-benar membuat mental saya drop, semua orang mengatakan: “Shirin lapar”, “ASI saya sedikit”, “Kasihan Shirin”. Semua pernyataan itu benar-benar menyayat hati saya dan membuat minggu pertama setelah melahirkan adalah saat-saat yang sangat berat.</p>
<p>Ternyata ujian selanjutnya lebih berat lagi. Tepat ketika usia Shirin 7 hari, saya membawa Shirin ke dokter untuk imunisasi. Dokter melihat kulit Shirin kekuningan, dia meminta saya untuk melakukan tes darah untuk Shirin. Dan hasilnya benar-benar mengejutkan, kadar bilirubin dalam darah Shirin sangat tinggi dan Shirin harus dirawat di rumah sakit untuk dilakukan phototherapy.</p>
<p>Ketika tiba di ruang perawatan bayi, para perawat memberikan pengarahan singkat pada saya. Intinya, saya disuruh untuk memerah ASI, untuk diminumkan kepada Shirin saat malam hari. Tapi bagaimana mungkin? Saat itu ASI saya masih sulit diperah, saya dalam kondisi sangat panik, sehingga ketika diperah hanya beberapa tetes yang bisa keluar. Saya semakin merasa jika ASI saya sedikit dan saya adalah ibu yang gagal.</p>
<p>Saya mengatakan pada perawat itu, “Apa boleh saya mencarikan donor ASI untuk bayi saya?”</p>
<p>Dia menjawab, “Ibu, kami belum pernah punya pengalaman memberikan donor ASI. Memberikan donor asi itu tidak boleh sembarangan. Karena komposisi ASI itu mengikuti umur si bayi. Kalau ibu mau mencari pendonor, harus yang benar-benar seumuran dengan bayi ibu. Itu dari pengalaman kami selama ini, kecuali jika ibu punya pengalaman lebih dari kami!”</p>
<p>Mendengar ucapan perawat itu, saya semakin panik. Di rumah sakit ini, apabila ibunya tidak bisa memerah ASI, maka bayi-bayi itu akan langsung diberikan susu formula. Saya tidak rela bila anak saya yang masih berusia 7 hari harus diberikan susu formula. Maka semalaman saya berusaha untuk memerah asi. Dan hasilnya hanya beberapa tetes yang didapat.</p>
<p>Tapi di saat-saat seperti ini, suami saya selalu mendukung saya. Hampir jam 12 malam, saya menelepon sepupu ibu saya yang seorang dokter anak. Saya menceritakan kondisi Shirin, dan alhamdulillah, dia mendukung saya memberikan ASI donor untuk sementara waktu kepada Shirin.</p>
<p>Berbekal keyakinan dari sepupu ibu saya, tengah malam buta, suami saya mengambil asi Ibu Meita Annisa ke rumahnya di Jatiwaringin, sedangkan rumah sakit tempat Shirin dirawat berada di Bintaro. Secara sembunyi-sembunyi kami memberikan ASI donor itu kepada Shirin. Namun ASI tersebut masih belum cukup, keesokan harinya suami saya mengambil ASI donor dari Ibu Amalia Susanti di rumahnya di Kedoya.</p>
<p>Namun akhirnya perawat-perawat itu mengetahui bahwa ASI yang diberikan pada Shirin itu bukanlah ASI saya.  Saya dipanggil oleh suster kepala, dan mempertanyakan tindakan saya itu. Saya dengan tegas mengatakan kepadanya bahwa saya hanya ingin memberikan ASI kepada Shirin, bukan susu formula! Jawaban suster kepala itu sangat mencengangkan saya, dia bilang “Kami mendukung program ASI eksklusif, ASI memang yang terbaik untuk bayi. Tapi itu hanya untuk bayi yang sehat, untuk bayi yang sakit perlu dibantu susu formula.”</p>
<p>Saya marah sekali mendengarnya, ternyata hanya sampai disitu pengetahuan tenaga medis di Indonesia. Justru bayi yang sakit seharusnya lebih banyak diberikan ASI daripada bayi yang sehat. Satu-satunya obat bagi bayi hyperbilirubin adalah ASI, ASI dan ASI!</p>
<p>Kemudian saya berkonsultasi dengan dokter Shirin di rumah sakit tersebut. Jika saja dokter anak itu melarang Shirin diberikan ASI donor, hari itu juga saya akan membawa Shirin pulang, dan saya akan merawatnya dengan cara saya sendiri. Untunglah dokter tersebut tidak melarang Shirin diberikan ASI donor, dan Shirin dirawat hingga kadar bilirubinnya kembali normal.</p>
<p>Hingga kini, saya masih sangat marah dengan kondisi tenaga kesehatan di Indonesia. Berapa banyak bayi yang gagal diberikan ASI eksklusif karena kurangnya pengetahuan mereka. Ketika kasus susu formula tercemar bakteri Enterobacter sakazakii merebak, saya sangat bersyukur karena saya pernah berjuang untuk berkata tidak pada susu formula. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, “Tidak dianjurkan pada bayi prematur atau yang berusia di bawah 6 bulan untuk diberikan susu formula, karena sangat rentan terinfeksi bakteri.” Apabila bayi saya yang baru berusia 7 hari diberikan susu formula, apakah Rumah Sakit tersebut bisa menjamin susu yang mereka berikan bebas bakteri?</p>
<p>Itu adalah masa-masa terberat bagi saya ketika memberikan ASI pada Shirin. Hari ini, Shirin tepat berusia 6 bulan, Shirin sudah boleh merasakan makanan pendamping ASI. Namun bukan berarti tugas saya untuk menyusui berakhir sampai disini. Perjuangan masih panjang, saya masih harus menyusui Shirin setidaknya hingga dia berumur 2 tahun.</p>
<p>Saat ini, tantangan belum berakhir. Saya masih harus berjuang memerah di sela-sela pekerjaan di kantor. Jika ibu-ibu lain bisa memerah dengan mudah, hanya 15 menit untuk mendapatkan 150 ml ASI, tidak demikian dengan saya. Memerah ASI saya dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Untuk mendapatkan 100 ml ASI, saya harus memerah selama 30 menit-1 jam. Belum lagi stok asi yang kini makin menipis, dan saya tidak diizinkan mengambil cuti untuk menambah stok ASI. Well, this is life, tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Tapi saya akan terus berusaha hingga tetes asi terakhir untuk menyusui anak saya.</p>
<p>Untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu saya selama 6 bulan program ASI eksklusif ini:</p>
<p>* Suami saya tercinta, Reza Reflusmen Junior, yang selalu meyakinkan saya bahwa saya bukan ibu yang gagal, bahwa saya bisa menyusui Shirin. Suami yang selalu bangun di tengah malam untuk menyiapkan pompa untuk memerah ASI. Dia yang pertama percaya bahwa saya pasti bisa menyusui, ketika semua orang meragukan saya. Tanpa dia, saya tidak akan bisa melakukan ini semua. I really thank God that I found him!</p>
<p>Ketika saya hampir saja menyerah, suami saya mengatakan pada saya: “Menyusui bukan cuma masalah memberikan makanan pada bayi. Kita juga mengajarkan pada Shirin, bahwa hidup adalah perjuangan, menyusui juga adalah perjuangan. Mudah-mudahan ketika Shirin besar nanti, jika dia punya cita-cita, dia tidak akan mudah menyerah untuk mendapatkan cita-citanya. Seperti kita yang tidak menyerah untuk memberikan ASI kepada Shirin.” Well, you are absolutely right, hunny!</p>
<p>* Para ibu susu Shirin dan saudara-saudara susunya:  Ibu Meita Annisa dan Danis, Ibu Amalia Susanti dan Aira, Ibu Stevany Ara Celly dan Qio (yang membantu Shirin pada masa-masa transisi ditinggal bunda ke kantor). Terima kasih karena sudah berbagi tetesan cinta untuk hidup Shirin.</p>
<p>* Keluarga saya dan keluarga Reza, yang mempercayakan pada saya dan Reza untuk memberikan ASI pada Shirin, juga untuk dukungan dan semua cinta yang diberikan pada kami.</p>
<p>* Teman-teman yang selalu menjadi tempat curhat dan yang selalu membesarkan hati saya untuk selalu memberikan ASI: Mira Riezky Adriani (makasih karena sudah memperkenalkan milis ASI for baby dan tips-tips menyusui), Indira Dwi Putri, Widya Yurnalis, Elfira sang konselor laktasi muda J, Rani Dewinta, Nuning Yuni.</p>
<p>* Ibu-ibu Fikom Unpad 2001 di BBM grup “Fikom moms”: tina, anty, ella, kiki, reta, nia, dahlia, aldha, atik, putri.</p>
<p>* Ibu-ibu mama perah tvOne: Mba Ovie, Gina, Nanda, Amel, Sarah, Dita. Terima kasih karena sudah membuat sesi memerah setiap hari menjadi menyenangkan. Terima kasih karena kita saling menguatkan di saat-saat sulit.</p>
<p>* Dan juga boss saya yang baik hati, Kang Wendiyanto Saputro yang mengikhlaskan saya menghilang sebanyak 2 kali sehari untuk memerah ASI. Juga tim Kabar Siang tvOne, maaf kalau saya sering menghilang buat memerah ASI.</p>
<p>Jadi, ini bukan semata keberhasilan saya. Dibutuhkan sebuah tim yang besar untuk mensukseskan program ASI eksklusif.</p>
<p>Dan terakhir, tentu saja terima kasih untuk anakku tercinta Shirin Rahmaniya Anarezi. Jika awalnya saya berniat untuk menyusui sambil mengajarkan kegigihan pada Shirin, ternyata pada akhirnya Shirin yang mengajarkan banyak hal pada saya. Mengajarkan bahwa hidup harus berjuang dan diperjuangkan. Dia mengajarkan saya kesabaran, disiplin, mental baja, dan semangat pantang menyerah. Sesungguhnya Shirin jauh lebih kuat daripada saya, dia selalu bisa melewati masa-masa sulit.</p>
<p>Saya bukan ibu yang diberi anugerah dengan ASI melimpah, tapi Tuhan memberi saya kalian semua sebagai anugerah. Tuhan Maha Adil, terima kasih karena telah memberi saya kesempatan untuk menyusui dengan sungguh-sungguh..semoga Engkau menghitung amalan ini sebagai jihad fisabillillah ya Allah. Usaha dengan segenap kesungguhan untuk menjalankan perintah-Mu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2011/03/29/menyusui-jihad-fisabilillah-para-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shirin Rahmaniya Anarezi</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2011/01/17/shirin-rahmaniya-anarezi/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2011/01/17/shirin-rahmaniya-anarezi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 05:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our baby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Shirin adalah nama perempuan-perempuan pemberani. Dalam bahasa Persia, Shirin berarti wanita yang memesona. Jadi menurut saya, tidak ada alasan bagi suami saya untuk tidak menyetujui nama pilihan saya itu.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?</p>
<p>QS Ar-Rahman ayat 14-17</strong></p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-352" title="shirin newborn" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2011/01/shirin-newborn-225x300.jpg" alt="shirin newborn" width="225" height="300" />Shirin Rahmaniya Anarezi adalah bidadari kecil kami. Tuhan mengirimkan Shirin dari surga pada 29 September 2010 lalu. Kedatangannya sudah sangat dinanti keluarga besar kami, karena Shirin adalah cucu pertama dari keluarga saya, juga cucu pertama di keluarga Reza.</p>
<p>Banyak yang menyangka, nama Shirin diambil dari Shireen Sungkar, artis sinetron yang sekarang tengah naik daun. Well, saya harus menjelaskan, saya memberi nama Shirin, tidak ada hubungannya dengan Shireen Sungkar. Kesamaan nama hanyalah kebetulan belaka :-p</p>
<p>Nama Shirin pertama kali melekat di kepala saya sekitar akhir tahun 2008. Saya sedang menonton layar Al Jazeera ketika melihat seorang reporter cantik, dengan gagah berani melaporkan invasi Israel ke Palestina. Dia adalah Shirin Abu ‘Aqla. Shirin Abu ‘Aqla barangkali adalah wartawan di kawasan Timur Tengah yang paling dikenal karena keberaniannya saat ini.</p>
<p>Ketika saya sedang hamil, pembicaraan tentang nama anak adalah pembicaraan panjang yang tidak kunjung mendapatkan titik temu antara saya dengan suami. Saya suka sekali dengan nama-nama orang yang menginspirasi. Jika anak laki-laki, saya sudah siap dengan sederet nama cendikiawan muslim dan tokoh-tokoh sufi. Tapi mencari nama anak perempuan sedikit sulit, karena tidak banyak cendikiawan muslim yang perempuan.</p>
<p>Saya kemudian ingat dengan Shirin Ebadi, pemenang Nobel Perdamaian pada tahun 2003. Dia adalah wanita muslim dan wanita Iran pertama yang memenangkan penghargaan prestisius tersebut. Shirin Ebadi adalah sosok pejuang hak asasi manusia.</p>
<p>Shirin adalah nama perempuan-perempuan pemberani. Dalam bahasa Persia, Shirin berarti wanita yang memesona. Jadi menurut saya, tidak ada alasan bagi suami saya untuk tidak menyetujui nama pilihan saya itu.</p>
<p>Sedangkan, nama tengah “Rahmaniya” dipilih oleh Reza. Nama tengah ini paling akhir ditemukan. Kira-kira tiga hari setelah Shirin lahir, baru kami setuju akan nama ini. Menurut Reza, Rahmaniya diambil dari Surat ke-55 dalam Al Quran, yaitu surat Ar Rahman. Ar Rahman juga salah satu asmaul husna yang memiliki arti “Maha Pemurah”. Saya langsung menyetujui nama ini, karena menurut saya, surat Ar Rahman adalah surat yang sangat indah. Allah adalah Maha Penyair yang bisa menciptakan ayat-ayat yang sungguh indah dalam surat Ar Rahman. Saya hampir selalu meneteskan air mata jika membaca terjemahan surat ini.</p>
<p>Sedangkan Anarezi adalah pilihan nama yang paling sederhana. Anarezi adalah kependekan dari “Anak Reza dan Tussie”. Tidak ada perdebatan dalam memilih nama belakang ini. Kami bahkan lebih dulu menemukan nama belakang Shirin sebelum nama depan dan nama tengahnya.</p>
<p>Shirin Rahmaniya Anarezi berarti wanita memesona, hamba Allah yang Maha Pemurah, anak dari Reza dan Tussie. Nama adalah doa orang tua untuk anaknya. Semoga Allah mengabulkan doa kami yang melekat pada Shirin hingga akhir hayatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2011/01/17/shirin-rahmaniya-anarezi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Menulis Lagi!</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/08/01/ayo-menulis-lagi/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/08/01/ayo-menulis-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 16:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our baby]]></category>
		<category><![CDATA[baby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Waktu berlari begitu cepat. Tidak terasa saya dan Reza sudah menikah selama 7 bulan, 2 minggu dan lima hari. Di dalam rahim saya sudah ada bayi mungil yang saat ini sedang menggeliat. Dia suka sekali bergerak, yang sebenarnya saya tidak begitu mengerti, apa yang sedang dilakukannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Tussie</p>
<p><strong>Waktu berlari begitu cepat. Tidak terasa saya dan Reza sudah menikah selama 7 bulan, 2 minggu dan lima hari. Di dalam rahim saya sudah ada bayi mungil yang saat ini sedang menggeliat. Dia suka sekali bergerak, yang sebenarnya saya tidak begitu mengerti, apa yang sedang dilakukannya.</strong></p>
<p>Sejak pertama kali mengetahui hamil, saya sudah ingin sekali menulis kembali di weblog, tapi sulit sekali mewujudkannya. Saya benar-benar meninggalkan semua yang menjadi hobi dan obsesi saya. Tiba-tiba saya jadi malas menulis, dan tidak ada keinginan untuk melakukan apapun, selain kegiatan untuk menyambut bayi saya. Misalkan: belanja perlengkapan bayi dan saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk browsing di internet tentang apapun yang berhubungan dengan bayi.</p>
<p>Mungkin ini sejenis ‘penyakit’ baby addict. Obsesi saya saat ini hanya untuk bayi saya. Saya selalu tidak sabar untuk belanja perlengkapan bayi, kemudian membuat matriks perlengkapan yang sudah dibeli dan yang belum dibeli. Pokoknya all about baby.</p>
<p>Sekarang ini dede sudah berusia 7 bulan dalam kandungan. Dia sudah semakin lincah di dalam perut. Dia suka mendengarkan musik klasik dan nonton bola. Kalau saya mendengarkan musik klasik atau nonton bola, dia langsung lonjak-lonjak. Satu lagi, dia tidak suka kalau saya lapar. Dia seperti alarm yang mengingatkan saya untuk selalu makan tepat waktu, jika tidak, dia akan berjungkir balik.</p>
<p>Di usia kandungan ini, saya juga semakin cepat lelah. Duduk beberapa jam saja sudah cukup membuat pinggang seperti mau copot. Mungkin ini juga yang menyebabkan saya jadi malas menulis, karena menulis membutuhkan konsentrasi.. dan pastinya harus duduk.</p>
<p>Untuk hari ini sepertinya sekian dulu. Ini sudah awal yang lumayan untuk kembali menumbuhkan semangat menulis.</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w :WordDocument> </w><w :View>Normal</w> <w :Zoom>0</w> <w :PunctuationKerning /> <w :ValidateAgainstSchemas /> <w :SaveIfXMLInvalid>false</w> <w :IgnoreMixedContent>false</w> <w :AlwaysShowPlaceholderText>false</w> <w :Compatibility> <w :BreakWrappedTables /> <w :SnapToGridInCell /> <w :WrapTextWithPunct /> <w :UseAsianBreakRules /> <w :DontGrowAutofit /> </w> <w :BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w :LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w> </xml>< ![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce :style>< !  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> </mce><mce :style>< !   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Waktu berlari begitu cepat. Tidak terasa saya dan Reza sudah menikah selama 7 bulan, 2 minggu dan lima hari. Di dalam rahim saya sudah ada bayi mungil yang saat ini sedang menggeliat. Dia suka sekali bergerak, yang sebenarnya saya tidak begitu mengerti, apa yang sedang dilakukannya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sejak pertama kali mengetahui hamil, saya sudah ingin sekali menulis kembali di weblog, tapi sulit sekali mewujudkannya. Saya benar-benar meninggalkan semua yang menjadi hobi dan obsesi saya. Tiba-tiba saya jadi malas menulis, dan tidak ada keinginan untuk melakukan apapun, selain kegiatan untuk menyambut bayi saya. Misalkan: belanja perlengkapan bayi dan saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk browsing di internet tentang apapun yang berhubungan dengan bayi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mungkin ini sejenis ‘penyakit’ baby addict. Obsesi saya saat ini hanya untuk bayi saya. Saya selalu tidak sabar untuk belanja perlengkapan bayi, kemudian membuat matriks perlengkapan yang sudah dibeli dan yang belum dibeli. Pokoknya all about baby.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sekarang ini dede sudah berusia 7 bulan dalam kandungan. Dia sudah semakin lincah di dalam perut. Dia suka mendengarkan musik klasik dan nonton bola. Kalau saya mendengarkan musik klasik atau nonton bola, dia langsung lonjak-lonjak. Satu lagi, dia tidak suka kalau saya lapar. Dia seperti alarm yang mengingatkan saya untuk selalu makan tepat waktu, jika tidak, dia akan berjungkir balik.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Di usia kandungan ini, saya juga semakin cepat lelah. Duduk beberapa jam saja sudah cukup membuat pinggang seperti mau copot. Mungkin ini juga yang menyebabkan saya jadi malas menulis, karena menulis membutuhkan konsentrasi.. dan pastinya harus duduk.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Untuk hari ini sepertinya sekian dulu. Ini sudah awal yang lumayan untuk kembali menumbuhkan semangat menulis.</p>
<p></mce></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/08/01/ayo-menulis-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reza di Koran Taiwan</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/21/reza-di-koran-taiwan/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/21/reza-di-koran-taiwan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 12:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[we are in media]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, di penghujung tahun 2008, Reza magang di KJRI Vancouver, Canada. Pada suatu hari, Reza menghadiri sebuah acara "Networking forum", diadakan oleh organisasi "Internations" yang secara rutin mengadakan acara berkumpul bagi kalangan expatriat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Alkisah, di penghujung tahun 2008, Reza magang di KJRI Vancouver, Canada. Pada suatu hari, Reza menghadiri sebuah acara &#8220;Networking forum&#8221;, diadakan oleh organisasi &#8220;Internations&#8221; yang secara rutin mengadakan acara berkumpul bagi kalangan expatriat.</strong></p>
<p>Ketika menghadiri acara itu, Reza berkenalan dengan seorang wartawan asal Taiwan yang kalo ngga salah namanya Lili Hsu. Lili bekerja untuk sebuah koran bernama &#8220;Ming Pao&#8221;. Lili kemudian mewawancarai Reza tentang pengalamannya selama di Vancouver. Reza menceritakan mengapa dia bisa ada di Vancouver dan apa yang dia lakukan disana. Ini hasil wawancara Lili dengan Reza (kalau ada yang bisa bahasa Taiwan, tolong translate-in donk. Karena sampai sekarang kita ngga tau apa yang ditulis Lili).</p>
<div id="attachment_328" class="wp-caption aligncenter" style="width: 597px"><img class="size-large wp-image-328" title="RJ di koran taiwan" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/RJ-di-koran-taiwan-587x1024.jpg" alt="Muka-muka cunihin di koran Taiwan" width="587" height="1024" /><p class="wp-caption-text">Muka-muka cunihin di koran Taiwan</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/21/reza-di-koran-taiwan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Jawa</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/mitos-jawa/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/mitos-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 06:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Saya senang sekali melihat foto-foto saya, terutama yang berpakaian adat Jawa Solo. Kata mama saya, saya terlihat benar-benar berbeda, “Kayak bukan Tussie,” kata mama . Tapi siapa yang menyangka, kalau dibalik semua itu, ada sesuatu yang pasti tidak kalian sadari.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika melihat foto-foto pernikahan saya dan Reza, saya sering berpikir, “Wow, I’m married now. It feels so unreal!” Bayangan tentang pernikahan itu rasanya seperti kilatan sekejap yang pernah singgah, dan kemudian berlalu begitu saja. Padahal proses persiapannya memakan waktu cukup lama</strong>.</p>
<p>Saya senang sekali melihat foto-foto saya, terutama yang berpakaian adat Jawa Solo. Kata mama saya, saya terlihat benar-benar berbeda, “Kayak bukan Tussie,” kata mama . Tapi siapa yang menyangka, kalau dibalik semua itu, ada sesuatu yang pasti tidak kalian sadari.</p>
<p>Ini semua berawal dari mitos Jawa. Satu hari sebelum pernikahan, di rumah saya diadakan prosesi pengajian dan siraman. Mama saya memaksa ada upacara adat Jawa. Saya siy menganggapnya sebagai lucu-lucuan saja. Maka seharian itu saya didoakan dan disirami dengan air kembang dari tujuh sumber.</p>
<p>Setelah semua prosesi itu selesai, saya dan keluarga duduk-duduk di dalam rumah. Papi alias Pak De saya meminta saya untuk terus berpakaian kebaya lengkap. Walaupun saya sebenarnya sudah ingin buru-buru melepaskan kebaya yang membuat sesak itu.</p>
<p>Kemudian tiba-tiba hujan turun. Semakin lama semakin deras. Petir sambar menyambar, angin menggulung-gulung. Anak-anak menutup telinganya karena guruh yang memekakkan. Karangan bunga yang sudah datang rusak tergerus air. Tenda yang sudah dibangun doyong karena terlalu banyak menampung air hujan. Peralatan makan basah terkena tampias. Seluruh keluarga berbondong-bondong membereskan sound system agar tidak terkena air. Saya mulai khawatir. Dan seluruh keluarga juga khawatir.</p>
<p>Serta merta, tante-tante saya bertanya pada saya.<br />
“Tussie, tadi pagi kamu mandi ya?”<br />
“Iya, mandi donk!” jawab saya.</p>
<p>Lalu mata tante saya mendelik,<br />
“Lho, kenapa mandi? Kan sudah dibilangin. Penganten itu ngga boleh mandi! Tuh liat kan, jadi hujan sekarang!”</p>
<p>Dhuerrr!!! Satu lagi petir sambar menyambar.</p>
<p>Memang sebelumnya tante saya sudah mengingatkan agar saya tidak mandi agar hujan tidak turun. Tapi itu saya anggap sebagai lelucon dan angin lalu saja. Mana mungkin saya mempercayai semua mitos Jawa yang banyak dan tidak masuk akal itu. Apa hubungannya mandi dengan hujan? Lagipula, saya juga tidak ingin terjadi hujan hari ini. Ini kan bukan salah saya, memangnya saya bisa mengatur cuaca seperti pawang hujan?</p>
<p>Meski demikian, malam itu saya khawatir sekali. Saya takut besok, di hari pernikahan saya, hujan akan turun.<br />
Keesokan paginya, pukul 05.00, ponsel saya bordering. Saya bahkan masih bergelung dengan malas di dalam selimut. Tapi saya angkat juga telepon itu. Ternyata dari perias saya. Dia mengabarkan kalau dia sebentar lagi akan tiba di rumah saya.<br />
Saya lalu buru-buru mengambil air wudhu dan sholat subuh. Saya membaca Al Fatihah dan Al Ikhlas sebanyak 40 kali. Berdoa agar hari ini cuaca cerah dan tidak hujan, juga agar pernikahan saya lancar.</p>
<p>Setelah sholat subuh, ternyata perias saya sudah datang. Mama memanggil-manggil saya untuk segera dirias. Saya berpikir sejenak. Saya kan belum mandi, jadi sebaiknya saya mandi dulu atau tidak? Perkataan tante-tante saya terus terngiang-ngiang di kepala saya.</p>
<p><em>Penganten tidak boleh mandi. Kalau mandi, nanti akan turun hujan.</em></p>
<p>Hujan deras kemarin pun kembali terbayang-bayang. Sungguh mengerikan jika itu terjadi pada hari ini, mengingat akad nikah akan dilaksanakan di bawah tenda di depan rumah saya. Bagaimana kalau hujannya seperti kemarin? Bagaimana kalau petir menyambar ketika akad nikah sedang berlangsung? Hiii..saya ngeri membayangkan itu semua. Akhirnya, demi efisiensi waktu dan mitos Jawa yang terus membayangi, SAYA MEMUTUSKAN UNTUK TIDAK MANDI.</p>
<p>Saya kemudian dirias. Alhamdulillah, akad nikah berjalan lancar. Reza bisa mengucapkan ijab Kabul dengan sempurna. Cuaca cerah, awan gemawan berarak, matahari bersinar hangat hingga acara akad nikah selesai.</p>
<p>Kemudian kami berangkat ke gedung untuk resepsi pada malam harinya. Dalam perjalanan, sempat terjadi gerimis kecil. Kemudian awan gelap segera berlalu, berganti dengan matahari sore yang menyenangkan. Saya selalu suka dengan hangat matahari.</p>
<p>Hari berganti malam. Cuaca masih tetap bersahabat. Saya dirias dengan adat Jawa Solo untuk acara resepsi. Saya senang sekali, tidak ada hujan di hari pernikahan saya. Semua teman dan keluarga bilang, saya cantik sekali malam itu.</p>
<p>Tapi mereka semua tidak tahu kan, kalau mempelai wanitanya belum mandi sejak pagi?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_323" class="wp-caption aligncenter" style="width: 466px"><img class="size-full wp-image-323" title="IMG_0434" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/IMG_0434.JPG" alt="Ini lho penganten yang belom mandi itu :-D" width="456" height="685" /><p class="wp-caption-text">Ini lho penganten yang belom mandi itu</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/mitos-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tussie di Koran Uganda</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/tussie-di-koran-uganda/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/tussie-di-koran-uganda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 03:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[we are in media]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Ini tulisan seorang teman saya, wartawan dari Uganda yang bernama Lauben Matsiko. Lauben menceritakan tentang jalan-jalan kami ke sebuah peternakan di kaki Gunung Hochries di Munich, Jerman. Di peternakan itu, kami mengunjungi seorang pemilik peternakan sapi yang juga memproduksi susu dan keju. Meskipun sederhana, tapi peternakan itu sudah memakai alat-alat modern dengan higienitas tinggi. Si peternak sudah menjalankan usaha keluarga ini sejak 8 generasi sebelumnya! Dan cerita ini dipublikasikan di koran Lauben di Uganda.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ini tulisan seorang teman saya, wartawan dari Uganda yang bernama Lauben Matsiko. Lauben menceritakan tentang jalan-jalan kami ke sebuah peternakan di kaki Gunung Hochries di Munich, Jerman. </strong></p>
<p>Di peternakan itu, kami mengunjungi seorang pemilik peternakan sapi yang juga memproduksi susu dan keju. Meskipun sederhana, tapi peternakan itu sudah memakai alat-alat modern dengan higienitas tinggi. Si peternak sudah menjalankan usaha keluarga ini sejak 8 generasi sebelumnya! Dan cerita ini dipublikasikan di koran Lauben di Uganda.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-319" title="tussie di uganda2" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/tussie-di-uganda21.jpg" alt="tussie di uganda2" width="612" height="862" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/20/tussie-di-koran-uganda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Louvre, Seperti Robert Langdon dan Sophie Neveu</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 08:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan ke Bandara Tegel di Berlin tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Hanya dalam waktu sekitar 45 menit, kami sudah tiba di bandara. Masih ada waktu untuk mengisi perut dan menenangkan jantung. Ah, hampir saja terlambat. Jika saja saya terlambat, saya akan menggaruk-garuk tanah, memukul-mukul tembok dan menangis meraung-raung. Saya bersyukur, saya tidak terlalu bodoh untuk ketinggalan penerbangan ke Paris.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Bagian II dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Perjalanan ke Bandara Tegel di Berlin tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Hanya dalam waktu sekitar 45 menit, kami sudah tiba di bandara. Masih ada waktu untuk mengisi perut dan menenangkan jantung. Ah, hampir saja terlambat. Jika saja saya terlambat, saya akan menggaruk-garuk tanah, memukul-mukul tembok dan menangis meraung-raung. Saya bersyukur, saya tidak terlalu bodoh untuk ketinggalan penerbangan ke Paris.<br />
</strong><br />
Saya, Maricel dan Van lalu menuju ke sebuah cafetaria. Saya membeli sebuah croissant dan segelas juice segar. Nikmat sekali. Kelembutan dan kegurihan croissant menyatu dengan juice yang manis. Bahkan saya sudah menghirup aroma Paris sejak di Bandara Tegel, Berlin. Meskipun untuk kenikmatan sesaat itu, saya harus membayar sebanyak € 7 atau sekitar Rp 101.500. Ah, semuanya memang mahal di bandara, apalagi di bandara Eropa.</p>
<p>Kami lalu memasuki kabin pesawat Air France yang kesohor. Baru-baru ini Air France lebih kesohor lagi karena berhasil terjun bebas dan berenang di Samudra Atlantik. Menewaskan ratusan orang yang menumpang di kabinnya. Manusia-manusia malang yang terbang dari Rio de Janeiro menuju Paris. Mungkin mereka juga berencana akan berlibur ke Paris, seperti saya saat ini. Maka saya memejamkan mata dan berdoa panjang sekali, agar nasib saya tidak seperti mereka. Berakhir mengenaskan di lambung Air France!</p>
<p>Kami memilih untuk terbang dengan Air France karena pesawat ini akan mendarat di Bandara Charles de Gaulle. Kami berpikir, bandara Charles de Gaulle adalah bandara terbesar di Paris. Pastilah bandara ini terletak di tengah kota, karena itu kami rela merogoh kocek dalam dengan harapan bisa menghemat waktu. Sungguh pemikiran yang bodoh.</p>
<p>Ternyata sesungguhnya Charles de Gaulle berada di pinggiran Paris. Sangat jauh dari pusat kota Paris. Bandara Paris yang berada lebih di tengah kota adalah bandara kecil bernama Orly.</p>
<p>Biasanya Orly melayani penerbangan yang tidak terlalu mahal. Saya menyarankan bagi kalian yang akan pergi ke Paris, sebaiknya memilih bandara Orly saja. Jangan mengulangi kesalahan kami yang memilih Charles de Gaulle. Kecuali jika kalian ingin melihat Bandara Charles de Gaulle yang hebat dan canggih.</p>
<p>Saya sangat lelah dan tertidur hampir selama 1,5 jam perjalanan itu. Tapi tentu saja saya tidak melewatkan sarapan pagi di udara bersama Air France. Pagi itu, saya kembali menyantap croissant hangat dan mengepul. Sungguh, aroma Paris sudah tercium sejak mula.</p>
<p>Dalam beberapa saat lagi saya akan tiba di Paris. Saya merasakan letupan-letupan hangat di dada saya, sensasi yang selalu saya rasakan ketika bersemangat. Euforia yang nikmatnya tiada tara.</p>
<p>Sekitar pukul 08.30 pagi, kami tiba di Bandara Charles de Gaulle. Saya dan Van memekik tertahan, “Van, we’re in Paris!” kata saya kegirangan. Kami pun tidak bisa berhenti tersenyum lebar, menyadari kami telah ada di Paris. Hanya Maricel yang terlihat tenang dalam perjalanan ini.</p>
<p>Maricel selalu bertindak sebagai penunjuk jalan. Dengan cepat, Maricel telah mendapatkan peta Paris di pusat informasi. Tujuan utama kami adalah: Museum Louvre! Saya sudah sejak lama merindukan Monalisa. Lalu kami membeli tiket segala transportasi yang bisa dipakai selama dua hari.</p>
<p>Pusat kota Paris terbagi menjadi tiga zona wilayah. Sedangkan Bandara Charles de Gaulle termasuk dalam zona enam! Itu artinya, bandara ini benar-benar di luar Paris. Kami harus membayar lebih untuk transportasi dari Charles de Gaulle ke pusat kota. Total biaya transportasi yang harus dibayar adalah € 29 selama dua hari, atau sekitar Rp 420.500. Sungguh terlalu!</p>
<p>Sudahlah, kami sedang liburan. Dan saya tidak mau terlalu memusingkan soal uang. Setelah satu minggu yang berat, akhir pekan ini saya harus bersenang-senang! Kami naik kereta dari Charles de Gaulle ke stasiun Chatelet Les Halles. Dari stasiun Chatelet Les Halles, kami berganti kereta yang berhenti di Louvre.</p>
<p>Perjalanan dari Charles de Gaulle ke stasiun Chatelet Les Halles memakan waktu cukup lama, sekitar 45 menit. Kami mengamati setiap stasiun pemberhentian, menghitungnya agar tidak terlewati. Namun kami sedikit bingung, karena kami memiliki dua versi peta perjalanan yang berbeda. Hal ini tidak pernah terjadi di Jerman. Sistem transportasi di Jerman paling nyaman dan efektif di dunia. Kereta di Paris juga tidak senyaman  kereta yang biasa kami tumpangi di Berlin.</p>
<p>Kemudian sampailah kami pada stasiun Chatelet Les Halles. Ternyata Chatelet Les Halles adalah stasiun besar yang membingungkan. Saya tidak tahu, apakah karena kebodohan kami, atau karena petunjuk yang membingungkan, tapi kami membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan kereta yang menuju ke Louvre.</p>
<p>Sistem perkeretaapian di Paris tidak sepraktis Jerman. Di Paris, tiket kereta harus selalu dimasukkan dalam mesin otomatis ketika kita akan naik kereta. Setelah memindai tiket kita, pintu akan terbuka selama beberapa detik, kemudian tertutup kembali.</p>
<p>Tidak demikian dengan di Jerman. Di Jerman, kita hanya perlu membeli tiket, memverifikasi tiket, dan selalu membawanya dalam perjalanan. Tidak ada mesin otomatis yang memeriksa tiket. Pemeriksaan tiket dilakukan secara acak oleh petugas Deutche Bahn (Perusahaan kereta api Jerman). Kelihatannya sederhana sekali. Tapi jangan coba-coba meninggalkan tiket kereta. Jika kedapatan ada penumpang yang tidak memiliki tiket, petugas Deutsche<em><span id="main" style="visibility: visible;"><span id="search" style="visibility: visible;"><em></em></span></span></em> Bahn akan mendenda kita sebesar € 40 atau sekitar Rp 580.000 tanpa ampun!</p>
<p>Kembali ke Paris, sudah tidak terhitung berapa kali kami memasukkan tiket kereta ke mesin pemeriksa. Karena kami sudah keluar masuk pintu pemeriksaan satu ke pemeriksaan lain untuk mencari kereta ke arah Louvre. Akhirnya, kami menemukan kereta yang tepat. Hanya dua stasiun pemberhentian, dan sampailah kami ke Louvre! Dan saya sudah sah menjadi Sophie Neveu di buku da Vinci Code, karena saya sudah ada di Louvre!</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-295" title="louvre" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/louvre-300x225.jpg" alt="louvre" width="300" height="225" /><br />
***</p>
<p><strong>Cerita Terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/" target="_blank">Nyaris Tidak ke Paris</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyaris Tidak ke Paris</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 08:10:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin sebagian besar orang bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Paris, kota yang konon katanya paling indah dan romantis. Kota yang menjadi simbol keanggunan dan kemewahan. Kota dimana Marie Antoinnete pernah hidup dengan keglamourannya. Pusat mode dan seni di dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Bagian I dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Mungkin sebagian besar orang bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Paris, kota yang konon katanya paling indah dan romantis. Kota yang menjadi simbol keanggunan dan kemewahan. Kota dimana Marie Antoinnete pernah hidup dengan keglamourannya. Pusat mode dan seni di dunia.</strong></p>
<p>Saya adalah salah satu orang yang terpedaya dengan cerita-cerita tentang Paris. Saya bermimpi tentang Paris, tentang Louvre, tentang Versailles, tentang liukan Sungai Seine yang telah saya baca sejak kanak-kanak.</p>
<p>Ketika saya tiba di Eropa, saya bertekad dengan sepenuh hati untuk bisa ke Paris. Dan ini cerita ketika pertama kali saya melawat ke Paris. Perjuangan melelahkan yang merogoh kocek cukup dalam. Dan ah…saya bisa katakan pada kalian. Ternyata Paris tidak seindah bayangan saya, setidaknya..itulah menurut saya.</p>
<p>***</p>
<p>Minggu kelima saya di Jerman adalah minggu yang sangat berat. Pekan ini pelajaran di kelas menuntut perhatian penuh. Dalam satu minggu, kami membuat audio slideshow, membuat liputan video dan belajar mengedit video.</p>
<p>Selain itu pada minggu ini juga, tepatnya tanggal 8 Juli 2009, bangsa Indonesia merayakan hajatan demokrasi terbesar, yaitu pemilihan Presiden. tvOne, media tempat saya bekerja, telah berbaik hati mengizinkan saya untuk meninggalkan pekerjaan di Jakarta selama dua bulan. Tapi mereka hanya meminta satu hal: saya harus meliput pemilihan umum di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin.</p>
<p>Saya sudah mempersiapkan dengan matang peliputan pemilu ini, bahkan sejak di Jakarta. Namun sayangnya, pada hari H pemilu, IIJ tidak mengizinkan saya untuk meninggalkan kelas. Tapi untunglah staf KBRI Berlin sangat kooperatif dan membantu. Singkat cerita, dengan berpontang panting dan dukungan penuh para staf di KBRI Berlin, saya berhasil melakukan peliputan pemilu tanpa meninggalkan kelas. Tugas-tugas saya di kelas dan dalam peliputan pun terselesaikan dengan baik.</p>
<p>Namun tetap ada konsekuensi dari minggu yang berat ini. Saya merasa sangat lelah dan hampir saja jatuh sakit. Padahal akhir minggu ini saya sudah membeli tiket liburan ke Paris. Paris menjadi semangat saya. Saya harus ke Paris, karena itu saya tidak boleh sakit!</p>
<p>Hari Sabtu, 11 Juli 2009, saya dijadwalkan akan berangkat ke Paris. Meskipun sehari sebelumnya saya tiba di apartemen sudah malam dan dengan badan lelah, saya tetap menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Paris dengan semangat. Saya, Maricel dan Van akan berangkat ke bandara pukul 05.00 pagi. Saya harus bangun sekitar pukul 04.00. Saya mengatur alarm di handphone dan tertidur dengan pulas.</p>
<p>***<br />
Kring…kring..kring…</p>
<p>Apakah itu bunyi alarm? Ya, mungkin itu bunyi alarm, pikir saya sambil membuka mata sedikit. Tapi sepertinya bunyi alarm handphone saya bukan seperti itu.</p>
<p>Kring..kring..kring…</p>
<p>Saya menggeliat sedikit. Dimana saya berada? Sepertinya saya berada di kamar saya yang nyaman di Jakarta.</p>
<p>Kring..kring..kring…</p>
<p>Saya melompat bangun.<br />
Ini bukan kamar saya di Jakarta.<br />
Oh ya! Saya baru ingat!<br />
Saya kan sekarang sedang berada di Berlin.<br />
Dan…hari ini…saya harus ke Paris!!!</p>
<p>Kring..kring..kring…</p>
<p>Ternyata itu bukan bunyi alarm, tapi bunyi bell apartemen saya. Seseorang membunyikan bell apartemen saya! Itu pasti Maricel! DAN SAYA PASTI TERLAMBAT BANGUN!</p>
<p>“Wait a minute Maricel, WAIT!!!, teriak saya sambil berlari menuju pintu dan membuka pintu untuk Maricel.</p>
<p>“OH MY GOD, MARICEL. WHAT TIME IS IT??!! Tanya saya pada Maricel.<br />
“Tussie, are you just wake up? It’s 5.00 o’clock. We have to go now! Kata Maricel.<br />
“OH MY GOD! Ok Maricel wait for me..just five minutes, ok. I just change my clothes.” Kata saya sangat panik.<br />
“Ok, I will go downstairs. I’ll check if Van already wake up or not,” kata sahabat saya yang berasal dari Filipina itu.</p>
<p>Saya seperti gila! Saya hanya mencuci muka dan menyikat gigi sekenanya. Mengganti baju dan celana, membawa tas ransel yang sudah dipersiapkan, memakai sweater tipis, mantel, syal, dan siap berangkat!</p>
<p>Hanya dalam waktu lima menit, saya sudah siap dan berlari ke lantai satu. Di lantai satu, Maricel dan Van sudah menunggu saya.</p>
<p>“Come on Tussie, we have to run. It takes about 15 minutes to Osloer Strasse, and we have to take the U-Bahn at 05.20.” kata Maricel.<br />
Oh ya, Osloer Strasse adalah stasiun kereta bawah tanah terdekat dari apartemen kami. Dan U-Bahn adalah sistem kereta api bawah tanah di Jerman.</p>
<p>Di tengah udara dingin, kami berlari-lari mengejar U-Bahn. Ini memang musim panas di Jerman. Tapi angin utara selalu saja menghembuskan udara dingin yang membuat menggigil, terutama pagi hari seperti ini.</p>
<p>Matahari merajai negara-negara khatulistiwa seperti Indonesia. Saat ini saya merindukan kehangatan Indonesia yang selalu ada sepanjang tahun. Dimana saya bisa berjalan-jalan dengan kaus oblong satu lapis, memakai celana pendek dan sendal jepit. Tapi kini, saya harus berlari-lari mengejar U-Bahn dengan kaus, sweater, mantel dan syal. Sungguh tidak praktis.</p>
<p>Kami tiba di Osloer Strasse pukul 05.17. Petunjuk waktu di stasiun menuliskan kereta bernomor U9 yang menuju Rathaus Steglitz akan datang 3 menit lagi. Ah..tepat pada waktunya!</p>
<p>***</p>
<p>Cerita Terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/menuju-louvre-seperti-robert-langdon-dan-sophie-nevieu/" target="_blank">Menuju Louvre, Seperti Robert Langdon dan Sophie Neveu</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/12/nyaris-tidak-ke-paris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat di Pernikahan Tussie dan Reza</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2010/01/04/nasihat-di-pernikahan-tussie-dan-reza/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2010/01/04/nasihat-di-pernikahan-tussie-dan-reza/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 07:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya dan Reza sudah menikah selama 20 hari. Hari ini juga, saya tiba-tiba ingin menuliskan nasihat-nasihat pernikahan yang kami terima ketika proses penikahan. Saya ingin membaginya pada siapa saja yang ingin membaca. Saya ingin menulisnya agar saya selalu ingat. Mudah-mudahan ketika nanti rumah tangga kami mengalami masalah, kami bisa terus mengingat nasihat-nasihat ini dan Insya Allah pernikahan kami tetap kuat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-288" title="akad kecil" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2010/01/akad-kecil-300x224.jpg" alt="akad kecil" width="300" height="224" /><strong>Hari ini saya dan Reza sudah menikah selama 20 hari. Hari ini juga, saya tiba-tiba ingin menuliskan nasihat-nasihat pernikahan yang kami terima ketika proses penikahan. Saya ingin membaginya pada siapa saja yang ingin membaca. Saya ingin menulisnya agar saya selalu ingat. Mudah-mudahan ketika nanti rumah tangga kami mengalami masalah, kami bisa terus mengingat nasihat-nasihat ini dan Insya Allah pernikahan kami tetap kuat.</strong></p>
<p>Setidaknya, ada dua ustadz yang memberikan nasihat pernikahan pada saya. Ustadz pertama adalah Ustadz Anwar Sanusi. Ustadz Anwar memberi nasihat dalam acara pengajian di rumah saya. Dia meminta saya untuk selalu berkata manis pada suami, kelak nanti ketika kami sudah menikah.</p>
<p>“Jangan memanggil suami kamu dengan namanya. Panggillah dia dengan panggilan sayang. Seperti Nabi Muhammad memberi julukan yang indah pada Siti Aisyah, yaitu Humaira. Humaira berarti wanita yang pipinya kemerah-merahan. Sekecil apapun, jangan berkata kasar pada suami, berlemah lembutlah kepadanya,” katanya ketika itu.</p>
<p>Meskipun ini nasihat kecil, tapi saya tahu penerapannya tidaklah semudah yang dibayangkan.</p>
<p>Nasihat lain yang masih membekas hingga saat ini adalah nasihat dari Ustadz Syaiful Naumin. Ustadz Syaiful Naumin memberi nasihat kepada saya dan Reza, hanya beberapa menit setelah kami dinyatakan sah sebagai suami dan istri.</p>
<p>Dia berkhutbah cukup panjang, tapi ada satu cerita yang membuat saya hampir saja menitikkan air mata. Ketika dia berkisah tentang pernikahan-pernikahan Nabi Muhammad, setelah malaikat Izrail menjemput salah satu dari mereka lebih dulu. Saya dan Reza tidak bisa mengingat persis kata per kata dari khutbah itu. Tapi, kira-kira seperti ini intinya.</p>
<p>Setelah kematian Nabi Muhammad, konon salah seorang sahabat Nabi bertanya pada Aisyah,</p>
<p>“Apa yang bisa kamu kenang dari Rasulullah?”</p>
<p>Aisyah terdiam sesaat, kemudian dia menjawab,<br />
“Rasulullah tidak pernah memanggil saya dengan nama saya. Rasulullah selalu memanggil saya dengan sebutan sayang. Selama menikah, Rasulullah tidak pernah berkata dan berperilaku kasar pada saya,”</p>
<p>Kemudian Ustadz Syaiful Naumin berkata pada Reza,<br />
“Ananda Reza, jika suatu saat nanti Allah berkehendak engkau dipanggil lebih dulu daripada ananda Tussie, saya ingin agar nanti Tussie bisa berkata tentang dirimu, seperti yang Aisyah katakan tentang Rasulullah.”</p>
<p>Kemudian Ustadz Syaiful Naumin melanjutkan cerita tentang Nabi Muhammad setelah Khadijah meninggal dunia. Konon hingga beberapa tahun setelah kematian Khadijah, Nabi Muhammad masih sering terkenang akan istri pertamanya itu. Nabi seringkali menyebut nama Khadijah.</p>
<p>Siti Aisyah yang saat itu sudah menikah dengan Rasulullah pun terbit rasa cemburunya. Dia berkata pada Nabi,</p>
<p>“Ya Rasulullah, bukankah Khadijah hanya seorang wanita tua? Mengapa engkau selalu mengingatnya?”</p>
<p>Mendengar ucapan Aisyah, wajah Nabi Muhammad merah padam. Dengan menahan amarah, dia berkata pada Aisyah.</p>
<p>“Tidak. Dia bukan sekedar wanita tua. Khadijah selalu ada di samping saya. Ketika orang lain tidak percaya pada apa yang saya katakan, hanya Khadijah yang mempercayai saya. Ketika semua orang mencemooh saya, hanya Khadijah yang mendukung saya dengan seluruh harta, jiwa dan raganya.”</p>
<p>Lalu Ustadz Syaiful Naumin berkata pada saya,</p>
<p>“Ananda Tussie, jika suatu saat nanti Allah berkehendak engkau dipanggil lebih dulu daripada Ananda Reza, saya ingin ananda Reza mengatakan hal yang sama tentang dirimu, seperti yang dikatakan Rasulullah tentang Khadijah.”</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2010/01/04/nasihat-di-pernikahan-tussie-dan-reza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

