<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tussie&#38;Reza&#039;s Weblog &#187; Praha</title>
	<atom:link href="http://www.tussie-reza.com/tag/praha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tussie-reza.com</link>
	<description>Let&#039;s make heaven on earth</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 04:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gallery: Prague</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/11/03/prague/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/11/03/prague/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 08:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[You should know, why I really love this city :-)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Tussie Ayu</p>
<p>You should know, why I really love this city <img src='http://www.tussie-reza.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
	<script type="text/javascript">
	var flashvars = {photosXmlFile: "http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/flash-photo-gallery/1257236592_540x770_Prague.xml", configXmlFile: "http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/flash-photo-gallery/1257236592_540x770_Prague.xml"};
	var params = {scale: "noscale"};	
	swfobject.embedSWF("http://www.tussie-reza.com/wp-content/plugins/flash-photo-gallery/gallery.swf", "FPG_41", "100%", "770", "6.0.0", "expressInstall.swf", flashvars, params);
	</script>
	<div id="FPG_41">
		<p><a href="http://www.adobe.com/go/getflashplayer"><img src="http://www.adobe.com/images/shared/download_buttons/get_flash_player.gif" alt="Get Adobe Flash player" /></a></p>
	</div>
<p>Cerita terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/" target="_blank">Praha, Lebih Indah dari Impian</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/" target="_blank">Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/" target="_blank">Charles Bridge yang Kesohor</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">Kota Tua Paling Indah di Dunia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/11/03/prague/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Tua Paling Indah di Dunia</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 08:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Kami sudah tiba di penghujung Charles Bridge yang terkenal. Lalu saya kembali membuka peta andalan. Sejak awal saya ditunjuk sebagai pembaca peta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian IV dari IV tulisan)</p>
<p><strong>Kami sudah tiba di penghujung Charles Bridge yang terkenal. Lalu saya kembali membuka peta andalan. Sejak awal saya ditunjuk sebagai pembaca peta. Di rombongan ini, memang saya yang paling bisa membaca peta. Padahal kemampuan saya membaca peta masih kalah jauh dibandingkan tunangan saya.</strong></p>
<p>Dari peta itu, terlihat bahwa kota tua tidak terlalu jauh dari Charles Bridge. Kami memutuskan untuk ke kawasan kota tua hanya dengan berjalan kaki, sambil menikmati keindahan arsitektur abad pertengahan.</p>
<p>Kawasan kota tua memang tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 30 menit berjalan kaki, kami sudah tiba di kawasan yang mencengangkan ini. Baru kali ini saya lihat dalam hidup, bangunan tua yang begitu banyak dan sungguh berkesan gothic. Ternyata yang saya lihat selama ini di sepanjang sudut Kota Praha belum seberapa tua dan indah dibandingkan bangunan-bangunan yang ada di Kawasan ini.</p>
<p>Saya ternganga memandang keindahannya. Seandainya rahang saya bisa jatuh, mungkin saat itu dia sudah terlepas dari engselnya. Bilal dan Van tak berhenti mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya seperti “ckckckckkck” atau “Wow” atau “Beautiful..amazing!”. Abhi mengatakan, “God, I love this city”. Sedangkan Rish dan Beatrice sudah sejak tadi tak henti-hentinya berfoto.</p>
<p>Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin mereka bisa membangun gedung dan menara-menara tinggi sejak abad ke-13. Tidak hanya megah, elemen-elemen detail di setiap bangunan dibuat sangat presisi. Ukiran-ukiran dan patung dibuat dengan sangat rinci.</p>
<p>Sela-sela bangunan itu menciptakan gang-gang sempit. Jika hari sudah malam, bisa dipastikan kawasan ini terlihat menyeramkan. Karena itulah selalu ada mitos dan cerita-cerita hantu di setiap kota tua.</p>
<p>Tapi untunglah saat ini musim panas. Musim panas di Eropa menyediakan sinar matahari yang panjang. Matahari mulai merekah sejak pukul 03.30 pagi dan terbenam pukul 21.30. Kami punya banyak cahaya matahari saat ini, kami punya waktu yang panjang untuk menjelajahi Praha.</p>
<p>Kemudian sampailah kami pada landmark kota tua di Praha, yaitu “astronomical clock”. Astronomical clock ini adalah jam atau penunjuk waktu pertama di dunia, diciptakan tahun 1490 dan masih berfungsi hingga saat ini.</p>
<div id="attachment_140" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-140" title="astronomical clock" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/astronomical-clock-225x300.jpg" alt="Astronomical clock" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Astronomical clock</p></div>
<p>Tidak seperti jam yang ada seperti saat ini, “astronomical clock” berukuran raksasa. Dia menempel pada sebuah menara tinggi, sehingga kita bisa melihatnya dari kejauhan. Angkanya ada 24, bukan 12 seperti jam pada saat ini. Selain itu, di jam ini ada jarum yang bergambar matahari dan bulan. Jarum yang bergambar matahari menunjuk pada arah matahari. Dan jarum berbentuk bulan menunjuk pada arah bulan.</p>
<p>Tak jauh dari astronomical clock, terdapat sebuah alun-alun. Kalian pernah melihat video clip lagu “Lucky” Jason Mraz dan Colbie Caillat? Ya! Video clip itu mengambil lokasi di alun-alun ini! I’m really lucky to be here! Saya dan teman-teman lalu melompat-lompat dan berteriak-teriak saking senangnya. Jangan pikir kami gila, karena kami tidak sendiri. Banyak bule backpacker yang juga melakukan hal seperti kami.</p>
<div id="attachment_141" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-141" title="alun2" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/alun2-300x225.jpg" alt="Horeee..patung yang ada di video clip &quot;Lucky&quot;" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Horeee..patung yang ada di video clip &quot;Lucky&quot;</p></div>
<p>Kami merasa telah melakukan suatu keberhasilan karena sudah menginjakkan kaki di salah satu kota tercantik di bumi. Praha memang kota yang lebih indah daripada impian. Mengunjunginya adalah pengalaman berharga yang tidak cukup hanya satu kali!</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_142" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-142" title="team" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/team-300x165.jpg" alt="The Team (from left to right: Sehrish Wasif, Muhammad Bilal, Cao Do Van, Me, Abhinay Dey, Beatrice Obwocha)." width="300" height="165" /><p class="wp-caption-text">The Team (from left to right: Sehrish Wasif, Muhammad Bilal, Cao Do Van, Me, Abhinay Dey, Beatrice Obwocha).</p></div>

<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/" target="_blank">Praha, Lebih Indah dari Impian</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/">Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/">Charles Bridge yang Kesohor</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Charles Bridge yang Kesohor</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Kami sedikit kehilangan arah ketika menuju Charles Bridge, tapi saya tidak pernah bosan mengagumi penglihatan saya. Betapa genius manusia-manusia Eropa menciptakan arsitektur.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian III dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Kami sedikit kehilangan arah ketika menuju Charles Bridge, tapi saya tidak pernah bosan mengagumi penglihatan saya. Betapa genius manusia-manusia Eropa menciptakan arsitektur. </strong></p>
<p>Kami berjalan kaki cukup jauh, hingga saya sedikit lelah. Lalu saya mampir di sebuah toko pizza dan membeli vegetarian pizza. Uhm..ukuran pizza Eropa memang jumbo. Hanya membeli sepotong saja sudah cukup mengenyangkan perut Asia saya. Saya lalu sibuk menggigiti pizza itu sambil berjalan keluar dari toko.</p>
<p>Abhi, teman saya yang berasal dari India kemudia memanggil saya,<br />
“Tussie, let’s go! We are very near to Charles Bridge,” katanya.</p>
<p>Saya lalu melangkahkan kaki keluar dari toko. Dan betapa terperanjatnya saya melihat pemandangan yang hanya beberapa meter dari tempat saya berdiri. Sebuah jembatan tua berwarna kelabu membelah sungai yang dalam dan lebar. Jembatan itu menancapkan dengan kokoh kaki-kakinya dalam sungai yang mengalir deras. Di sisi kiri dan kanannya berbaris patung-patung raksasa. Patung-patung itu berwajah sendu, meratapi perjalanan Isa yang hendak disalib.</p>
<p>Saya tercengang, lalu berkata pada Abhi,<br />
“Abhi, is this the real Charles bridge?”<br />
Abhi tersenyum, lalu berkata,<br />
“Yes, Tussie..This is the real Charles Bridge.”</p>
<p>Belum habis saya terpukau, sayup sayup terdengar alunan musik dari terompet, mengalunkan lagu indah yang tidak saya mengerti. Lalu saya berjalan mengikuti arah suara itu. Suara itu berasal dari jembatan yang menghubungkan dua buah kastil, tepat di depan Charles Bridge. Saya lalu menengadahkan kepala ke atas. Di jembatan itu terlihat tiga orang punggawa kerajaan, lengkap dengan baju, topi dan sepatu khas abad pertengahan. Mereka meniupkan terompet, bagaikan menyambut raja dan ratu yang akan datang ke kastil mereka.</p>
<p>Sekejap saya merasa bagaikan puteri dari negeri yang jauh, dan datang mengunjungi kerajaan ini. Lalu pengawal-pengawal kerajaan ini datang menyambut saya. Tapi pakaian saya jauh dari kesan puteri-puteri di negeri dongeng, jadi saya sudah cukup puas mendengarkan mereka bermain terompet saja.</p>
<p>Lalu dimulailah perjalanan menyusuri Charles Bridge. Charles Bridge (dalam bahasa Cek disebut Karlův most) mulai dibangun pada 1357, saat kepemimpinan Raja Charles IV. Jembatan ini selesai dibangun pada abad ke-15. Panjangnya 516 meter dan lebarnya hampir 10 meter. Terdapat 30 patung besar di sepanjang Charles Bridge.</p>
<div id="attachment_134" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-134" title="entering charles bridge" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/entering-charles-bridge-300x225.jpg" alt="Entering Charles Bridge" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Entering Charles Bridge</p></div>
<p>Seperti kebanyakan bangunan abad pertengahan, arsitekturnya bergaya baroque. Pada abad ke-15, Charles Bridge adalah penghubung utama antara Kastil Praha dan Kawasan kota tua.</p>
<p>Ketika memulai perjalanan menapaki Charles Bridge, saya melihat Museum Frans Kafka di bawah jembatan. Abhi lalu memekik,</p>
<p>“That’s Frans Kafka’s Museum!!! We have to go there!!!”</p>
<p>Tapi saat ini hari sudah sore. Saya memperkirakan, Museum itu sudah tutup. Kami lalu memutuskan untuk menyusuri Charles Bridge dan kawasan kota tua saja.</p>
<p>Sepanjang Charles Bridge, banyak sekali penjual-penjual kaki lima. Kebanyakan dari mereka menjual anting-anting, kalung dan gelang yang terbuat dari kaca berwarna warni. Lalu ada juga seniman jalanan yang melukis langsung wajah-wajah siapapun yang mau membayarnya.</p>
<p>Tapi yang paling menarik adalah atraksi tuan Alex Omb Karena baru kali ini saya melihat langsung atraksi musisi gelas-gelas kaca. Tuan Alex Omb memainkan musik dari barisan gelas-gelas kaca. Gelas itu berisikan air, isi airnya berbeda-beda. Ada yang hanya berisi sedikit saja air, ada juga yang diisi hampir penuh. Melalui gelas-gelas itu, Tuan Alex Omb memainkan berbagai musik klasik macam Pour Elise, Symphony Number 9, Eine Kleine Nacht Music, dan banyak lagi. Suara musik itu begitu syahdu, seperti cuaca hari ini yang sedikit mendung. Ah, seandainya tunangan saya berada di sini saat ini…sempurnalah semuanya!</p>
<div id="attachment_135" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-135" title="charles bridge" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/charles-bridge-300x300.jpg" alt="Charles Bridge (Image by: Laura Padgett on Flickr)" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Charles Bridge (Image by: Laura Padgett on Flickr)</p></div>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/" target="_blank">Praha, Lebih Indah dari Impian</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/" target="_blank">Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">Kota Tua Paling Indah di Dunia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 05:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu hujan rintik-rintik. Tapi sama sekali tidak menyurutkan hasrat untuk berpetualang. Saya hampir saja bersedih, karena hujan menyambut kami di Praha. Saya memandang pada butir-butir hujan yang jatuh di jendela Hostel Prague One, berdoa pada Tuhan agar hujan segera berlalu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian II dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Sore itu hujan rintik-rintik. Tapi sama sekali tidak menyurutkan hasrat untuk berpetualang. Saya hampir saja bersedih, karena hujan menyambut kami di Praha. Saya memandang pada butir-butir hujan yang jatuh di jendela Hostel Prague One, berdoa pada Tuhan agar hujan segera berlalu.</strong></p>
<p>Sambil menunggu hujan berhenti, saya mengelilingi hostel yang menjadi persinggahan kami akhir pekan itu. Hostel Prague One adalah penginapan murah yang sangat nyaman dan bersih. Hostel tidak sama dengan Hotel. Hostel adalah tempat bermalamnya para backpacker. Di hostel, kita harus berbagi kamar dengan orang lain.</p>
<p>Hostel Prague One ini menyediakan satu buah kamar besar untuk delapan orang. Rombongan kami terdiri dari enam orang, masih ada sisa dua tempat tidur yang kosong. Kami harus rela berbagi kamar dengan orang lain, jika ada yang mau menyewa dua tempat tidur kosong itu.</p>
<p>Meski harus berbagi kamar dengan banyak orang, namun Hostel ini sangat nyaman. Tempat tidur empuk, selimut bersih, kamar mandi bersih, dan tentunya dilengkapi dengan air hangat. Namun jangan harap ada berbagai fasilitas hotel seperti handuk, sabun dan shampoo. Kita harus membawa sendiri perlengkapan pribadi. Maklum, harga yang ditawarkan sangat murah untuk ukuran Eropa, hanya € 20 (Rp 290.000) per malam untuk satu orang.</p>
<p>Untunglah hujan sore itu tidak terlalu lama. Kami lalu berkemas, memakai mantel dan tidak lupa membawa payung. Dengan bersemangat, kami menyusuri jalanan di kota ini. Hampir seluruh jalan yang kami lewati adalah bebatuan. Khas sekali jalanan Eropa dari abad pertengahan. Jalan batu ini jarang saya temui di Berlin. Jadi saya sangat menikmati berjalan di atasnya sambil memperhatikan dengan seksama. Saya mereka-reka berapa usia jalan ini? Sudah berapa ribu kaki yang melewatinya?</p>
<p>Tujuan pertama adalah kastil Praha atau dalam bahasa setempat disebut Pražský hrad. Untuk masuk ke kastil ini, kita bisa memilih paket 2 jam dengan harga 250 koruna atau 6 jam dengan harga 350 koruna. Jika dibayar dengan Euro, harganya € 14 atau sekitar Rp 203.000! Sungguh mahal, kami hampir saja lemas. Tapi selalu ada harga khusus untuk pers. Dengan menunjukkan kartu pers, kami hanya perlu membanyar 10 koruna untuk 2 jam kunjungan, atau Rp 5.800 saja <img src='http://www.tussie-reza.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_127" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-127" title="prague castle" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/prague-castle1-300x198.jpg" alt="Kastil Praha (Image by: Jacob Johan on Flickr)" width="300" height="198" /><p class="wp-caption-text">Kastil Praha (Image by: Jacob Johan on Flickr)</p></div>
<p>Saya dan teman-teman lalu bergegas untuk menjelajahi kastil tua ini. Dari kejauhan, Pražský hrad bagaikan Hogwarts yang saya saksikan di film Harry Potter. Bangunan itu luar biasa besar, warnanya kelabu kehitaman karena dimakan usia.</p>
<p>Ketika memasuki halamannya yang luas, kami disambut oleh air mancur tua lengkap dengan patung-patung yang mengelilinginya. Sesi foto pun tiba, saya berfoto-foto di setiap sudut kastil ini.</p>
<p>Kastil Praha ini termasuk salah satu kastil terbesar dan tertua di dunia. Pertama kali dibangun pada abad ke-9, tepatnya tahun 870 Masehi! Terdapat empat gereja, empat istana, lima taman dan delapan bangunan lainnya dalam kompleks ini. Satu hari penuh dijamin tidak akan cukup untuk mengelilinginya. Raja-raja Eropa memang sangat dimanjakan oleh kemewahan. Kemewahan gila-gilaan ini juga saya saksikan di kompleks kastil di Potsdam, Jerman.</p>
<p>Mengapa saya menyebutnya kemewahan yang gila? Karena semua kemewahan ini dibayar mahal oleh rakyat. Raja menikmati kesenangan dunia, sementara rakyat membanting tulang untuk kesenangan Rajanya. Kalian pasti sudah pernah membaca bagaimana Istana Versailles di Perancis dibangun di atas kesengsaraan rakyatnya. Begitu pula yang terjadi pada Kastil Praha dan Kastil Potsdam di Jerman. Sungguh, saya lebih memilih kesederhanaan yang wajar daripada kemewahan berlebihan yang mengorbankan rakyat.</p>
<p>Usai berkeliling di sekitar Kastil Praha, saya dan Van memasuki Basilica of St. George yang berada dalam kompleks kastil ini. Gereja-gereja di Eropa selalu membuat saya bergidik. Bangunannya selalu gelap, gothic, dan selalu ada peti jenazah para pendeta yang pernah mengabdi di dalamnya. Lukisan-lukisan di dalamnya indah dan berkesan mistis, seolah-olah mereka hidup dan menatap saya.</p>
<p>Selain kemewahan kastil dan gereja, ada hal lain yang menarik disini, yaitu pertokoan souvenir di kompleks Kastil Praha. Toko-toko penjual souvenir adalah bangunan kecil yang menyerupai gubuk. Pintunya sungguh pendek, mirip rumah para kurcaci. Bagi orang-orang yang berbadan tinggi, harus menunduk agar tak terbentur pintu bagian atas.</p>
<p>Souvenir yang dijual juga pastinya menggugah hasrat para penggila belanja. Ada satu set sendok dan cangkir yang terbuat dari perak, seperti yang saya lihat pada film-film bersetting abad pertengahan. Ada toko barang antik yang menjual alat musik kusam dan berdebu. Barang-barang antik itu sepertinya berasal dari waktu yang bahkan nenek kita belum diciptakan. Ada juga toko yang menjual sulaman-sulaman halus dan berwarna warni.</p>
<p>Tapi saya dan Van, teman saya yang berasal dari Vietnam, tentu saja tidak membeli apapun dari toko-toko ini. Kantong kami tidak cukup tebal untuk membelinya. Tapi ada satu toko yang akhirnya membuat kami belanja bagai orang kelaparan. Nama toko itu adalah “Manufaktura”. “Manufaktura” adalah toko yang menjual kosmetika “handmade” alami. Ada satu rak yang khusus menjual kosmetika berbahan dasar bir seperti sabun, shampoo, lotion dan beraneka macam perawatan tubuh lainnya. Menurut penjualnya, bir sangat baik bagi kulit. Tapi atas dasar keagamaan, saya tidak berani membelinya. Saya akan menunggu fatwa MUI dulu mengenai kehalalan kometika dengan bahan bir ini.</p>
<p>Lalu kami menghampiri rak lain yang menjual sabun beraneka warna. Sabun ini berbentuk seperti potongan puding berwarna warni. Saya dan Van penasaran dan mencium baunya. Kami langsung membelalak, baunya sungguh segar dan wangi. Dengan kalap, Van lalu memenuhi kedua tangannya dengan sabun-sabun itu. Saya terkesima, Van adalah lelaki tulen..apa perlunya dia membeli sabun imut dan wangi itu? “This is for my friends,” katanya.</p>
<p>Uhmmm…Van yang laki-laki saja tidak bisa menahan diri kala melihat sabun-sabun menggemaskan itu. Lalu tanpa menunggu waktu lagi, saya pun mengikuti jejak Van untuk memenuhi tangan saya dengan sabun-sabun itu.</p>
<p>Saya dan Van memang cocok sekali, kami sama-sama senang belanja. Tapi Van lebih gila daripada saya. Dia membeli tanpa memikirkan harga. Meskipun suka belanja, tapi saya hanya membeli barang-barang yang saya perlukan dengan harga yang masuk akal. Kami pun keluar dari toko “Manufaktura” dengan berseri-seri dan menenteng tiga kantong belanjaan. Van menenteng dua kantong, dan saya satu kantong. Kami senang sekali, meskipun saya tidak yakin apakah bagasi saya tidak akan kelebihan beban saat kembali ke Jakarta.</p>
<p>Kami lalu berjalan kembali mengitari taman-taman di kastil. Ternyata kastil ini berada di atas bukit. Halaman belakangnya adalah lembah. Dari halaman belakangnya, kami bisa melihat pemandangan kota Praha yang romantis. Charles bridge yang terkenal itu terlihat dari kejauhan. Manusia-manusia terlihat menyemut di sekitar jembatan tua itu. Saya tidak bisa mempercayai penglihatan saya, saya sedang ada di Praha! Benar-benar ada di Praha, benar-benar seindah impian.</p>
<p>Puas mengelilingi kastil, saya dan Van lalu menemui teman-teman yang lain di gerbang depan. Tujuan kami selanjutnya adalah…CHARLES BRIDGE!!!</p>
<p>Kami lalu menaiki tram. Dengan berbekal peta, kami turun di salah satu sudut kota yang saya sudah lupa namanya. Praha benar-benar kota yang antik, sejauh mata memandang adalah bangunan-bangunan tua. Saat ini kami bahkan belum tiba pada kawasan kota tua, tapi semua sudut kota ini sudah cukup tua menurut saya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/" target="_blank">Praha, Lebih Indah dari Impian</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/" target="_blank">Charles Bridge yang Kesohor</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">Kota Tua Paling Indah di Dunia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Praha, Lebih Indah dari Impian</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 07:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[Praha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya hari itu datang juga. Saya dan lima orang teman saya yang berasal dari negara-negara berbeda pergi ke Praha. Praha adalah ibukota dari negara yang namanya paling membingungkan menurut saya, apakah namanya Cheszk, Cek Republik, Ceko, atau Ceska. Para ahli bahasa, tolong beri saya informasi nama baku negara ini dalam Bahasa Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p>(Bagian I dari IV Tulisan)</p>
<p><strong>Akhirnya hari itu datang juga. Saya dan lima orang teman saya yang berasal dari negara-negara berbeda pergi ke Praha. Praha adalah ibukota dari negara yang namanya paling membingungkan menurut saya, apakah namanya Cheszk, Cek Republik, Ceko, atau Ceska. Para ahli bahasa, tolong beri saya informasi nama baku negara ini dalam Bahasa Indonesia.</strong></p>
<p>Untuk sementara, saya akan menggunakan sebutan Republik Cek atau dalam bahasa Inggris Czech Republic. Saya tidak setuju dengan penggunaan sebutan “Ceko”, karena kata “Ceko” berasal dari “Ceko Slovakia”. “Cek-o Slovakia” berarti “Cek dan Slovakia”, jadi huruf “o” itu berarti “dan”. Kini Ceko Slovakia telah memisahkan diri, jadi sedikit aneh jika kita menyebutnya dengan sebutan “Ceko”, karena itu berarti “Cek dan”. Sebutan Ceska juga saya pikir tidak tepat, karena dalam suatu artikel yang pernah saya baca di Kompas, Ceska itu berarti “perempuan Cek”. Tidak adil jika kita mengeneralisasi negara ini menjadi sebuah negara perempuan. Jadi itulah alasan mengapa saya lebih senang menyebut negara ini sebagai Republik Cek.</p>
<p>Sebenarnya Praha tidak masuk dalam daftar kota yang ingin saya datangi selama dua bulan di Berlin. Sebelumnya, saya merencanakan akan berkunjung ke Amsterdam, Venice atau Roma dan Paris. Setidaknya saya ingin mengunjungi tiga negara lain selain Jerman, yaitu Belanda, Italia dan Perancis.</p>
<p>Tapi ternyata tiket pesawat dari Berlin-Amsterdam dan Berlin-Paris cukup mahal. Saya pikir, saya tidak punya cukup uang untuk ke Paris dan Amsterdam sekaligus. Saya harus memilih salah satu saja di antara kota-kota mahal itu. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke Paris. Karena sejak lama saya ingin sekali ke Museum Louvre, museum terbesar di dunia. Sebagai pengganti Amsterdam, saya memutuskan untuk pergi ke Praha. Karena Republik Cek adalah negara yang paling dekat dengan Berlin, berbatasan langsung dengan Jerman di sebelah timur.</p>
<p>Pada hari Sabtu, 4 Juli 2009, kami berangkat ke Praha. Perjalanan dimulai pukul 08.30 pagi waktu Berlin. Kami memutuskan untuk naik bus EuroLines dari terminal bus internasional di Kaisserdamm. Kami memutuskan naik bis karena harganya jauh lebih murah daripada naik pesawat. Selain itu, saya bisa menikmati keindahan pedesaan Eropa dengan bus.</p>
<p>Kami nyaris saja terlambat tiba di terminal. Maklumlah, kami semua berasal dari bangsa pendatang yang bepergian di Berlin hanya bermodalkan peta. Kami tiba di terminal bis internasional di Kaisserdam pukul 08.20, hanya menyisakan waktu sepuluh menit sebelum bis berangkat. Tidak ada istilah ngaret dalam sistem transportasi di Jerman, siapapun yang terlambat datang, akan ditinggal tanpa ampun!</p>
<p>Jadi ketika kami memasuki bis, hampir semua kursi telah diduduki. Kami ber-6 terpaksa duduk terpisah. Saya sendiri kebagian duduk di kursi yang bersebelahan dengan toilet. Untuk pertama kalinya selama di Jerman, saya mencium bau busuk dari dalam toilet. Persis sama seperti bau busuk toilet di bis antar kota Indonesia. Saya berdoa semoga aroma itu tidak mengocok isi perut saya dan memaksanya untuk keluar. Kemudian saya memejamkan mata dan tidur. Lebih baik tidur sebelum aroma ini meluluhlantakkan isi perut saya.</p>
<p>Tiga jam pertama perjalanan, saya lebih banyak tidur. Tidak banyak pemandangan yang bisa dinikmati dari jalan tol Autobahn. Saya baru bangun ketika bis memasuki kota Dresden.</p>
<p>Dresden adalah kota yang senyap. Dari kejauhan, saya bisa melihat jembatan dan bangunan-bangunan tua yang indah. Bis kami berhenti selama 15 menit untuk istirahat makan siang. Saya pikir Dresden adalah kota yang indah, tapi itu sebelum saya tiba tiba di Praha. Kelak, definisi tentang keindahan kota tua dalam benak saya akan meningkat beberapa derajat setelah mengunjungi Praha.</p>
<p>Mendekati perbatasan dengan Republik Cek, saya melihat barisan rumah pedesaan yang berbaris di lembah perbukitan. Ingatan saya melayang pada masa kecil, dimana saya dengan rakus melahap buku-buku Enid Blyton dan Astrid Lindgren. Kiranya Blyton dan Lindgren tidak berbohong dengan apa yang mereka gambarkan dalam buku cerita anak-anak itu.</p>
<p>Rumah-rumah pedesaan di Eropa memiliki setidaknya satu cerobong asap. Atapnya berwarna warni ceria. Ada beberapa jendela yang menyembul di loteng berbentuk segitiga lancip. Tidak ada pagar dan pembatas dengan para tetangga. Padang rumput dan pebukitan menjadi bagian dari halaman rumah. Benar-benar seperti tempat tinggal kurcaci di dongeng Nyonya Blyton.</p>
<p>Ketika memasuki perbatasan Republik Cek, mata saya semakin terbelalak. Rumah-rumah pedesaan di Dresden belum seberapa indahnya dibandingan dengan rumah di pinggiran Republik Cek. Saya tidak terlalu memahami, sedang berada di mana saat itu? Tapi saya perkirakan, saya sedang berada di daerah Aussig.</p>
<p>Rumah-rumahnya mirip dengan yang ada di Dresden. Namun rumah-rumah ini memiliki sungai di halaman depannya, dan ada pebukitan di halaman belakangnya. Di sela pepohonan di atas bukit, berbaris rapi rumah-rumah mungil. Apa yang terjadi jika saya mengetuk pintunya? Mungkinkah yang membukakan pintu adalah seorang peri, kurcaci, atau jembalang?</p>
<p>Setelah lima jam perjalanan dengan bis, akhirnya saya tiba di stasiun Florenc (baca: Florens) Praha. Saya dan teman-teman senang sekali! Kami ada di Praha!!! Saya dan teman-teman lalu melompat-lompat kegirangan dan berfoto ria.</p>
<div id="attachment_112" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-112" src="http://www.tussie-reza.com/wp-content/uploads/2009/10/praha-1-300x225.jpg" alt="Terminal bis Florenc, Praha" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Terminal bis Florenc, Praha</p></div>
<p>Dari stasiun, saya naik kereta bawah tanah Metro A, hanya satu pemberhentian ke stasiun Muzeum. Kemudian kami keluar dari stasiun bawah tanah dan menuju halte tram terdekat. Hanya satu pemberhentian, tibalah kami di halte Husinecka. Kami berjalan sekitar 300 meter dari Halte Husinecka.</p>
<p>Struktur tanah di Praha didominasi pebukitan. Kami pun berjalan menyusuri jalan bebatuan yang naik dan turun. Lalu sampailah di Hostel Prague One, tempat kami menginap. Hanya sekedar meletakkan barang-barang, kami lalu memulai perjalanan. Siap untuk bertualang lagi!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/12/kastil-praha-kemewahan-gila-khas-eropa/">Kastil Praha, Kemewahan Gila Khas Eropa</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/13/charles-bridge-yang-kesohor/" target="_blank">Charles Bridge yang Kesohor</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/10/16/kota-tua-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">Kota Tua Paling Indah di Dunia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/10/09/praha-lebih-indah-dari-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

