<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tussie&#38;Reza&#039;s Weblog &#187; Vancouver</title>
	<atom:link href="http://www.tussie-reza.com/tag/vancouver/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tussie-reza.com</link>
	<description>Let&#039;s make heaven on earth</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 04:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Salju Pertama</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/salju-pertama/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/salju-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 08:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[pertama]]></category>
		<category><![CDATA[salju]]></category>
		<category><![CDATA[Vancouver]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Aku buka pintu geser di teras lantai dua. Aku tahu apa yang ada di luar, karena teras itu tertutup kaca tembus pandang. Aku buka pintu itu untuk merasakan udaranya. "Srekkk…", pintu itu aku geser sampai habis. Langsung saja aku merasakan dingin. Tak hanya di wajah, dingin itu seperti masuk ke tulang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Reza Reflusmen</p>
<p>Vancouver, 14 Desember 2008</p>
<p><strong>Aku buka pintu geser di teras lantai dua. Aku tahu apa yang ada di luar, karena teras itu tertutup kaca tembus pandang. Aku buka pintu itu untuk merasakan udaranya. &#8220;Srekkk…&#8221;, pintu itu aku geser sampai habis. Langsung saja aku merasakan dingin. Tak hanya di wajah, dingin itu seperti masuk ke tulang.</strong></p>
<p>Dingin yang seperti ini baru pertama kali aku rasakan. Definisi dingin ini jauh berbeda dengan yang biasa kita kenal di Jakarta. Inilah musim dingin yang sebenarnya, musim dingin dengan salju.</p>
<p>Salju pertama yang aku sentuh, salju pertama di Vancouver tahun ini. Di luar pintu itu, semua terlihat putih. Atap-atap rumah di sekitar wisma ini juga jadi putih tertutup salju. Puncak-puncak pohon berhias bunga es. Pohon-pohon berdaun putih. Putih, juga karena salju.</p>
<p>Aku pegang salju itu dengan tangan terbuka. Awalnya, aku pikir salju akan terasa seperti bunga es di kulkas rumah opa. Opa punya satu kulkas uzur yang menghasilkan bunga es. Tapi ternyata salju lebih dingin daripada bunga es di kulkas rumah opa.</p>
<p>Aku lemparkan sedikit es yang kugumpalkan di tanganku. Kurang dari satu menit, tanganku terasa beku. Jari-jari mengeras. Tubuh tropis ini belum tahan dengan dinginnya es. Aku langsung masuk ke wisma dan menyiramkan air hangat ke tangan beku ini.</p>
<p>&#8220;Apa rasanya ya orang yang hipotermia? Apa rasanya frostbite? Apa rasanya terperangkap salju di kutub sana?&#8221;</p>
<p>Hari ini, 14 Desember 2008, aku menyentuh salju untuk pertama kali. Kalau tulisan ini dibaca lagi di masa nanti, pasti akan konyol sekali. Inilah kisah norak manusia tropis melihat dan merasakan salju pertama.</p>
<p>Malam tadi, salju turun cukup lebat. Aku mengintip dari jendela, angin meniupkan salju ke ranting-ranting pohon, atap-atap rumah, hingga seluruh kota berselimutkan jubah putih. Sesekali salju berputar dan menari di udara. Malam tadi, salju membuat Vancouver lebih terang dari biasanya. Malam ini malam yang putih.</p>
<p>Aku nyalakan komputer untuk memeriksa suhu tadi malam. Suhu udara malam itu minus dua. Besok bisa jadi suhu akan menjadi minus lima atau minus delapan.</p>
<p>Pagi ini aku berencana untuk pergi keluar. Mudah-mudahan salju pertama ini tidak bikin aku terpeleset di jalan. Jalanan akan licin karena salju yang mencair meninggalkan es membeku. Itu yang berbahaya dan bisa membuat orang terjatuh.</p>
<p>Sesuai peraturan di sini, pemilik properti bertanggung jawab atas trotoar atau lahan publik yang ada di depan atau sekelilingnya. Trotoar memang merupakan milik pemerintah kota. Namun tanggung jawab untuk membersihkan salju adalah tanggung jawab si pemilik properti. Bila salju di trotoar tak dibersihkan dan ada kecelakaan, maka orang yang celaka berhak menuntut pemilik properti tempat terjadinya kecelakaan.</p>
<p>Meski halaman wisma tak ada trotoar, tapi aku tetap keluar untuk mencari garam karena jalan keluar di wisma tertutup salju. Garam? Ya, cara agar jalanan tidak licin ketika bersalju adalah dengan menaburkan garam di atasnya.</p>
<p>Tadi aku sudah keluar membeli sekotak besar garam. Bus yang tadi kutumpangi berjalan lebih perlahan daripada biasanya. Supir harus siaga penuh. Jalan lebih licin daripada saat hujan. Ceroboh sedikit saja dalam memutar kemudi atau pijakan gas yang tak cermat, alamat celaka bisa datang.</p>
<p>Tadi aku menapak trotoar lebih perlahan daripada biasanya. Sesekali aku rasakan es yang membeku di jalan. Licin. Mudah-mudahan sepatu yang aku beli bisa menjalankan kegunaan terbaiknya, menjaga aku dari licinnya jalan dengan karet-karet tebal di solnya.</p>
<p>Syukurlah tadi aku sampai di wisma dengan baik. Hanya sempat terpeleset kecil di trotoar, tapi tak sampai jatuh. Es-es di wisma sudah aku bersihkan dengan sekop yang ada di garasi. Garam sudah kutabur. Jalan masuk wisma sudah tak lagi licin.</p>
<p>Uhmmm…kapan-kapan kita nikmati salju ini bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/salju-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Idul Adha di Vancouver</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/idul-adha-di-vancouver/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/idul-adha-di-vancouver/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 08:14:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our journeys]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[Vancouver]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku di Vancouver merayakan hari raya kurban. Kamu di Indonesia udah satu hari lebih cepat. Tadi aku bangun pagi di tengah udara yang masih dingin. Mata aku sebenarnya masih pengen menutup.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Reza Reflusmen</p>
<p>Vancouver, 8 Desember 2008</p>
<p>met pagi ayang,&#8230;.</p>
<p>Selamat Hari Raya Idul Adha. Eid Mubarak.</p>
<p>Hari ini aku di Vancouver merayakan hari raya kurban. Kamu di Indonesia udah satu hari lebih cepat. Tadi aku bangun pagi di tengah udara yang masih dingin. Mata aku sebenarnya masih pengen menutup. Pas bangun tidur, aku liat ke cermin. Rambut aku acak-acakan ga karuan. Mata masih sipit, malas banget untuk kena sinar lampu neon. Mata aku masih belekan. Cuma satu mata yang aku buka saat liat cermin. Mata yang satu lagi masih menutup. Dia masih ingin di tempat tidur. Masih pengen berselimut lagi.</p>
<p>Tapi sekarang udah pukul 06.15. Aku harus bangun dan solat. Trus aku harus siap-siapin hal kecil sebelum orang-orang berdatangan ke wisma buat Sholat Ied di sini.</p>
<p>Aduh, bibir aku masih sakit. Pecah-pecah. Udara di sini makin tidak bersahabat, apalagi buat bibir aku. Padahal waktu sampai di Vancouver, aku sehat wal afiat. Ngga ada bibir pecah-pecah. Hidung aku juga harus &#8220;srottt&#8230;srroottt&#8221;. Aku masih pilek. Kalo lagi sakit gini, males banget mau ngapa-ngapain. Tapi daripada orang-orang KJRI datang dan aku masih acak-acakan, akhirnya aku ambil handuk, mandi, bersiap-siap.</p>
<p>Hari ini aku pakai baju koko warna biru. Baru sekali baju koko ini aku pakai selama aku magang. Sebulan lebih dia hanya ada di koper aku. Baju itu agak kusut, tapi karena bahannya licin kusutnya jadi ngga keliatan. Aku pakai dulu kaos singlet supaya bisa menutup badan agar ngga lebih kedinginan karena baju koko ini tipis. Setelah siap-siap, jam 7 bel di luar berbunyi. Orang-orang dari KJRI datang dan kita siap-siapin hal-hal yang diperlukan.</p>
<p>Di sini suasana hari raya kurban beda. Ngga ada suara takbir. Ngga ada potong kambing. Ngga ada suara ramai di mesjid. Semua kegiatan hari raya, kali ini aku siapkan. Jadi diplomat ngga cuma urusan diplomasi dan negosiasi. Tapi juga melaksanakan kegiatan keagamaan seperti yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia di Tanah Air. Akhirnya setelah siap-siap, aku dan jamaah laki-laki takbiran. Kita bergantian memegang mic untuk mengumandangkan takbir.</p>
<p>Hari ini ada yang bikin mengejutkan. Pas aku lagi takbiran, tiba-tiba ada satu jamaah yang aku kenal. Dia baru datang dan duduk satu shaf di belakang aku. Itu si Amie! Tiba-tiba dia  nongol di wisma dan senyum-senyum , cengengesan. Sombong banget tuh anak, datang ke Vancouver tapi ngga ngabarin aku. Kayaknya dia mau ngagetin aku. Dia datang ke kota ini, katanya, hari Minggu dinihari. Ikut kenalannya. Tapi hari Rabu atau Kamis dia balik lagi ke Toronto.</p>
<p>Pendek cerita, hari ini aku harus melakukan service yang lain diluar foreign service. hehehhhehhe&#8230;.Tapi ini udah jadi kewajiban. Udah sejak di Pusdiklat, emang aku akan melakukan hal-hal seperti sekarang. Sekarang aku sudah menjalaninya. Dulu di pusdiklat, aku udah belajar memandikan jenazah dan mengafani. Mungkin suatu saat, latihan itu akan aku praktekkan.</p>
<p>Sekarang hidung aku masih meler. Aku mau minum vitamin dan cari makan sekarang. Harus banyak istirahat sekarang. nanti aku lanjutin lagi e-mailnya. Have a nice day ayang. aku mau cari makan dulu niy ama si amie.</p>
<p>luv you :-*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/23/idul-adha-di-vancouver/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimpi</title>
		<link>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/</link>
		<comments>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 10:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[our stories]]></category>
		<category><![CDATA[berlin]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Vancouver]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tussie-reza.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hidup, saya punya beberapa kelompok bermain. Salah satu kelompok bermain saya yang asyik adalah geng Cisarua. Geng Cisarua adalah kumpulan wartawan amatir dan katro dari Jurnal Nasional.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tussie Ayu</p>
<p><strong>Dalam hidup, saya punya beberapa kelompok bermain. Salah satu kelompok bermain saya yang asyik adalah geng Cisarua. Geng Cisarua adalah kumpulan wartawan amatir dan katro dari Jurnal Nasional. Kami kebetulan masuk di Jurnal Nasional sebagai angkatan pertama. Kami sempat bersama-sama mengikuti pelatihan jurnalistik di Cisarua, Puncak. Jadi kami sering menyebut diri sebagai Geng Cisarua, tapi nama lain kami adalah Geng (sok) Keren.</strong></p>
<p>Akhirnya, tidak semua angkatan pertama bisa tetap sering hang out hingga sekarang. Dari 21 orang angkatan pertama, hanya beberapa yang masih sering berkumpul. Selain saya, anggota geng gosip ini adalah Meita Annisa, Okky Puspa Madasari, Grathia Pitaloka, Cininta Analen, Suci Dian Hayati, Dwi Fitria, Ika Karlina Idris, Januarti Sinnara Tjajadi dan Nunik Triana.</p>
<p>Kami adalah kumpulan cewe-cewe cerewet bersuara besar. Kami juga terkadang sok intelek dan sok feminis. Kami adalah perempuan-perempuan pemimpi, yang punya banyak kemauan dan selalu memiliki energi yang berlebihan (kecuali Cininta). Kesamaan-kesamaan dan kekacauan-kekacauan itu yang membuat kami selalu kompak.</p>
<p>Dalam urusan memilih lelaki, kami juga sangat cerewet. Satu hal yang kami sepakati, kami harus memilih lelaki yang mempunyai mimpi besar dan mau berusaha untuk menggapai mimpinya.</p>
<p>Hal ini juga yang saya lihat ada pada RJ. Sejak SMA, RJ punya mimpi untuk menjadi diplomat. Dia sudah memetakan jalan hidupnya, bahkan sejak remaja lain belum tahu akan menjadi apa kelak. Dia memulai perjalanan mimpinya dengan kuliah di Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran.</p>
<p>Selama menjadi wartawan, saya pernah liputan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Australia dan Perwakilan Uni Eropa di Indonesia. Saya pernah beberapa kali mewawancarai atau sekedar ngobrol dengan para diplomat dari dalam dan luar negeri. Percaya atau tidak, saya melihat ada embrio seorang diplomat dari dalam diri RJ.</p>
<p>Secara umum, para diplomat itu selalu bersikap ramah, tenang dan sopan. Diplomat juga punya satu ciri umum yang khas, mereka pintar sekali ngeles dari pertanyaan-pertanyaan tajam wartawan. Seburuk apapun hubungan Indonesia dan negara mereka, mereka selalu membuat seolah-olah “Everything is alright. Indonesia and my country have a long and strong relationship”.</p>
<p>Nah, semua tanda-tanda umum para diplomat itu ada di dalam diri RJ. Saya berani bertaruh, tidak ada pekerjaan lain yang lebih cocok buat RJ, selain menjadi diplomat.</p>
<p>Sekitar dua tahun kedekatan kami, sudah banyak yang terjadi. Perubahan terbesar adalah kepindahan RJ dari Jurnal Nasional. Beberapa bulan kemudian, saya juga keluar dari Jurnal Nasional dan pindah ke tvOne.</p>
<p>Akhir 2007, RJ mengikuti serangkaian tes di Departemen Luar Negeri. Tes pertama, tes kedua, tes ketiga dan tes keempat bisa dilewati dengan lancar.</p>
<p>Tapi tes terakhir adalah wawancara. Saya tahu benar bagaimana kualitas RJ. Saya yakin, dia bisa melewati tes-tes ini. Tapi ada satu kekurangannya yang saya khawatirkan. RJ seringkali kesulitan untuk menyampaikan apa yang dia pikirkan. Dia acapkali kesulitan untuk merangkai kata, sekedar untuk menyampaikan isi kepalanya. Dia berbicara dengan tidak terstuktur. Padahal bagi diplomat, tentu saja dibutuhkan kemampuan komunikasi interpersonal yang baik.</p>
<p>Malam sebelum tes wawancara, saya berakting layaknya Duta Besar Indonesia untuk Finlandia (malam itu cuma Finlandia yang terlintas di benak saya). Saya menanyainya tentang isu-isu hubungan internasional yang saya baca di koran. Betapa terkejutnya saya, ternyata RJ gelagapan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.</p>
<p>“Kamu tuh besok mau tes, kok aku tanyain begitu aja ngga tau siy?”<br />
“Ganti aja pertanyaannya,”<br />
“Tapi itu kan isu-isu internasional yang udah ada di koran-koran. Emangnya kamu ngga baca koran?”<br />
“Baca, tapi aku ngga baca yang itu,”<br />
“Ya udah, aku ganti ya pertanyaannya. Oiya, kamu tuh kalo ngomong yang terstruktur donk. Kamu mulai dari pokok pikirannya, terus kamu jelasin, kenapa kamu berpendapat seperti itu. Harus urut ngomongnya, jangan lompat-lompat,”<br />
“Uhmmmmm….Yang…aku ngantuk. Aku mau tidur aja,”<br />
“Apaan? Boong banget kamu ngantuk! Bilang aja kamu males belajar,”</p>
<p>Saya memang duta besar gadungan yang sangat galak. Malam itu ditutup dengan pertengkaran yang tidak selesai. Tapi kekhawatiran saya terbukti esok harinya. RJ diwawancara oleh tiga orang Duta Besar. Dan ini menjadi tes paling berat baginya.</p>
<p>Usai wawancara, dia datang ke kosan saya. Langkahnya gontai, wajahnya berminyak, rambutnya awut-awutan, jasnya sudah kusut. “Total mess!” Itu kalimat pertama yang dia ucapkan pada saya.</p>
<p>Dia belum makan siang. Saya lalu menemaninya makan siang di restoran A&amp;W di Rawamangun. Beribu kata yang saya ucapkan tidak mampu mengobati kekecewaannya pada diri sendiri. Biasanya, RJ selalu bisa melahap dua porsi makanan. Tapi hari itu, tidak banyak makanan yang bisa melewati kerongkongannya. Mozza burger yang empuk, tebal, dengan daging asap crispy yang terselip di dalamnya terasa hambar. Langkah RJ sudah begitu lunglai. Dia menyangka impiannya menjadi diplomat semakin samar.</p>
<p>Tapi kegontaian itu segera terbayar tuntas pada 3 Desember 2007. Ketika itu, saya sedang berada di Bali untuk meliput United Nation Frameworks Convention on Climate Change (UNFCCC). Saya sedang mengetik berita di ruang pers. Lalu ada sebuah sms masuk ke HP saya. Isinya cuma satu kalimat.</p>
<p>“Ayang, aku lulus.”</p>
<p>***</p>
<p>Akhir Januari 2008, RJ menjejakkan kaki di Gedung Pancasila yang bersejarah di Jalan Pejambon. Lebih dari 6o tahun lalu, Radjiman Wedyodiningrat, R.P. Soeroso, Hibangase Yosio, Soekarno, Moh. Hatta, M. Yamin dan Wachid Hasyim pernah melangkah di gedung ini untuk meletakkan pondasi awal bangsa ini.</p>
<p>Mereka tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dan kemudian bermetamorfosis menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Mereka meninggalkan jejak bersejarah di gedung ini, yaitu Undang-undang Dasar 1945. Dan kini, RJ datang ke gedung yang sama sebagai calon diplomat.</p>
<p><em>One big step for his dream</em></p>
<p>Setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Pendidikan Deplu (Sekdilu) selama hampir satu tahun, <em>the new crème de la crème</em> harus siap untuk magang selama 3 bulan di perwakilan Republik Indonesia di seluruh dunia. RJ ditempatkan di Vancouver, Canada.</p>
<p>Pada 28 Oktober 2008, RJ bertolak ke Vancouver.</p>
<p>***</p>
<p>Saya punya banyak cita-cita, dan setiap hari cita-cita saya semakin beranak-pinak. Jika saya berhasil meraih satu cita-cita, keinginan lain akan muncul, dan saya akan selalu sibuk untuk mengejar mimpi-mimpi itu.</p>
<p>Ketika memasuki tahun 2008, saya punya resolusi “harus bisa mendapatkan beasiswa, atau minimal fellowship ke luar negeri”. Sepanjang tahun itu, saya mengajukan tiga fellowship ke Jerman, Amerika, dan Italia. Tapi tidak ada satupun yang berhasil. Ketika memasuki tahun 2009, saya hampir saja putus asa pada cita-cita itu. Resolusi saya ketika memasuki tahun 2009 adalah “menjadi anak yang baik”.</p>
<p>Tapi Tuhan memang suka menguji kesabaran. Awal 2009, saya merasa sangat kesepian karena RJ masih berada di Vancouver. Saya mulai berpikir untuk mengejar mimpi 2008 yang belum selesai. Saya kembali mencari fellowship yang akan membawa saya ke Eropa, tanah impian.</p>
<p>Saya menemukan satu fellowship yang sangat saya butuhkan untuk mendukung pekerjaan saya saat ini. Short course itu bernama &#8220;Multimedia and Online Journalism&#8221;, diadakan oleh <em>International Institute for Journalism of InWent</em> yang berpusat di Bonn, Jerman.  Tapi kursus singkat ini akan diadakan di Berlin.</p>
<p>Kali ini, saya tidak ingin mengulangi kesalahan. Saya mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan dengan super teliti. Persiapan untuk melengkapi berkas-berkas itu tidak kurang dari satu bulan. Sepulangnya RJ dari Vancouver, saya meminta RJ memeriksa application letter saya berulang-ulang, hingga saya pikir application letter itu sudah sempurna.</p>
<p>Setelah saya yakin semua sudah sempurna, saya lalu menyerahkan berkas-berkas itu ke Kedutaan Jerman di Jakarta, sekaligus tes wawancara. Saya berangkat dari kantor 1,5 jam sebelum waktu wawancara yang ditentukan. Saya pikir semua sudah sempurna dan berjalan sesuai rencana. Ternyata Tuhan masih mau bermain-main dengan saya. Tuhan tidak akan memberikan kenikmatan semudah itu, masih harus ada drama yang harus dilakoni.</p>
<p>Ketika sedang menyetir sendiri ke Kedutaan Jerman, tiba-tiba kaca pintu mobil saya lepas dari rel-nya. Saya tidak bisa memarkir mobil dengan kaca yang tidak bisa ditutup, saya juga sudah tidak bisa kembali ke kantor atau kosan untuk memarkir mobil. Saya hanya punya waktu sekitar 30 menit lagi sebelum waktu yang ditentukan untuk tes wawancara.</p>
<p>Yang terpikir saat itu adalah memanggil bantuan “911”, yaitu RJ. RJ saat itu sedang berada di kantornya di Pejambon. Saya meminta dia untuk datang dan mengambilalih mobil saya. Dia benar-benar menjadi dewa penyelamat saya. Entah bagaimana caranya, beberapa menit kemudian kami sudah bertemu di Bundaran HI. RJ langsung mengantarkan saya ke Kedutaan Jerman, dan membawa mobil saya.</p>
<p>Saya tiba di Kedutaan Jerman tepat waktu dan tes wawancara berjalan lancar. Sore harinya, RJ mengantarkan mobil saya ke kosan dengan kondisi sudah “sehat”.</p>
<p>Sekitar satu bulan kemudian, saya menerima surat di e-mail saya. Surat itu datang dari Berlin, yang menyatakan saya diterima sebagai satu-satunya peserta dari Indonesia dalam “Multimedia and Online Journalism Course”.</p>
<p><em>One big step for my dream<br />
</em><br />
Pada 5 Juni 2009, saya bertolak ke Berlin, Jerman.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Cerita terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/pertama-kali/" target="_blank">Pertama Kali</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/katakan-cinta/" target="_blank">Katakan Cinta</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/kencan/" target="_blank">Kencan</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/telepati/" target="_blank">Telepati</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/mencari-hari-yang-baik/" target="_blank">Mencari Hari yang Baik</a></li>
<li><a href="http://www.tussie-reza.com/2009/08/20/cinta-datang-dan-pergi-tapi-dia-tidak-pernah-pergi/" target="_blank">Cinta Datang dan Pergi, Tapi Dia Tidak Pernah Pergi</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tussie-reza.com/2009/08/19/mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

